Industri penerbangan komersial Cina kembali mencatatkan pencapaian strategis setelah varian terbaru dari jet penumpang buatan dalam negeri, C919-600 ‘Plateau’, sukses menyelesaikan penerbangan perdananya (maiden flight). Kehadiran varian khusus dataran tinggi ini diproyeksikan para ahli siap mematahkan monopoli pabrikan raksasa asal Eropa, Airbus, di rute-rute penerbangan pegunungan bernavigasi ekstrem.
Secara geografis, Cina merupakan pasar penerbangan dataran tinggi terbesar di dunia dengan mengoperasikan 43 bandara high-altitude (di atas 1.500 meter dari permukaan laut) dan ultra-high-altitude (di atas 2.438 meter). Tingginya elevasi serta tipisnya kadar udara di wilayah pegunungan seperti Tibet, Qinghai, dan Yunnan menciptakan kebutuhan domestik yang sangat besar akan pesawat bermesin khusus yang mampu beroperasi aman di medan kritis tersebut.
Selama bertahun-tahun, rute-rute pegunungan yang menantang ini praktis dikuasai oleh varian Airbus A319neo dan Boeing 737-700 yang telah dimodifikasi. Kehadiran C919-600 ‘Plateau’ yang dikembangkan oleh COMAC (Commercial Aircraft Corporation of China) dirancang spesifik dengan memperpendek badan pesawat (shortened fuselage) guna mengoptimalkan rasio bobot terhadap daya dorong mesin (thrust-to-weight ratio), sehingga memungkinkannya lepas landas dan mendarat secara presisi di landasan pacu berelevasi tinggi dengan cuaca yang dinamis.
Keberhasilan penerbangan perdana varian ‘Plateau’ ini bukan sekadar kemajuan teknis bagi COMAC, melainkan langkah krusial dalam program kemandirian industri kedirgantaraan Beijing. Dengan mengamankan pangsa pasar rute domestik yang sangat spesifik ini, Cina tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pesawat buatan Barat, tetapi juga membuka peluang ekspor pesawat komersial spesialis wilayah pegunungan ke negara-negara berkembang di kawasan Asia Tengah dan Amerika Selatan.
Cetak Sejarah! Pesawat Buatan Cina COMAC C919 Resmi Melayani Rute Internasional Perdana
