Monday, September 28, 2026
HomeAnalisa AngkutanAda Bunyi 'Gujes-gujes' saat Kereta Api Berjalan? Ini Dia Rahasianya

Ada Bunyi ‘Gujes-gujes’ saat Kereta Api Berjalan? Ini Dia Rahasianya

Saat naik atau pun sekadar melihat kereta api melintas, tentu tahu bahwa ada suara yang berirama diantara rangkaiannya tersebut. Suara tersebut berasal dari roda yang bergesekan dari rel dan saat melewati celah rel akan menghasilkan bunyi yang unik. Bahkan bunyi tersebut yang membuat masyarakat menyukai kereta api.

Ya, bunyi seperti ‘gujes-gujes’ dari roda saat melewati celah rel memang sangat berirama, namun tahukah kalian apa fungsi dari celah rel tersebut? PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyampaikan bahwa keberadaan celah tersebut memiliki fungsi teknis yang sangat penting untuk keselamatan dan keandalan perjalanan kereta api.

Sambungan rel dengan celah tersebut bukanlah kesalahan konstruksi, melainkan bagian dari rekayasa teknik rel yang telah diperhitungkan secara cermat. Celah atau jarak pada sambungan rel bertujuan untuk mengantisipasi perubahan panjang rel akibat suhu. Besi atau baja sebagai bahan rel akan memuai saat panas. Jika tidak ada celah, maka rel bisa melengkung atau bahkan retak akibat tekanan termal.

Fenomena pemuaian dan penyusutan ini dikenal sebagai thermal expansion. Pada siang hari, suhu rel dapat meningkat tajam karena paparan sinar matahari langsung. Tanpa ruang pemuaian yang cukup, sambungan antar rel akan mengalami tekanan besar yang bisa menyebabkan track buckling atau pelengkungan rel, yang berisiko terhadap keselamatan perjalanan kereta api.

Menariknya, fungsi celah ini tidak hanya berlaku saat siang hari. Ketika malam tiba dan suhu turun drastis, logam mengalami penyusutan. Jika tidak ada celah, tekanan dari kontraksi bisa menimbulkan retakan atau kerusakan pada sambungan rel. Dengan adanya ruang kecil itu, rel dapat bergerak bebas mengikuti perubahan suhu, menjaga struktur jalur tetap aman.

Secara teknis, metode pemasangan tradisional yang dikenal sebagai jointed track menggunakan plat sambung atau fishplates di kedua sisi ujung rel. Di antara sambungan itu disisakan sedikit celah, yang berfungsi sebagai expansion joint. Celah ini memastikan rel dapat memuai atau menyusut tanpa saling menekan, sehingga jalur tetap lurus dan stabil.

Namun, teknologi terus berkembang. Pada sistem modern seperti continuous welded rail (CWR), sambungan fisik nyaris dihilangkan sehingga perjalanan menjadi lebih halus dan bising berkurang. Meski begitu, prinsip suhu netral tetap digunakan rel dipasang pada suhu rata-rata lokasi sehingga pemuaian dan penyusutan ekstrem bisa diminimalkan.

Di lokasi-lokasi kritis seperti jembatan atau terowongan, digunakan perangkat khusus bernama breather switch atau expansion joint. Bentuknya bisa diagonal atau bergerigi, yang memungkinkan rel bergerak lebih halus saat memuai, mengurangi suara dan getaran, sekaligus menjaga keselarasan jalur. Selain alasan fisik dan keselamatan, celah juga mempermudah proses perawatan. Pekerja perkeretaapian dapat mengganti potongan rel yang rusak tanpa harus membongkar keseluruhan jalur. Ini menghemat waktu, biaya, dan meminimalkan gangguan perjalanan.

Yang tak kalah penting, celah membantu mengurangi tekanan berlebih pada bantalan rel dan dudukan (sleeper). Tanpa celah, gaya tekan akibat pemuaian akan langsung diteruskan ke bantalan, yang bisa mempercepat kerusakan dan mempersingkat umur infrastruktur. Dengan desain sambungan yang tepat, beban terdistribusi merata, dan jalur bisa bertahan lebih lama.

Dari hal tersebut, KAI Kami ingin masyarakat memahami bahwa suara sambungan rel dan keberadaan celah adalah bagian dari sistem yang aman dan sudah sesuai standar internasional. Ini adalah bagian dari komitmen KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

Yuk, Kenali Jenis – jenis Bantalan Rel Kereta Api. Indonesia Sudah Punya Lengkap!

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru