Siapa yang tak kenal dengan jembatan kereta api yang satu ini. Ya, saat menikmati perjalanan kereta api rute Jakarta – Bandung, tentu jembatan ini menjadi yang paling penting dan selalu diingat penumpang kereta api saat melewatinya. Tak hanya itu, jembatan ini telah melewati pembangunan hingga tiga generasi. Inilah Jembatan Cisomang yang terletak diantara lembah yang menghubungkan antara Kabupaten Purwakarta dengan Kabupaten Bandung Barat.
Diketahui bahwa jembatan pertama mulai beroperasi pada 1906, kemudian digantikan struktur kedua pada 1932. Sementara jembatan generasi ketiga dibangun mulai 2000 dan selesai pada 2004. Jembatan Cisomang menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia, dari masa Staatsspoorwegen (SS) pada era Hindia Belanda hingga pengoperasian jaringan kereta api oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Riwayat Jembatan Cisomang bermula dari pembangunan jalur kereta api Karawang–Padalarang pada awal abad ke-20. Perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), lebih dahulu membuka jalur Karawang–Purwakarta pada 27 Desember 1902. Pembangunan kemudian diteruskan menuju Padalarang.
Lintasan Purwakarta–Padalarang memiliki panjang sekitar 56 kilometer dan melewati kawasan dengan kontur pegunungan. Jalur tersebut resmi dibuka untuk umum pada 2 Mei 1906. Kondisi geografis di sepanjang lintasan membuat pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung menjadi kebutuhan. Rel harus melewati lembah dan kawasan perbukitan sehingga SS membangun sejumlah jembatan serta terowongan.
Material besi untuk pembangunan jembatan didatangkan langsung dari Eropa lewat Pelabuhan Tanjung Priok. Sebagian material juga dikirim melalui Pelabuhan Cilacap. Proses pembangunan tidak sepenuhnya berjalan lancar. Pengiriman material besi dari Eropa sempat mengalami keterlambatan hingga hampir delapan bulan. Kondisi tersebut turut memengaruhi proses pembangunan lintasan kereta api di kawasan pegunungan tersebut.
Pada Jembatan Cisomang generasi pertama digunakan tahun 1906, bertepatan dengan pembukaan jalur rute Purwakarta–Padalarang.
Jembatan generasi pertama memiliki panjang sekitar 180 meter dengan ketinggian sekitar 72 meter dari dasar lembah. Jalur ini yang menghubungkan kawasan Batavia dengan Bandung melalui Karawang dan Purwakarta.
Penggunaan jembatan generasi pertama tidak berlangsung lama. Kondisi tanah di sekitar lintasan Purwakarta–Padalarang relatif tidak stabil sehingga diperlukan pembangunan struktur pengganti. Kemudian pada 1932, Jembatan Cisomang generasi pertama tidak lagi digunakan dan digantikan struktur baru. Jejak generasi pertama kini tidak lagi terlihat sebagai bangunan jembatan utuh. Sisa struktur yang masih dapat ditemukan berupa bagian fondasi. Pergantian tersebut menandai babak kedua dalam sejarah Jembatan Cisomang.
Lalu, Jembatan Cisomang generasi kedua mulai digunakan pada 1932. Struktur baru memiliki panjang sekitar 230 meter dan ketinggian mencapai sekitar 100 meter dari dasar lembah. Konstruksi baja dengan pilar-pilar tinggi itu kemudian menjadi bagian dari jalur kereta api selama puluhan tahun. Jembatan tersebut melewati masa mulai dari pemerintahan Hindia Belanda hingga periode setelah Indonesia merdeka.
Selama digunakan, Jembatan Cisomang generasi kedua menjadi salah satu bagian penting rute jalur kereta api Jakarta–Bandung. Sejumlah perjalanan kereta api melintasi struktur tersebut sebelum akhirnya operasional beralih ke jembatan generasi berikutnya. Perkembangan kebutuhan perkeretaapian pada akhirnya mendorong pembangunan struktur baru. Jembatan generasi kedua memiliki keterbatasan untuk dikembangkan menjadi jalur ganda sehingga diperlukan konstruksi pengganti.
Memasuki awal abad ke-21, pembangunan Jembatan Cisomang generasi ketiga dimulai. Konstruksi jembatan baru berlangsung sejak 2000 hingga 2004. Struktur tersebut memiliki panjang sekitar 243 meter dan menggunakan konstruksi rangka baja. Jembatan baru dibangun di sisi jembatan generasi kedua.
Jembatan generasi ketiga mulai digunakan pada 2004. Jembatan ini dirancang untuk mendukung pengembangan jalur ganda pada lintasan Cisomang–Cikadongdong. Struktur baru tersebut kemudian menggantikan jembatan generasi kedua sebagai jalur utama perjalanan kereta api.
Jembatan Cisomang berada di sekitar kilometer 128+400 pada lintas Jakarta–Jatinegara–Cikampek–Purwakarta–Padalarang. Jembatan tersebut berada dalam wilayah pengelolaan Daerah Operasi II Bandung. Posisinya sangat vital bagi perjalanan kereta api di lintasan Jakarta–Bandung. Jembatan tersebut memungkinkan jalur rel melintasi lembah Sungai Cisomang sekaligus meneruskan perjalanan menuju wilayah Padalarang dan Bandung.
Lebih dari satu abad setelah jalur Purwakarta–Padalarang dibuka, Jembatan Cisomang masih menjadi bagian dari jaringan rel aktif. Struktur yang digunakan saat ini merupakan jembatan generasi ketiga dengan panjang sekitar 243 meter. Jembatan tersebut melanjutkan fungsi infrastruktur yang telah hadir sejak generasi pertama pada 1906.
Di sisi jembatan baru, struktur generasi kedua masih berdiri. Keberadaan dua bangunan tersebut memperlihatkan perubahan konstruksi Jembatan Cisomang dari masa ke masa. Sementara generasi pertama sudah tidak lagi berdiri sebagai bangunan utuh, generasi kedua masih dapat dilihat berdampingan dengan jembatan yang digunakan saat ini. Kondisi tersebut membuat kawasan Cisomang menyimpan jejak tiga generasi pembangunan jembatan.
Perjalanan Jembatan Cisomang juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Jalur yang pada awalnya dibangun Staatsspoorwegen pada masa Hindia Belanda kemudian menjadi bagian dari jaringan perkeretaapian Indonesia setelah pengambilalihan aset perkeretaapian pada masa awal kemerdekaan.
Sensasi Naik Kereta Api di Bumi Parahyangan Melewati Jembatan Terpanjang dan Tertua
