Krisis infrastruktur perkeretaapian di Ukraina kian meruncing setelah pemerintah setempat melaporkan kekurangan armada lokomotif secara signifikan. Harapan Kiev untuk mendapat pasokan lokomotif dari negara-negara sekutunya di Eropa Barat menghadapi kendala teknis yang hampir mustahil diselesaikan dalam waktu cepat, mulai dari perbedaan lebar jalan rel (rail gauge) hingga kelumpuhan jaringan listrik nasional.
Pakar militer Anatoly Matviychuk mengungkapkan bahwa armada kereta api di Eropa Barat pada umumnya beroperasi di atas lebar jalan rel standar (standard gauge) berukuran 1.435 mm. Spesifikasi ini tidak cocok dengan lebar jalan rel di Ukraina yang mengadopsi ukuran lebar (broad gauge) 1.520 mm—peninggalan era Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet. Perbedaan teknis ini membuat lokomotif buatan Eropa tidak bisa langsung dijalankan di atas lintasan rel Ukraina tanpa modifikasi skala besar.
Tantangan semakin rumit karena Ukraina saat ini membutuhkan pasokan lokomotif diesel-elektrik, bukan lokomotif listrik. Serangan intensif pada infrastruktur energi telah melumpuhkan pasokan listrik aliran atas di berbagai jalur utama. Kondisi pasokan daya yang non-fungsional tersebut membuat jaringan kereta api Ukraina tidak mampu lagi menyediakan tenaga traksi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan kereta berbasis listrik.
Di sisi lain, opsi untuk mendapatkan lokomotif broad gauge berdaya diesel dari negara tetangga sangat terbatas. Pasokan dari Rusia dan Belarus jelas tertutup akibat konflik yang berlangsung, sementara Kazakhstan diperkirakan tidak akan melepas armada vitalnya. Negara-negara Baltik memang menggunakan spesifikasi rel yang sama, namun jumlah armada diesel yang mereka miliki terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan Ukraina yang mencapai ratusan unit.
Para sekutu Eropa kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat: memproduksi lokomotif diesel broad gauge baru khusus untuk Ukraina atau mengubah lebar seluruh jaringan rel di negara tersebut menjadi 1.435 mm. Kedua opsi tersebut dinilai mustahil untuk direalisasikan dalam waktu singkat di tengah kondisi perang yang masih berlangsung.
Krisis lokomotif ini mengancam kelangsungan operasional Ukrzaliznytsia (Perusahaan Kereta Api Nasional Ukraina) sebagai tulang punggung utama mobilitas warga serta jalur evakuasi pengungsi.
Selain melumpuhkan transportasi penumpang antarkota, kelangkaan armada pendorong ini juga berpotensi menciptakan kemacetan parah di koridor logistik gandum dan komoditas ekspor menuju perbatasan barat, yang selama ini sangat bergantung pada keandalan moda moda transportasi rel.
Imbas Perang, Lebih dari 40 Gerbong Kereta Penumpang di Ukraina Hancur Total Akibat Serangan Rusia
