Qatar Airways secara resmi mengakhiri era pengoperasian pesawat widebody legendaris Airbus A330 dari jajaran armada penumpangnya. Langkah pensiunnya armada A330 ini dilakukan setelah pesawat tipe tersebut bertahan di jajaran armada Qatar Airways lebih lama dari rencana awal, menyusul penyesuaian strategi maskapai dalam menghadapi dinamika industri penerbangan global dan lonjakan harga bahan bakar.
Keputusan penarikan penuh ini diambil di tengah tekanan eksternal wilayah Teluk yang terus memicu lonjakan harga bahan bakar avtur (jet fuel). Dalam kondisi ekonomi penerbangan saat ini, mengoperasikan pesawat generasi lama yang kurang efisien secara konsumsi bahan bakar menjadi sangat mahal. Manajemen maskapai menilai memarkir pesawat tua jauh lebih ekonomis daripada mengoperasikannya di tengah melambungnya biaya operasional penerbangan.
Sebelumnya, maskapai asal Qatar ini sempat menyewa empat unit A330 dari Oman Air pada tahun 2025 yang direncanakan beroperasi hingga akhir 2026, meski pada akhirnya armada sewaan tersebut tidak pernah masuk ke layanan komersial secara penuh. Dua unit A330 yang tersisa di Doha kini dijadwalkan akan dikembalikan ke perusahaan penyedia jasa sewa (lessor) Jetran pada Oktober 2026. Kehadiran A330 sendiri sebelumnya menyumbang sekitar 7% dari total armada penumpang widebody Qatar Airways.
Untuk mengatasi nasib para penerbang dari armada yang dikandangkan, Qatar Airways menawarkan program penugasan sementara secara sukarela (short-term secondment) bagi puluhan pilot tersertifikasi A330 untuk diperbantukan ke maskapai Afrika, RwandAir. Penugasan ini memungkinkan para pilot tetap menjaga jam terbang dan keahlian operasional mereka selama masa transisi, sekaligus mendukung ekspansi operasional RwandAir yang tengah membangun armada A330 milik mereka sendiri.
Kerja sama penempatan pilot ini diperkuat oleh hubungan kemitraan erat antara kedua maskapai yang telah terjalin melalui perjanjian codeshare. RwandAir secara bertahap menerima unit A330 untuk mendukung operasionalnya, di mana salah satu pesawat yang diterima maskapai berbasis di Rwanda tersebut merupakan bekas armada milik Qatar Airways. Langkah ini membantu Qatar Airways mempertahankan kapasitas sumber daya manusianya sebelum nantinya merekrut dan memindahkan para pilot tersebut ke pesawat generasi baru.
Pensiunnya Airbus A330 merupakan bagian dari pembaruan armada secara menyeluruh dan bukan bentuk penurunan skala bisnis jangka panjang. Antara September 2026 hingga akhir 2027, Qatar Airways merencanakan pengeluaran enam pesawat tua dan penerimaan 19 pesawat baru.
Secara keseluruhan dalam lima tahun ke depan, maskapai ini menargetkan penerimaan 138 pesawat baru dari total pesanan mencapai 410 unit pesawat ke Airbus dan Boeing untuk mendukung pertumbuhan jaringan rutenya di masa depan.
Qatar Airways Umumkan Lebih dari 100 Pesawat Widebody Telah Dilengkapi Akses Internet Starlink
