Wednesday, September 30, 2026
HomeAnalisa AngkutanJejak Perkeretaapian Sumatera Utara, Momentum Sejarah yang Tak Terlupakan

Jejak Perkeretaapian Sumatera Utara, Momentum Sejarah yang Tak Terlupakan

Transportasi kereta api di Indonesia kian digemari masyarakat. Bahkan kini berbagai fasilitas serta pelayanan yang dirasakan pun telah menjadi prioritas utama kepada para penumpang. Tak hanya itu, jejak sejarah perkeretaapian sejak jaman kolonial Belanda tentu terus dikenang bahkan dijadikan momentum yanb bersejarah hingga pada zaman modernisasi.

Hal tersebut tercermin pada perkeretaapian di wilayah Sumatera bagian utara. Dalam memperingati 81 tahun PT Kereta Api Indonesia atau KAI yang bertepatan pada tanggal 28 September 2026, momentum bersejarah tersebut menandai pengoperasian dan pengelolaan kereta api oleh bangsa Indonesia sejak pekerja kereta api mengambil alih perusahaan dari tangan Jepang pada 28 September 1945.

Manager Humas KAI Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan bahwa sejak momentum tersebut, kelembagaan perkeretaapian Indonesia terus bertransformasi. Mulai dari Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Perumka, hingga kini menjadi PT KAI.

Ia menjelaskan bahwa perkeretaapian di Sumatera Utara memiliki karakter dan sejarah peralihan yang khas. Berbeda dengan wilayah lain, proses peralihannya berlangsung melalui nasionalisasi perusahaan kereta api swasta Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), setelah Indonesia merdeka pada 1957.

Jika mengingat sejarah perkeretaapian di Sumatera Utara, hal tersebut bermula pada akhir abad ke-19 saat kawasan Deli berkembang sebagai pusat perkebunan ekspor, terutama tembakau Deli. DSM kemudian memperoleh konsesi untuk membangun jaringan rel dan membuka jalur pertama Medan–Labuhan pada 25 Juli 1886.

Jaringan rel tersebut terus meluas hingga menghubungkan Medan dengan Belawan, Binjai, Deli Tua, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, Teluk Nibung, Kisaran, hingga Rantau Prapat. Jalur-jalur ini membentuk pola hubungan ekonomi yang kuat antara sentra produksi perkebunan dan pelabuhan ekspor.

Pada masa kejayaannya sekitar tahun 1937, total panjang jaringan rel DSM mencapai 553,2 kilometer dengan komoditas utama berupa tembakau, karet, kelapa sawit, dan hasil bumi lainnya. Namun, pascakemerdekaan, sejumlah jalur cabang seperti arah Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan tidak lagi beroperasi seiring berkurangnya lahan perkebunan serta turunnya permintaan angkutan komoditas.

Kini, total panjang jalur kereta api yang aktif beroperasi di Sumatera Utara tercatat sepanjang 476,46 kilometer. Jaringan ini mencakup jalur cabang menuju Bandara Internasional Kualanamu yang beroperasi sejak 2013, serta jalur cabang ke Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei guna mendukung mobilitas bahan baku serta hasil industri kawasan tersebut.

Perubahan zaman yang dirasakan perkeretaapian wilayah Sumatera Utara telah mengalami modernisasi sarana secara bertahap melalui proses dieselisasi. Operasional rel yang awalnya didominasi lokomotif uap pada 1958, mulai memasuki era lokomotif diesel seri BB300 pada 1965.

Di era digitalisasi dan modernisasi saat ini, KAI terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kemudahan akses layanan membuat semakin banyak masyarakat di Sumatera Utara memilih kereta api sebagai moda transportasi pilihan.

Berdasarkan data dari PT KAI Divre I Sumatera Utara, sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026 mencatat volume angkutan penumpang mencapai 1.857.059 penumpang. Angka ini tumbuh 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatatkan 1.773.706 penumpang.

Perubahan pada pola angkutan penumpang teraebut terlihat pada transaksi para pengguna jasanya. Warga Sumatera Utara saat ini kian terbiasa mengatur jadwal perjalanan kereta api lewat ponsel pintar, seiring pesatnya perkembangan sarana digital yang memudahkan pembelian tiket hingga pengelolaan rute tanpa perlu mendatangi loket fisik di stasiun.

Fenomena perubahan perilaku ini terlihat jelas dari data transaksi pembelian tiket via aplikasi Access by KAI di area KAI Divre I Sumatera Utara. Limpahan kemudahan ini membuat para penumpang tak lagi harus menghabiskan waktu guna berdiri di antrean stasiun. Urusan pengelolaan dokumen perjalanan seperti pengaturan ulang jadwal (reschedule) hingga proses pembatalan tiket kini bisa dituntaskan secara langsung melalui perangkat seluler.

Berbagai hal positif juga ditunjukkan pada angkutan barang yang menandakan bertambahnya kepercayaan para mitra logistik. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, KAI Sumut berhasil mengangkut volume barang sebanyak 550.162 ton, melambung 16 persen dari periode yang sama tahun 2025 sebesar 472.609 ton. Komoditas utama yang diangkut meliputi bahan bakar minyak (BBM), peti kemas, crude palm oil (CPO), serta produk industri lainnya.

Dalam memperingati 81 tahun PT KAI, tidak hanya mengenang sejarah perjalanan perkeretaapian, tetapi juga membuktikan komitmen untuk terus relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui peningkatakan kinerja layanan penumpang dan penguatan angkutan barang berbasis digitalisasi serta integrasi antarmoda, KAI Divre I Sumut siap terus menjadi penggerak roda ekonomi dan mobilitas masyarakat Sumatera Utara sambil menjaga warisan sejarah yang ada.

Usianya Genap 140 Tahun, Stasiun Medan Kini Makin Eksis dan Modern

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru