Sebagai stasiun tersibuk di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang, terlihat makin menjadi sorotan masyarakat teeutama di bagian fasilitas umum. Ya, sebagai bangunan cagar budaya yang kental dengan sejarahnya, Stasiun Semarang Tawang telah berhasil curi perhatian penumpang yang naik dan turun kereta api.
Selain melayani mobilitas masyarakat pengguna kereta api, tentu sangat diperhatikan pula pada fasilitas umum di stasiun tersebut, seperti pada toilet yang baru-baru tengah menjadi sorotan karena menampilkan keunikannya. Pemandangan yang berbeda pada area toilet bagian timur Stasiun Semarang Tawang ini, menyelipkan permainan kata yang membuat petunjuk sederhana itu terasa lebih menghibur.
Pada satu sisi papan tertulis, “MEN to the left because”. Sementara sisi lainnya memuat kalimat, “WOMEN are always right”. Ketika dua bagian itu dibaca sebagai satu rangkaian, muncullah humor sederhana, laki-laki ke kiri karena perempuan selalu benar.
Permainan tersebut memanfaatkan kata “right” yang dalam bahasa Inggris memiliki dua makna. Kata itu dapat berarti “kanan” sebagai penunjuk arah, sekaligus “benar” dalam konteks pernyataan atau pendapat. Di titik itulah fungsi papan informasi bertemu dengan cukup menggelitik bahkan humor.
Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang Luqman Arif menyebut pendekatan semacam itu merupakan bagian dari upaya KAI memperhatikan pengalaman pelanggan hingga ke detail-detail kecil di stasiun. Secara praktis, penumpang tetap mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Namun, cara penyampaiannya memberi pengalaman berbeda. Penumpang bukan hanya tahu ke mana harus berjalan, tetapi juga memperoleh momen kecil yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Menurutnya, papan tersebut menunjukkan bahwa informasi fungsional tidak harus selalu tampil kaku tetapi dikemas secara kreatif dan humanis. Harapannya, hal sederhana seperti ini dapat memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi pelanggan. Jadi, saat mencari toilet, pelanggan tidak hanya mendapatkan petunjuk arah, tetapi juga bisa tersenyum.
Menariknya, kalimat “Women are always right” sendiri bukanlah ungkapan yang memiliki satu pencetus atau satu peristiwa sejarah tertentu. Frasa tersebut lebih tepat dipahami sebagai produk budaya populer yang berkembang melalui humor domestik, media massa, dan berbagai bentuk plesetan bahasa.
Salah satu akar yang kerap dikaitkan dengan fenomena tersebut ialah slogan bisnis “The customer is always right”. Ungkapan itu dipopulerkan dalam dunia perdagangan pada awal abad ke-20, antara lain melalui tokoh peritel seperti Marshall Field dan Harry Gordon Selfridge.
Narasi semacam itu semakin akrab melalui film dan sitkom Barat pada paruh kedua abad ke-20. Sosok suami sering digambarkan memilih mengalah, mengangkat tangan, kemudian menjawab, “Yes, dear”. Belakangan, muncul pula ungkapan populer “Happy wife, happy life” yang memiliki semangat serupa.
Tentu, konteksnya lebih dekat dengan komedi daripada sebuah aturan kehidupan rumah tangga. Di sinilah ungkapan tersebut menjadi menarik bila dilihat dari perspektif sosial. Kalimat “perempuan selalu benar” memang terdengar seperti pujian. Perempuan seolah ditempatkan sebagai pihak yang memiliki intuisi lebih tajam, lebih peka, atau lebih mampu membaca situasi.
Namun, ketika temuan ilmiah dipindahkan menjadi kesimpulan bahwa satu gender “selalu benar”, persoalannya tentu menjadi jauh lebih kompleks. Kemampuan psikologis manusia tidak sesederhana pembagian hitam-putih antara laki-laki dan perempuan. Terlepas dari perdebatan tersebut, KAI memilih sisi yang paling ringan dari ungkapan itu, melalui permainan bahasa.
Tak heran, jika papan itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Perpaduan antara fungsi, bahasa, dan humor membuat sudut sederhana di stasiun berubah menjadi sesuatu yang layak dibagikan. Tidak perlu memperdebatkan apakah perempuan benar-benar selalu benar. Untuk urusan papan petunjuk di Stasiun Semarang Tawang, kata “right” memang berhasil melakukan dua pekerjaan sekaligus, menunjukkan arah dan memancing senyum.
Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel
