Wilayah Jabodetabek memang lebih mudah dan terjangkau jika dilintasi transportasi berbasis rel, yaitu Kereta Rel Listrik (KRL). Ya, jutaan masyarakat tentu sangat terbantu dengan adanya KRL saat beraktivitas. Tentunya dengan penggunaan yang praktis dan estimasi waktu yang bisa ditempuh. Saat ini berbagai rangkaian KRL menyebar di seluruh lintasan rel seluruh Jabodetabek melayani masyarakat.
Dari perjalanan KRL yang sering digunakan masyarakat, tentu tidak semua masa rangkaian KRL tersebut bisa dijalankan selamanya. Karena usia dari KRL ini hampir mendekati tidak layak operasi. Dengan kata lain, masa operasional KRL yang sudah cukup tua harus segera dipensiunkan. Diketahui beberapa KRL khususnya yang didatangkan dari Jepang sudah memasuki masa pensiun atau tidak di operasikan di jalur kereta api.
PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah menyiapkan peremajaan armada KRL di Jabodetabek dengan mengganti sebanyak 84 rangkaian lama yang dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan standar pelayanan transportasi modern. Penggantian ini tentunya dilakukan secara bertahap mulai tahun ini hingga beberapa tahun ke depan untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan keandalan layanan bagi jutaan penumpang KRL setiap hari.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyatakan bahwa hal tersebut masih dalam proses melakukan replacement terhadap kereta-kereta lama. Saat ini masih ada 84 rangkaian yang usianya sudah tua dan selama ini hanya terus kami lakukan upgrade. Ia menambahkan akan terus mengganti rangkaian dengan yang baru agar pelanggan mendapatkan layanan yang lebih nyaman dan lebih aman.
Sebagian armada yang masih beroperasi menggunakan teknologi rheostatik yang sudah tertinggal dibandingkan teknologi terbaru. Sistem tersebut membuat akselerasi kereta terasa kurang halus sehingga mengurangi kenyamanan penumpang. Modernisasi armada menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas transportasi publik nasional.
Kualitas transportasi massal mencerminkan tingkat kemajuan sebuah negara sehingga Indonesia perlu terus mengejar standar layanan negara-negara maju. Menurut Bobby, jika melihat Jepang maupun China, transportasi publik mereka menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. Indonesia juga harus menuju ke sana seiring target menjadi negara maju pada 2045.
Saat ini, KAI bersama KAI Commuter telah mulai mengoperasikan 18 rangkaian KRL baru sebagai pengganti armada lama. Seluruh rangkaian seri TM6000 yang dinilai sudah tidak lagi memberikan kenyamanan optimal juga telah dihentikan operasinya. Selain mengganti armada, KAI juga terus melakukan berbagai penyempurnaan fasilitas di dalam kereta, mulai dari peningkatan sistem pendingin udara hingga pemasangan perangkat pemantau kualitas udara untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan.
Program peremajaan akan dilakukan secara bertahap. Sebanyak sembilan rangkaian baru dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini untuk menggantikan armada lama. Selanjutnya, delapan rangkaian tambahan akan didatangkan pada tahun berikutnya, kemudian dilanjutkan dengan 32 rangkaian baru pada tahap berikutnya hingga seluruh 84 armada lama dipensiunkan.
Gerbong Kereta Tua Dikonversi Jadi Hotel Mewah di Pinggir Pantai Inggris
