Keselamatan perjalanan kereta api merupakan hal yang paling utama dalam setiap perjalanan. Hal tersebut membuat PT Kereta Api Indonesia Persero atau KAI selalu pengecekan infrastruktur baik sarana dan prasarana iitu sendiri. Seperti halnya dalam menghadapi cuaca ekstrem saat ini dengan suhu udara panas yang terkadang membuat jalur kereta api mengalami perubahan, seperti adanya pemuaian pada rel.
Pada rel yang memiliki ruang gerak terbatas, pemuaian dapat meningkatkan gaya tekan di dalam batang rel. Jika gaya tersebut tidak cukup ditahan oleh sistem jalan rel, perubahan geometri ke arah samping atau liukan dapat terjadi. Dalam literatur keselamatan perkeretaapian, kondisi ini dikenal sebagai thermal buckling atau track buckling.
Kondisi serupa menjadi salah satu hal yang diperhatikan KAI yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember ketika suhu udara meningkat. Menurut KAI Daop 9 Jember, salah satu faktor pendukungnya adalah pemeriksaan dan perawatan prasarana yang dilakukan secara rutin, ditambah pemeriksaan berdasarkan kondisi lapangan. Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengatakan perubahan kondisi cuaca menjadi salah satu alasan petugas meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan rel.
Secara teknis bahwa rel merupakan batang baja yang mengalami perubahan dimensi ketika temperaturnya berubah. Pada kondisi panas, rel memuai. Namun, pada konstruksi rel yang panjang dan terikat dengan sistem bantalan, penambat serta balas, pergerakan tersebut tidak sepenuhnya bebas. Akibatnya, kenaikan temperatur dapat menghasilkan gaya tekan pada rel.
Federal Railroad Administration menjelaskan bahwa pada continuous welded rail, kenaikan temperatur dapat menghasilkan beban tekan yang besar dan, apabila ketahanan lateral jalan rel tidak mencukupi, dapat menyebabkan rel berubah posisi atau mengalami buckling. Karena itu, kestabilan jalan rel tidak hanya bergantung pada kondisi batang rel. Bantalan, sistem penambat, balas, geometri jalan rel, serta kondisi badan jalan turut menentukan kemampuan konstruksi menahan gaya yang bekerja.
Network Rail, operator infrastruktur perkeretaapian Inggris, juga menjelaskan bahwa rel baja dapat memuai ketika terkena panas dan dalam kondisi tertentu dapat melengkung. Pemantauan kondisi rel, pemeliharaan, penguatan bagian yang rentan, serta pengaturan operasional merupakan beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengelola risiko tersebut.
Di wilayah Daop 9 Jember, pengawasan dilakukan pada lintas raya sepanjang 261,103 kilometer spoor (kmsp). Pemeriksaan jalan rel dilakukan secara berkala dua kali dalam 24 jam. Kegiatan tersebut melibatkan Petugas Pemeriksa Jalan Rel (PPJ) dan Kendaraan Pemeriksa Jalan Kereta Api (KPJ).
Pemeriksaan dengan berjalan kaki memberi kesempatan kepada petugas untuk melihat kondisi jalan rel secara langsung. Yang diperiksa bukan hanya batang rel, melainkan juga bantalan, balas, sistem penambat, sambungan rel, badan jalan, hingga konstruksi slab atau plinth di lokasi tertentu.
Dalam satu pemeriksaan, sedikitnya dua tenaga pemeriksa dapat mencakup lintasan sekitar 20 hingga 50 kilometer, bergantung pada kebutuhan dan kondisi lapangan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, terdapat 25 tenaga pemeriksa jalur kereta api (KPJ) yang tersebar di wilayah Daop 9 Jember.
KAI Daop 9 Jember menyebut pemeriksaan juga dapat dilakukan secara acak (random) dengan mempertimbangkan kondisi lapangan. Perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kewaspadaan tersebut. Karena itu, ketika kondisi cuaca berubah secara ekstrem, pemeriksaan dapat ditingkatkan dengan memperhatikan lokasi dan karakteristik jalur yang memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi.
Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia
