Thursday, July 9, 2026
HomeAnalisa AngkutanFix! Stasiun Gambir akan Melayani Pemberhentian KRL, Ini Langkah yang Dilakukan KAI

Fix! Stasiun Gambir akan Melayani Pemberhentian KRL, Ini Langkah yang Dilakukan KAI

Meski hanya memiliki 4 jalur, Stasiun Gambir tetap melayani perjalanan kereta api jarak jauh baik kedatangan maupun keberangkatan. Hal ini tentu membuat PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) terus melayani kebutuhan masyarakat akan pentingnya transportasi kereta api. Tak heran dengan adanya informasi bahwa Stasiun Gambir akan kembali melayani naik dan turun Kereta Rel Listrik (KRL), tentu merupakan kabar baik untuk masyarakat Jabodetabek.

Dalam sejarahnya, Stasiun Gambir berdiri sejak 1930-an. Stasiun peninggalan kolonial Belanda ini mendapat renovasi terbesar pada 1990, yang menjadikannya stasiun jalur layang pertama pada masa itu.

Stasiun ini merupakan salah satu ikon kota Jakarta, yang juga terletak berdampingan dengan Monumen Nasional. Bahkan karena berada di pusat kota, stasiun ini juga pernah melayani pemberhentian KRL Pakuan Ekspres dan Bekasi Ekspres karena banyaknya permintaan masyarakat untuk beraktivitas.

Untuk itu, melalui proyek beautifikasi, Stasiun Gambir tidak hanya akan tampil lebih modern sebagai wajah baru layanan perkeretaapian nasional, tapi juga berfungsi sebagai pusat konektivitas antarmoda yang memudahkan perpindahan penumpang.

Pemerintah pun berharap bisa melakukan beautifikasi terhadap Stasiun Gambir. Yang artinya, Stasiun Gambir akan menjadi wajah baru untuk pelayanan kereta api. Karena nantinya Stasiun Gambir bukan hanya melayani kereta api jarak jauh tetapi juga akan melayani naik dan turub penumpang KRL.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba juga menegaskan bahwa hingga saat ini, Commuter Line yang melintas di Stasiun Gambir belum melayani naik dan turun pelanggan di stasiun tersebut.

Pembahasan mengenai integrasi KRL di Gambir ditempatkan sebagai proses bertahap yang membutuhkan kesiapan prasarana, pengaturan operasi, keselamatan, kapasitas lintas, dan koordinasi dengan regulator.

Dengan kata lain, pengembangan Stasiun Gambir tentunya bukan untuk menggantikan peran Stasiun Manggarai sebagai pusat transit antarlintas. Kedua stasiun tersebut akan memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam sistem transportasi Jabodetabek.

Sebagaimana Stasiun Manggarai tetap menjadi pusat perpindahan antarlintas, sementara Stasiun Gambir akan di siapkan sebagai pintu kerera api jarak jauh di pusat kota, akses ke kawasan Monas, dan bagian dari integrasi transportasi publik Jakarta.

Stasiun Gambir kini melayani 34 KA reguler per hari atau sekitar 78 pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KA Jarak Jauh. Di sisi lain, jalur layang Gambir juga dilintasi 326 perjalanan KRL Bogor Line setiap hari pada lintas Jakarta Kota – Bogor dan Jakarta Kota – Nambo pp.

Kebutuhan integrasi tersebut semakin relevan jika melihat pergerakan pelanggan Commuter Line di Jabodetabek. Volume KRL Jabodetabek naik dari 217 juta perjalanan pada 2022 menjadi 344 juta perjalanan pada 2025. Dalam tiga tahun, kenaikannya mencapai 126 juta perjalanan atau 58,11 persen Bogor Line menjadi lintas dengan jumlah pelanggan terbesar dengan volume 78,08 juta penumpang selama Januari-Juni 2026.

Dalam Kajian Optimalisasi Bisnis dan Visioning Stasiun Gambir, pengembangan Gambir ditempatkan sebagai Modern Station & Lifestyle Hub dengan tiga pilar, yaitu mobility, culture, dan lifestyle. Konsep ini menempatkan mobilitas sebagai dasar pengembangan, lalu diperkuat dengan ruang budaya, layanan pelanggan, komersial, dan ruang publik yang menyatu dengan kawasan Medan Merdeka.

Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru