Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia

Ilustrasi Uber Eats (Quartz)

Tak ada yang berbeda dari Uber Eats, layanan pesan antar makanan dan minuman berbasis aplikasi ini tak ubahnya dengan Go-Food milik Go-Jek dan GrabFood milik Grab. Dan Uber Eats tak seperti layanan transportasi online Uber motor dan mobil, Uber Eats terbilang kalah populer gaungnya. Namun karena Uber Eats tak kunjung hadir di Indonesia, maka fitur dalam aplikasi Uber ini tak dikenal oleh publik di Tanah Air.

Walau ketinggalan langkah dari kompetitornya, pelan tapi pasti Uber Eats mulai merambah Asia Tenggara, terbukti Uber Eats telah hadir di Malaysia pada tahun lalu. Dan kabarnya, Uber Indonesia memang berencana menghadirkan Uber Eats di Indonesia.

Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi

Namun sebelum itu, berita seputar Uber Eats diramaikan dengan aksi krimimal. Persisnya pada 19 Februari 2018, seorang pria bernama Ryan Thornton tewas akibat kekejian seorang pengemudi Uber saat mengantar makanan pesanannya. Pembunuhan ini berawal dari Ryan yang memesan makanan melalui aplikasi Uber Eats untuk diantarkan ke apartemennya di Buckhead dan pada pukul 11 malam waktu setempat, pesanan Ryan datang dan dirinya turun untuk mengambil pesanan tersebut.

Alih-alih bukan mendapat makanan, saat korban berbincang dengan pengemudi kemudian dirinya di berondong lima kali tembakan. Saksi mata di tempat kejadian, hanya menemukan korban yang sudah bersimbah darah sedangkan pengemudi kabur dengan mobilnya dan kini menjadi buronan.

Korban kemudian dibawa ke rumah sakit tetapi meninggal dalam perjalanan. Satu-satunya petunjuk hanyalah mobil Volkswagen putih yang digunakan oleh pengemudi.

Adanya pembunuhan ini, Uber mengucapkan belasungkawa terhadap keluarga korban melalui juru bicara mereka. Mereka juga mengatakan, pengemudi yang kini buron tersebut telah melanggar kebijakan pengemudi untuk tidak membawa senjata apa pun dalam kendaraan. “Kami terkejut dan sedih mendengar berita ini. Kami akan membantu polisi Atlanta dan mengucapkan duka sedalam-dalamnya untuk keluarga korban,” ujar juru bicara Uber.

Uber Eats sendiri merupakan satu layanan atau fitur yang ada di aplikasi Uber untuk memesan makanan ke sejumlah restoran melalui pengemudi Uber. Layanan Uber Eats sendiri saat ini sudah berkembang pesat dan digunakan sejumlah kota besar di Amerika Serikat.

Tetapi layanan ini belum tahu kapan masuk ke Indonesia. Dari kabar yang tersiar ada yang mengatakan tahun 2017 lalu harusnya sudah masuk ke Indonesia. Sayangnya Managing Director Uber Indonesia Alan Jiang menampik akan hadir dalam waktu dekat di Indoensia.

Alan mengatakan, masih fokus di layanan transportasi karena kesempatan bisnis di transportasi bisa bertahan lebih lama. Saat ini Singapura juga sudah disinggahi Uber Eats.

Tak hanya itu sekitar 33 kota di delapan negara sudah menggunakan layanan Uber Eats untuk memesan makanan. Negara-negara tersebut yakni San Francisco Perancis dan London. Sedangkan Tokyo menjadi kota teranyar bagi Uber Eats.

Sayangnya di beberapa negara, Uber Eats sendiri banyak yang menimbulkan kerugian. Secara prinsipnya, layanan baru Uber Eats ini sendiri sebenarnya tidak jauh dengan layanan pesan antar makanan yang lain.

Baca juga: Uber Berbagi Hadiah dengan Pengguna dan Mitra di Bulan Kasih Sayang

Hanya saja yang membedakannya adalah konsumen bisa meminta uang kembalian dengan mudah dan ini justru dicurangi oleh konsumen sendiri sehingga layanan tersebut merugikan pihak Uber. Modus yang digunakan adalah konsumen memesan minuman yang murah seperti soda kalengan dan mengeluhkan kualitas pengantaran atau barang yang di beli.

Ketika keluhan itu sampai ke operator maka, konsumen akan mendapat kompensasi berupa voucer. Nilai voucernya sendiri bisa mencapai US$30 atau setara dengan Rp390 ribu sebagai bentuk permintaan maaf.