Thursday, August 6, 2026
HomeHot NewsGalakkan Penggunaan Biodiesel B50, Angkutan Perkebunan Sawit KAI Naik 18 Persen

Galakkan Penggunaan Biodiesel B50, Angkutan Perkebunan Sawit KAI Naik 18 Persen

Kebutuhan bahan bakar terbaru pada kereta api akhir-akhir ini terus digalakkan. Ya, penggunaan Biodiesel B50 untuk kereta api sendiri masih terus dilakukan dalam memperluas sumber energi dalam negeri. Bagi perusahaan besar seperti PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) melakukan terobosan baru yang bermanfaat merupakan hal yang wajib dilakukan demi mendukung kemandirian energi di Indonesia.

Seperti pada wilayah Sumatera Utara yang merupakan terkenal dengan angkutan kelapa sawitnya. Dalam hal tersebut, KAI terus memperkuat layanan bisnis pada angkutan Crude Palm Oil (CPO) di Sumatera Utara dengan target angkutan lebih dari 200.000 ton per tahun dengan melayani rata-rata 2 (dua) rangkaian kereta api per hari.

CPO merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia yang memiliki kontribusi signifikan terhadap devisa negara, industri hilir, serta ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan biodiesel. Oleh karena itu, keandalan distribusi CPO, khususnya dari sentra produksi di Sumatera Utara menuju titik distribusi dan pelabuhan, menjadi aspek yang sangat penting.

Sepanjang 1 Januari – 31 Juli 2026, KAI melayani 374.098 ton angkutan perkebunan sawit. Volume tersebut meningkat 18,00 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 317.026 ton, atau bertambah 57.072 ton. Peningkatan juga terlihat pada kinerja bulanan. Selama Juli 2026, volume angkutan perkebunan mencapai 51.741 ton, naik 24,52 persen dibandingkan Juli 2025 sebanyak 41.551 ton. Dengan demikian, terdapat tambahan volume sebesar 10.190 ton dalam satu bulan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, mayoritas komoditas perkebunan yang dilayani KAI berupa minyak sawit mentah atau CPO. Layanan berbasis kereta api membantu menjaga kelancaran distribusi komoditas tersebut menuju fasilitas pengolahan dengan kapasitas besar, perjalanan terjadwal, dan pengendalian operasional yang terukur.

Dalam B50, komposisi bahan bakar terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen bahan bakar solar. Keterkaitan antara sektor perkebunan dan energi semakin kuat setelah Pemerintah menerapkan Program Mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan implementasi B50 secara nasional membutuhkan biodiesel sekitar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter dengan kebutuhan CPO sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton. Program ini diproyeksikan mendukung penghematan devisa hingga Rp170 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.

Sejalan dengan kebijakan Pemerintah, KAI mulai menerapkan B50 secara bertahap pada sarana diesel sejak 1 Juli 2026. Penerapan tersebut mencakup lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui pengujian performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi, kondisi filter, pelumas, serta sistem bahan bakar.

KAI akan terus memperkuat kapasitas layanan angkutan perkebunan, kesiapan sarana, fasilitas bongkar muat, serta koordinasi dengan pelanggan dan pemangku kepentingan. Penguatan tersebut diarahkan untuk mendukung rantai pasok industri, meningkatkan pemanfaatan energi dalam negeri, dan menjaga daya saing komoditas perkebunan Indonesia.

Diketahui sebelumnya, KAI memiliki peran pada dua bagian penting dalam ekosistem B50. Melalui layanan angkutan perkebunan, KAI membantu kelancaran distribusi komoditas sawit. Pada kegiatan operasional, KAI menggunakan B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan sarana.

Lolos Sejumlah Uji Coba, PT KAI Mulai Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru