Pertumbuhan masyarakat pengguna transportasi memang terus bertambah. Seiring dengan aktivitas masyarakat, transportasi umum berbasis rel khususnya di wilayah Jabodetabek menjadi tulang punggung ahar lebih praktis dan hemat. Salah satunya menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL).
Pengguna KRL di berbagai wilayah di Jabodetabek sudah semakin banyak dengan aktivitas setiap harinya. Bahkan mereka sudah terbiasa bergantung pada transportasi umum yang ramah lingkungan dan murah. Berbagai KRL yang wara wiri dilintas tersebut sebetulnya sudah memenuhi kebutuhan penumpang. Tapi pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tentu mempersiapkan antisipasi jika ada hal yang beresiko terjadi kendala pada perjalanan KRL.
Informasi mengenai penambahan rangkaian KRL pun tengah beredar di media sosial. Apalagi KRL yang akan didatangi ini merupakan impor kembali dari Jepang. Menurut Direktur Operasi Prasarana dan Keselamatan Area 2 KAI Dadan Rudiansyah menuturkan, meski KRL tersebut didatangkan menggunakan skema hibah, bukan jual beli, pihaknya tetap perlu memperhitungkan biaya pengiriman dari Jepang ke Jakarta. Ia menambahkan bahwa akan ada beberapa biaya yang sedang difinalkan untuk pengirimannya saja.
Rencana impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang mulai memasuki tahap koordinasi lebih lanjut. KAI Commuter masih berkomunikasi dengan operator kereta di Jepang untuk memastikan armada yang tersedia sebelum proses pengadaan dilanjutkan. Diketahui bahwa pengiriman KRL bekas dari Jepang merupakan solusi sementara untuk menambah kapasitas angkutan KRL Jabodetabek. Namun, jenis rangkaian yang akan diboyong belum dipastikan, termasuk kabar mengenai KRL seri JR 209.
Pengadaan armada tambahan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring jumlah pengguna KRL Jabodetabek yang terus meningkat. Pada semester I-2026, jumlah penumpang tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rata-rata mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari dan dapat menyentuh 1,3 juta pada kondisi tertentu.
KAI mengusulkan 23 trainset KRL bekas dari Jepang yang terdiri atas tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8. Formasi tersebut disesuaikan dengan kondisi infrastruktur stasiun yang tidak seluruhnya mampu menampung rangkaian 12 kereta.
KRL bekas tersebut disiapkan sebagai jembatan kebutuhan armada di tengah waktu produksi kereta baru yang relatif lebih panjang. Di sisi lain, sejumlah KRL yang masih beroperasi saat ini telah berusia lebih dari 40 tahun sehingga kebutuhan penambahan dan peremajaan armada menjadi semakin penting.
Pemerintah dan DPR menempatkan impor KRL bekas tersebut sebagai langkah transisi sembari kemampuan industri perkeretaapian dalam negeri ditingkatkan. KAI juga menyatakan rangkaian impor tersebut direncanakan digunakan dalam jangka waktu terbatas, yakni sekitar 10 tahun.
