Tampilkan Sepasang Gay, Iklan Cathay Pacific Tuai Kontroversi

Sesuatu yang nyeleneh memang dapat dengan cepat mendapatkan perhatian, mulai dari penampilan hingga iklan. Mungkin sebagaian dari Anda masih ingat dengan perkara iklan salah satu maskapai asal Asia Tenggara, AirAsia yang mempublikasian sebuah iklan yang diterjemahkan oleh warganet mengandung isu seksis – padahal ini merupakan cara yang ditempuh pihak AirAsia dalam menyebar-luaskan promo yang kala itu terjadi pada akhir tahun 2017.

Baca Juga: Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen

Kali ini ada lagi maskapai yang tersandung kasus-nyaris-serupa adalah flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (20/5/2019), beberapa minggu yang lalu Cathay Pacific baru saja merubah slogan mereka dari “Life Well Travelled” menjadi “Move Beyond”.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, cara nyeleneh merupakan upaya yang bisa dibilang ampuh untuk mendongkrak nilai pamor, dan cara inilah yang dilakukan oleh Cathay Pacific dalam mempromosikan slogan terbarunya ini.

Dalam salah satu kampanye iklan, pihak Cathay Pacific menampilkan sepasang gay (homoseksual) yang tengah berjalan di pinggir pantai sembari berpegangan tangan. Tidak hanya itu, Cathay Pacific juga menambahkan tagline ”Move Beyond Labels”.

Jika digambarkan lebih mendalam lagi, kedua orang penyuka sesama jenis ini berbalutkan pakaian necis, mengenakan jas, namun bertelanjang kaki. Satu orang di sebelah kiri mengenakan baju warna biru tua, sedangkan yang satunya lagi mengenakan setelan hitam-hitam.

Sama seperti di Indonesia, tentu saja iklan yang dilayangkan oleh pihak maskapai ini mengundang kontroversi dan bahkan dilarang untuk tayang di Hong Kong. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh surat kabar South China Morning Post, beberapa waktu yang lalu.

Bahkan, bisa dibilang ini merupakan satu-satunya iklan dari Cathay Pacific yang tidak ditayangkan dimanapun. Kendati menuai kontroversi, namun pihak Cathay Pacific merasa tidak bersalah karena pihaknya mendukung kesetaraan gender.

“Tidak peduli siapa Anda, ketika Anda datang untuk bekerja di Cathay Pacific … kami ingin Anda menjadi diri Anda sendiri dan merasa benar-benar nyaman dan menjadi bagian yang produktif dari tim dan itulah yang kami perjuangkan,” ujar CEO Cathay Pacific, Rupert Hogg.

Baca Juga: Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong

Iklan dari Cathay ini memang sejatinya akan menimbulkan polemik yang menyeret berbagai pihak, salah satunya adalah para pelaku LGBT. Bagi negara yang masih memiliki pandangan ‘tertentu’ terhadap para pelaku LGBT, mungkin mereka akan berpikiran negatif tentang adanya iklan ini – berbanding terbalik dengan orang yang memiliki pemikiran terbuka, dimana mereka akan berpikir mengenai hak-hak dari pelaku LGBT ini.

Buntut Kemacetan Parah di Jakarta, PT KAI Terapkan (Lagi) “Berhenti Luar Biasa” untuk 12 KA

Buntut dari pengalihan arus lalu lintas di sekitaran Jalan MH. Thamrin berimbas pada kemacetan parah di Jakarta. Persisnya pada Senin, 27 Mei lalu, banyak warga Jakarta yang mengaku terdampak kemacetan parah hingga berjam-jam lamanya. Merespon hal tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1, kembali melakukan rekayasa operasi kereta api, terlebih dampak kemacetan merembet hingga Jalan Medan Merdeka Timur yang menjadi lokasi Stasiun Gambir.

Baca juga: “Berhenti Luar Biasa,” Inilah Kebijakan dari PT KAI Saat Ada Kejadian Khusus

Mengantisipasi pengalihan arus lalu lintas selanjutnya, untuk meminimalisir risiko keterlambatan para calon penumpang kereta api (KA) yang terjebak macet dan kesulitan menuju Stasiun Gambir, PT KAI Daop 1 Jakarta kembali memberlakukan kebijakan rekayasa pola operasi Berhenti Luar Biasa (BLB).

Rekayasa pola operasi pemberangkatan KA ini akan dilakukan pada Selasa (28/5) mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.35 WIB, berlaku mulai keberangkatan KA 10 (Argo Dwipangga) tujuan Solo sampai dengan KA 34 (Argo Parahyangan) tujuan Bandung. Total, ada 12 KA keberangkatan dari Stasiun Gambir, yang akan direkayasa pola operasi pemberangkatannya.

“Ke-12 KA ini tetap akan berangkat dari Gambir sesuai jadwal, namun khusus hari ini ada penyesuaian pola operasi, yaitu bila biasanya KA yang berangkat dari Stasiun Gambir tidak berhenti di Stasiun Jatinegara, hari ini akan berhenti di Stasiun Jatinegara untuk proses naik-turun penumpang,” ucap Eva Chairunisa, Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, Selasa (28/5/2019).

Berikut daftar nama-nama kereta api yang memberlakukan rekayasa pola operasi pemberangkatan Stasiun Gambir yang berhenti juga di Stasiun Jatinegara untuk proses naik penumpang.

Rekayasa pola operasi ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar calon penumpang KA tidak tertinggal KA. Untuk itu, PT KAI Daop 1 Jakarta menghimbau agar calon penumpang dapat memperkirakan waktu perjalanannya menuju stasiun dengan jadwal keberangkatan KA. Namun perlu diketahui bahwa di Stasiun Jatinegara tidak disediakan loket pembelian tiket KA.

Baca juga: Sambut Mudik Lebaran, PT KAI Luncurkan Kereta Sleeper “Luxury 2” Generasi Baru

“Kami sudah menyiagakan petugas untuk membantu pelayanan penumpang di Stasiun Jatinegara dan mengingatkan kembali agar calon penumpang memastikan nama yang tertera pada tiket/kode booking sesuai dengan nama yang tertera pada kartu identitas,” tutup Eva.

Bandara Schiphol Sandang Predikat WeChat Pay Smart Airport

Bandara Schiphol yang berada di Amsterdam, Belanda dikabarkkan telah menjadi bandara pertama di Eropa yang menyandang status sebagai WeChat Pay Smart Airport. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, WeChat merupakan salah satu platform media sosial asal Negeri Tirai Bambu yang tengah naik naik daun. Dengan menyandang status tersebut, kelak penumpang akan merasakan dua fitur anyar, WeChat Mini Program dan WeChat Pay di bandara yang terletak 9 km sebelah barat daya dari Amsterdam ini.

Baca Juga: Cina Adaptasi Sistem Pembayaran Tiket Kereta Bawah Via Smartphone Android

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dfnionline.com (23/4/2019), pengenalan WeChat Mini Program ini akan memberikan pengguna aplikasi tersebut akses informasi terkait bandara secara praktis, mencakup layanan belanja berbagai macam produk, mulai dari kecantikan, mode, jam tangan, perhiasan, hingga buah tangan khas Negeri Kincir Angin. Tidak berhenti sampai di situ saja, para pengguna juga bisa memesannya terlebih dahulu hingga melakukan pembayaran dimuka dengan menggunakan fitur WeChat Pay.

Zona pengalaman yang coba ditargetkan WeChat ternyata tidak hanya sebatas berada di dalam bandara saja, melainkan di luar bandara, aplikasi yang dikembangkan oleh Tencent ini juga memungkinkan para pelancong dan pedagang yang berdomisili di Tiongkok untuk siap menerima pembayaran via WeChat Pay.

Di tahun 2018, Bandara Schiphol Amsterdam mencatat ada sekitar 500.000 penumpang yang berdomisili di Cina dan angka tersebut bisa dibilang cukup tinggi. Menanggapi hal ini, Direktur Produk & Layanan Konsumen Tanja Dik mengatakan, “untuk memenuhi kebutuhan penumpang kami, kami berinvestasi dalam pengembangan dan implementasi konsep-konsep baru dengan fokus pada kenyamanan dan pengalaman pelanggan,”

Tanja Dik juga tidak menampik bahwa kemitraan yang terjalin di antara dua perusahaan beda benua ini patut untuk dibanggakan – terlebih predikat baru yang disandang oleh Bandara Internasional Schiphol.

Baca Juga: Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir

“Sebagai hasil dari kemitraan ini, kami memberi penumpang yang berdomisili di Cina layanan perjalanan yang mulus dan pengalaman berbelanja yang disesuaikan melalui Program Mininya, seolah-olah mereka berada di Tiongkok,” terangnya.

Di lain pihak, Direktur Senior WeChatPay, Dave Fan meyebutkan bahwa pihaknya akan memperdalam smart solution yang coba dikemas di dalam WeChat Pay.

“Kami akan membawa inovasi Cina ke seluruh dunia, dan ini memungkinkan wisatawan Tiongkok untuk bepergian ke luar negeri dan menikmati gaya hidup cerdas,” ujar Dave.

 

Pelabuhan Jangkar Situbondo, Kondang Berkat Keberadaan Ojek Gendong!

Jawa Timur tak hanya punya Pelabuhan Ketapang ataupun Tanjung Perak, tetapi di Situbondo juga ada pelabuhan yang cukup terkenal dan memiliki keunikan dari yang lainnya. Ya, namanya Pelabuhan Jangkar yang menjadi pelabuhan utama dan tradisional di masa sekarang ini.

Baca juga: Ojek Gendong, Kerap Mendapat Cibiran Meski Kadang Dibutuhkan

Letaknya sekitar 35 km arah timur kota Situbondo dan berada di kecamatan Asembagus. Seperti yang sudah KabarPenumpang.com katakan diawal, Pelabuhan Jangkar memiliki keunikan yakni ojek gendongnya. Biasanya ojek gendong ini selalu menjadi pusat perhatian pemudik dikala musim Lebaran tiba.

Dirangkum dari berbagai laman sumber kapal yang bersandar dan berangkat dari Pelabuhan Jangkar tak hanya kapal ferry, tetapi kapal kayu jenis Kapal Layar Motor (KLM) tujuan Pulau Raas, Sapudi, Kangean dan Kalianget yang merupakan Kabupaten di Pulau Madura. Naiknya lonjakan penumpang yang mengguakan KLM, warga Pelabuhan Jangkar mendapat berkah sendiri apalagi penyedia jasa ojek gendong.

Pasalnya para penyedia jasa ojek gendong ini siap menggendong para pemudik dan bawaannya dari tepi pantai menuju perahu kecil yang disebut tambangan sejauh 30 meter dari bibir pantai. Setelah dari kapal kecil, para pemudik akan diantar ke KLM yang berada di perairan dalam, dan selanjutkan KLM membawa penumpang ke beberapa tujuan tersebut.

Mengapa harus naik ojek gendong? Sebab pemudik akan basah dan barang bawaan mereka pun terancam basah air laut. Ternyata bukan hanya orang dan barang bawaan mereka seperti tas, tetapi sepeda motor pun juga ikut digendong.

Karena tak mau basah inilah yang membuat penumpang KLM menyewa jasa ojek gendong. Tarif sekali naik ojek gendong ini pun tak mahal yakni sekitar Rp5 ribu, tetapi banyak juga penumpang yang memberikan lebih pada penyedia jasa sebagai tip tambahan membawa barang mereka.

Selain menjadi tempat bersandar dan berangkatnya kapal ferry, pelabuhan ini ternyata diminati masyarakat sekitar bukan hanya untuk mencari nafkah tetapi hiburan diri. Dimana masyarakat sekitar bisa menikmati hobi mereka seperti memancing, berjalan santai di pantai menunggu matahari terbenam hingga berenang.

Sebagai tempat ngabuburit atau waktu menunggu berbuka pun, Pelabuhan Jangkar juga cukup diminati. Meski begitu pada tahun 2012 silam, Pelabuhan Jangkar sempat ditutup dan tidak beroperasi selama enam hari.

Baca juga: Pelabuhan Srengsem, Aset PT KAI Tempat Sejenak Melepas Penat

Hal ini dikarenakan cuaca di tengah Selat Madura sedang tidak kondusif. Namun kembali buka setelah cuaca dipastikan normal dan kapal ferry maupun KLM bisa kembali beroperasi secara lancar. Satu hal lagi, dulunya penumpang yang naik kapal kayu sebelum ke KLM tidak mengenakan pelampung, tetapi kini kapal kayu melengkapi dengan pelampung untuk keamanan penumpang.

Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini

Pada tahun ini, produsen pesawat asal Eropa, Airbus akan merayakan hari jadinya yang ke-50, yakni bertepatan dengan 50 tahun peluncuran pesawat Airbus pada Mei 1969. Dari sejumlah tanda tangan pada MOU yang terjadi selama perusahaan ini berdiri, Airbus telah berkembang menjadi pusat produksi yang menjual berbagai pesawat komersial, helikopter, hingga peralatan pertahanan dan ruang angkasa, menjadikan Airbus menjadi salah satu roda bisnis terbesar di Eropa.

Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Pada tahun 1969 silam, pabrikan pesawat asal Eropa ini sukses ditaklukkan oleh pabrikan pesawat asal Negeri Paman Sam – Boeing, Lockheed dan McDonnell Douglas. Dalam momen kerja sama yang tampaknya mustahil untuk dilakukan hari ini, Jerman dan Prancis bersama-sama menandatangani kemitraan baru untuk bersama-sama mengembangkan pabrikan pesawat baru yang disebut Airbus – dan semua karir Airbus dimulai dari sana.

Diantara sekian banyak varian pesawat yang sudah dirancang oleh Airbus, ternyata varian A320-lah yang keluar sebagai pesawat Airbus yang ‘laku keras’ di pasar. Ini tercatat dari buku kas perusahaan yang mengatakan bahwa 78 persen pesanan yang masuk ke perusahaan pada tahun 2018 lalu adalah A320. Ya, seperti yang sudak diketahui bersama, armada A320 identik dengan penerbangan regional jarak pendek – menengah. Namun setelah dilakukan upgrade terhadapnya, maka kini Airbus A320 sudah bisa melakoni perjalanan jarak jauh sekalipun.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (23/5/2019), di tahun 2019 ini, Airbus mengirimkan pesawat ke-12.000nya ke maskapai asal Amerika, Delta Air. Tentu saja, merakit 12.000 unit pesawat dalam rentang waktu 50 tahun bukanlah perkara mudah dan sudah seyogyanya mendapatkan predikat sebagai sebuah lompatan besar bagi Airbus.

Jenis pesawat yang pernah dirakit Airbus. Sumber: Airbus

Namun sesungguhnya, yang paling fenomenal dari Airbus adalah gelar pesawat jet penumpang terbesar di dunia yang hingga saat ini masih disandang oleh A380 – kendati perusahaan sudah mengisyaratkan untuk menghentikan produksiannya. Pertama kali mengudara pada 27 April 2005 dan dua tahun berselang mulai melakukan operasi perdananya bersama Singapore Airlines – tepatnya pada 25 Oktober 2007.

Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Apabila di tanya, “seperti apa masa depan dari Airbus?” maka sesungguhnya tidak ada yang bisa menentukan nasib dari produksian pesawat ini. Kondisi perusahaan yang terus mengalami fluktuasi menjadi penanda bahwa perusahaan ini benar-benar hidup dan seolah enggan menyerahkan ceruk pasarnya kepada rival abadinya, Boeing.

Tersandungnya nama Boeing akibat dua kecelakaan maut yang melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines beberapa waktu yang lalu seolah jadi momentum yang sangat berharga bagi Airbus untuk membanjiri ‘buku pesanannya’.

Sambut Mudik Lebaran, PT KAI Luncurkan Kereta Sleeper “Luxury 2” Generasi Baru

Wow, bisa saja menjadi kata yang pertama kali keluar dari mulut penumpang atau orang awam setelah melihat kereta baru dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini karena, kehadiran kereta sleeper jenis terbaru untuk mudik Lebaran 2019.

Baca juga: Capai Okupasi 60 Persen, Luxury Sleeper Train PT KAI Terbukti Diminati Penumpang

Kereta sleeper ini dinamakan Luxury 2 dengan menghadirkan kesan elegan dimana kabin kereta dilapisi vinyl dan seluruh lantai berbalut dengan karpet. Fasilitas penumpang terlihat mewah dan elegan serta berbeda dari pendahulunya kereta sleeper luxury pertama.

Sebab kereta ini menghadirkan dua baris kursi elektrik yang bisa direbahkan hingga 140 derajat dan diputar 180 derajat serta ada penambahan kaki seperti kelas bisnis di pesawat. Satu gerbong kereta Luxury 2 berisikan 27 kursi (konfigurasi 2 – 1) yang juga dilengkapi dengan televisi, USB port untuk pengisian baterai pinsel dan train attendance button serta lampu baca.

Tak hanya itu, PT KAI juga memberi tambahan bantal, selimut, handuk wajah, makanan serta minuman sepanjang perjalanan penumpang. Berbeda dari sebelumnya, selain jumlah kursi, di kelas ini pun ada tambahan mini bar di dalam gerbongnya. Sehingga penumpang bisa menikmati makanan ringan dan minuman sepuasnya yang dilayani oleh pramugari cantik.

Adapun alasan Luxury 2 diluncurkan diungkapkan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro karena tingginya peminat kereta sleeper pada musim mudik Lebaran tahun 2018 lalu. Kereta Luxury 2 tersebut merupakan generasi terbaru kereta Luxury yang telah KAI rilis pada tahun 2018 lalu.

Terkait rute keberangkatan, kereta Luxury 2 dirangkaikan pada KA Argo Lawu rute Gambir – Solo Balapan pulang pergi (PP), KA Argo Dwipangga rute Gambir-Solo Balapan PP, KA Taksaka rute Gambir-Yogyakarta PP dan KA Gajayana rute Gambir-Malang PP.

“Minat masyarakat untuk menggunakan kereta Luxury generasi pertama sangat positif. Rata-rata okupansi kereta Argo Bromo Anggrek Luxury (rute Gambir-Surabaya Pasar Turi) mencapai 108 persen,” ungkap Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.co.id (26/5/2019).

Tingginya peminat kereta model sleeper, PT KAI membuka penawaran tarif tiket istimewa, yakni sebesar Rp750 per orang untuk keberangkatan 26 Mei 2019 hingga 26 Juni 2019. Pemesanan dapat dilakukan di aplikasi KAI Access, Website KAI, dan seluruh channel penjualan resmi KAI lainnya.

Baca juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?

“Kereta Luxury 2 merupakan bentuk inovasi KAI untuk meningkatkan layanan dan kenyamanan bagi pengguna KA. Kereta ini hadir untuk menjawab antusiasme masyarakat untuk menggunakan kereta dengan pelayanan istimewa. Dengan adanya Kereta Luxury 2 ini, kami berharap masyarakat dapat merasakan sensasi naik kereta dengan tingkat pelayanan dan kenyamanan yang lebih eksklusif,” jelas Edi.

Kemenhub Pastikan Boeing 737 MAX 8 Tak Ikut Layani Penerbangan Lebaran

Tak lama lagi, peningkatan arus mudik akan dijelang seiring dimulainya libur cuti bersama Lebaran 2019. Dan seperti biasa dengan meningkatnya trafik perjalanan, maka utilitas wahana transportasi akan melonjak di semua sektor. Seperti di segmen penerbangan, saat musim mudik Lebaran kerap kita dengar istilah extra flight alias penerbangan tambahan. Dengan bertambahnya penggunaan pesawat, tak sedikit netizen yang menyoroti masalah keamanan dalam penerbangan itu sendiri.

Baca juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?

Pertanyaan yang mengemuka dari netizen adalah, apakah armada Boeing 737 MAX 8 yang telah di-grounded oleh Kementerian Perhubungan sejak pertengahan Maret lalu, akan digunakan kembali sebagai wahana angkutan Lebaran? Tentu pikiran netizen berkecamuk, lantaran status grounded adalah larangan terbang sementara (temporary grounded).

Nah, guna member kepastian dan menenangkan calon pengguna jasa penerbangan, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menegaskan bahwa pesawat Boeing 737 MAX 8 masih dilarang terbang. Dengan demikian, pesawat tipe tersebut tetap tidak boleh digunakan untuk angkutan mudik dan balik Lebaran 2019.

“Boeing Max 8 tetap tidak diizinkan untuk terbang sekalipun akan ada puncak penerbangan jelang dan usai Lebaran,” ujar Menhub Budi Karya dikutip dari situs Merdeka.com (26/5). Menurut Menhub, maskapai diinstruksikan tetap tidak gunakan Max 8 sampai ada investigasi akhir dan tidak digunakan saat angkut mudik dan balik.

FAA (Federal Aviation Administration) telah menerbitkan Airworthiness Directive yang juga telah diadopsi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan telah diberlakukan kepada seluruh operator penerbangan Indonesia yang mengoperasikan Boeing 737 MAX 8.

Baca juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8

Saat ini, maskapai yang mengoperasikan pesawat jenis tersebut adalah PT Garuda Indonesia sebanyak 1 unit dan PT Lion Air sebanyak 10 unit. FAA menyampaikan akan terus berkomunikasi dengan Ditjen Hubud guna memastikan kondisi airworthy (laik terbang) untuk Boeing 737 MAX 8. Total sebanyak 146 unit pesawat Boeing 737 Max 8 milik berbagai maskapai di dunia, sampai saat ini dalam status temporary grounded.

Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?

Pada bulan Februari kemarin, tersiar kabar bahwa manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus akan menghentikan produksian jet penumpang terbesar di dunia saat ini, A380 pada tahun 2021 mendatang. Hingga periode Februari kemarin, tercatat Airbus hanya merakit 17 unit A380 yang tiga diantaranya akan dikirim kepada All Nippon Airlines (ANA), dan 14 sisanya akan dikirim kepada maskapai kenamaan asal Timur Tengah, Emirates.

Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Sebenarnya, industri dirgantara global sangatlah rumit untuk disederhanakan. Pada beberapa periode yang lalu, mungkin nama Airbus A380 muncul sebagai solusi untuk maskapai yang hendak melayani penerbangan jarak jauh dengan kapasitas angkut penumpang yang fantastis. Namun kehadirannya tidak sekonyong-konyong menjadikan A380 sebagai primadona di sektor aviasi karena setelah ditinjau lebih mendalam, sebenarnya A380 memiliki ongkos operasional yang cukup fantastis.

Di sini tampak, semakin maju jaman dan penambahan beragam teknologi di dalam sebuah pesawat, maka semakin rendah pula biaya operasinya, dan itu juga meliputi keandalan pesawat ketika beroperasi. Ambil contoh Airbus A380 yang ternyata memiliki biaya operasional per penumpang lebih rendah ketimbang Boeing 747 yang notabene telah menapaki langit terlebih dahulu ketimbang jet penumpang terbesar ini.

Atas alasan yang sama pula, sejumlah maskapai pada akhirnya menghentikan layanan A380 di masing-masing tubuh mereka. Ya, sekarang ini sudah banyak pesawat yang memiliki kapasitas angkut tidak sebesar Airbus A380 namun bisa merengkuh jarak yang sama – atau bahkan melebihi A380, contoh yang paling baru adalah Boeing 777X.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com, sudah sangat jelas bahwa di sini Airbus membutuhkan dana yang sangat besar untuk mengembangkan A380, dan mungkin berada di kisaran US$17 hingga 25 miliar. Hal ini semakin diperparah dengan kabar yang tersiar bahwa Airbus bahkan tidak balik modal dengan mengembangkan A380, dan wajar adanya jika pihak Airbus lebih memilih untuk menghentikan program ini – daripada mereka harus terus-terusan merugi akibat keuntungan yang belum kunjung datang.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Tapi pada akhirnya, kendati Airbus menghentikan program pengembangan dari A380, namun nama pesawat ini sudah kadung membekas di benak masyarakat dan akan tetap fenomenal.

 

Tingkat Pelecehan Seksual Tinggi, Kepolisian Jepang Rilis Aplikasi yang Bisa Teriak!

Anda masih ingat dengan istilah “Chikan” yang berarti pelaku pelecehan seksual di ruang publik secara terus menerus. Nah kali ini pihak berwenang di Jepang tidak hanya sebatas menggolongkan pria hidung belang ini ke dalam suatu kelompok Chikan saja, melainkan telah mengembangkan aplikasi smartphone untuk menghindari tindak pelecehan seperti yang sudah disebutkan di atas kembali terulang. Wah, kira-kira bagaimana keunggulan dari aplikasi tersebut, ya?

Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Patut diketahui terlebih dahulu, tindak pelecehan seksual di kereta Jepang ini marak terjadi ketika jam-jam sibuk (peak hour) dengan sasaran utamanya adalah kaum hawa. Nah ketika menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh pihak kepolisian Tokyo ini, maka diharapkan dapat menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Jepang.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/5/2019), aplikasi yang sudah diunduh terlebih dahulu di gadget ini nantinya akan mengeluarkan suara nyaring yang berbunyi, “hentikan!” dengan volume yang sangat keras ketika seseorang telah dilecehkan. Ini bertujuan untuk menarik perhatian dari penumpang yang ada di sekeliling korban dan dapat diharapkan dapat dengan mudah menangkap pelaku.

Tidak hanya itu, aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 237.000 kali ini juga akan mengeluarkan sebuah pesan yang bertuliskan, “Ada seorang pelaku tindak pelecehan seksual di sini, bisakah Anda membantu saya,”. Anda dapat menunjukkan pesan pengingat tersebut kepada penumpang lain sehingga Anda dapat perlindungan.

Lebih kerennya lagi, penggunaan aplikasi ini juga dapat mengirimkan tindak pelecehan terhadap operator layanan, karena ternyata hampir sama seperti di Indonesia, dimana korban enggan melaporkan tindakan yang sudah dialaminya kepada petugas kepolisian dengan dalih takut.

Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

“Hal ini selayaknya sinyal SOS yang diberitahukan kepada penumpang lain namun dengan gerakan tubuh yang minim – selayaknya memainkan ponsel seperti biasa,” ujar pejabat kepolisian, Keiko Toyamine.

Menurut data yang dicatat oleh Departemen Kepolisian Tokyo, ada sekitar 900 kasus pelecehan seksual yang terjadi di jaringan kereta bawah tanah Jepang. Diharapkan dengan dikomersialkannya aplikasi bernama Digi Police ini, maka secara perlahan angka pelecehan seksual di kereta Jepang dapat menurun.

 

 

Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling

Bagi pecinta transportasi yang juga penggemar miniatur, pasti senang melihat miniatur stasiun, terminal atau bandara. Tapi apa jadinya bila kesenangan tersebut dirusak oleh sekelompok orang dan ternyata pembuatan miniatur tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun?