Pemerintah Thailand terpaksa mengerahkan personel militer dari Angkatan Darat dan Angkatan Udara Kerajaan Thailand untuk membantu menangani krisis penumpukan bagasi yang parah di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok.
Langkah darurat ini diambil setelah banjir besar yang melanda wilayah Bangkok dan sekitarnya melumpuhkan operasional darat maskapai serta mencegah sebagian besar staf ground handling mencapai tempat kerja.
Kondisi tersebut memicu penumpukan lebih dari 5.000 bagasi penumpang di area klaim. Akibatnya, para penumpang yang baru mendarat terpaksa menunggu hingga empat sampai enam jam untuk mendapatkan kembali koper mereka. Sebagian penumpang bahkan memilih meninggalkan bandara tanpa membawa koper demi menghindari antrean yang stagnan.
Menteri Pertahanan Thailand, Letjen Adul Bunthamcharoen, mengonfirmasi pengerahan pasukan tersebut menyusul koordinasi intensif dengan pihak Thai Airways dan Kementerian Pariwisata dan Olahraga. Personel militer dikirim langsung ke area penanganan bagasi untuk membantu memindahkan, menyortir, dan mengurai tumpukan koper yang terhenti akibat kekurangan tenaga kerja.
Pihak maskapai nasional Thai Airways juga telah mengerahkan staf manajemen dan karyawan kantor untuk membantu operasional darat. Selain itu, Thai Airways menyediakan layanan pendaftaran khusus bagi penumpang yang memilih pulang lebih awal. Barang-barang yang tertinggal akan dikirim langsung ke alamat rumah atau hotel tempat penumpang menginap, di mana seluruh biaya pengiriman dan kerugian menjadi tanggung jawab pihak maskapai.
Proses pembersihan dan penguraian backlog bagasi diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga hari. Meskipun operasional bagasi mengalami gangguan parah, penerbangan domestik maupun internasional di Bandara Suvarnabhumi tetap beroperasi secara normal.
Adopsi Airport City, Tujuh Bandara Ini disebut Sebagai Ternyaman di Dunia
