Dari balik jendela kereta api biasanya tersimpan cerita yang menyenangkan dan menenangkan hati. Di perjalanan saat menggunakan kereta api terlihat banyak sekali lokasi yang ikonik dan menjadi daya tarik penumpang yang mengharuskan untuk melihat bahkan makin betah untuk terus memandang. Ya, perjalanan inilah yang membuat penumpang terus berada di tempat duduk seakan tak mau berpaling dari balik jendela.
jalur kereta api di Indonesia tak hanya menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Ada banyak jalur kereta api yang menawarkan pesona pemandangan alam nan begitu indah seperti persawahan, pegunungan, bahkan laut. Dengan beragamnya pemandangan indah tersebut, membuat perjalanan kereta api bukan sekadar perjalanan melainkan momen untuk berwisata menikmati pemandangan alam dari dalam jendela kereta api.
Sepanjang jalur kereta api di Pulau Jawa memiliki keberagaman pemandangan yang eksotis dan menawan. Seperti pada jalur kereta api Purwakarta-Padalarang yang melintasi salah satu jembatan besar yaitu Jembatan Cisomang. Jembatan ini merupakan yang tertinggi dan masih aktif di Indonesia dengan ketinggian hampir 100 meter.
Tak hanya sampai situ saja, kereta api juga melintasi Terowongan Sasaksaat yang merupakan terowongan kereta api terpanjang yang masih aktif di Indonesia dengan panjang mencapai 949 meter dan telah beroperasi sejak tahun 1903. Setelah melewati terowongan, penumpang kembali diajak merasakan beberapa jembatan yang dilewati hingga Stasiun Padalarang.
Tak hanya jalur di Jawa Barar, pesona pemandangan perjalanan kereta api juga tak kalah indah berada di Jawa Tengah. Jalur kereta api terindah di Indonesia yang wajib dicoba lainnya adalah jalur kereta api Prupuk-Purwokerto-Kroya. Jalur ini mulai dioperasikan pada rentang tahun 1916 hingga 1917 oleh Staatsspoorwegen (SS).
Lintasan antara Prupuk-Purwokerto didominasi pegunungan tepatnya Pegunungan Pembarisan dan kaki Gunung Slamet. Untuk jalur dari Purwokerto hingga Kroya merupakan lintas datar yang melintasi lembah Sungai Serayu. Jalur ini dioperasikan sebagai shortcut lintasan Jakarta-Yogyakarta-Surabaya agar tidak memutar terlalu jauh melalui Bandung.
Masih di Jawa Tengah, kini berpindah ke jalur utara (pantura). Jalur Pekalongan-Semarang memiliki pemandangan yang cukup beragam mulai dari persawahan, perkebunan, pedesaan, perkotaan, hutan, hingga tepi laut utara Jawa yang menjadi bintang utama jalur ini.
Jalur kereta api Pekalongan-Semarang mulai dioperasikan pada rentang tahun 1897-1898 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Semarang hingga Cirebon. Awalnya jalur ini merupakan lintasan trem/kereta api ringan dan mulai ditingkatkan kualitasnya menjadi jalur kereta api berat mulai tahun 1911.
Jalur antara Stasiun Batang hingga Stasiun Krengseng menjadi primadona jalur ini karena melintasi tepian laut utara Jawa. Beberapa kali bahkan jalur kereta api terlihat begitu dekat dengan laut. Bahkan terdapat Stasiun Plabuan yang menjadi satu-satunya stasiun kereta api di tepi laut di Indonesia yang masih aktif. Jalur di sekitaran Stasiun Plabuan sering dijadikan spot foto oleh para railfans dalam berburu kereta api.
Menuju timur Pulau Jawa, kini penumpang bisa merasakan keberagaman pemandangan unik saat naik kereta api. Ya, jalur Jember-Ketapang. Sesuai namanya, jalur kereta api ini menghubungkan wilayah Jember dengan ujung timur Jawa yaitu Banyuwangi. mulai dioperasikan pada rentang tahun 1897 hingga 1903 oleh Staatsspoorwegen (SS).
Awalnya jalur ini berakhir di Stasiun Banyuwangi Lama di kota Banyuwangi, tetapi pada 1985 mulai dibuka jalur baru dari Stasiun Kabat menuju Stasiun Banyuwangi Baru yang berlokasi dekat Pelabuhan Ketapang. Akhirnya jalur menuju kota Banyuwangi dinonaktifkan dan seluruh pelayanan difokuskan ke Stasiun Banyuwangi Baru yang saat ini telah berubah nama menjadi Stasiun Ketapang.
Saat melintasi Stasiun Garahan yang pada zaman dulu dikenal dengan makanan Pecel Garahannya. Tak lama, kereta mulai memasuki lintasan pegunungan dengan menyusuri Terowongan Garahan sepanjang 113 meter. Selanjutnya, kereta api semakin menderu melintasi hutan dan perbukitan Gunung Gumitir dengan melalui beberapa jembatan tinggi dan panorama kebun kopi di kejauhan.
Selepas Stasiun Kalibaru, jalur kereta api mulai menurun perlahan-lahan dan melintasi banyak kawasan persawahan dan perkebunan dengan Gunung Raung dan Gunung Ijen di kejauhan. Salah satu ciri khas dari jalur ini adalah terdapat banyak pohon kelapa yang nyiur melambai sehingga menambah eksotisme lintasan kereta api Jember-Ketapang.
Nge-Trip KA Serayu – Tiketnya Murah, Pemandangannya Pun Indah
