Melenceng dari Target, Soal Pembebasan Lahan Fatmawati Jadi Alasan PT MRT Jakarta

Sumber: istimewa

Walaupun PT MRT Jakarta (PT MRTJ) telah mengumumkan waktu peluncuran layanan Metro pertama di Indonesia ini, tapi warga Ibukota masih penasaran dengan progress yang sudah mereka capai hingga saat ini. Tidak hanya warga Jakarta, pekerjaan konstruksi Mass Rapid Transit seolah mencuri perhatian seluruh warga Indonesia. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan selama ini, PT MRTJ membeberkan progress pengerjaan konstruksi MRT Jakarta Fase 1 Lebak Bulus – Bunderan HI dalam sebuah forum jurnalis yang diadakan pada Rabu (20/12/2017) kemarin.

Baca Juga: Kursi Penumpang MRT Jakarta Berbahan Plastik, Upps Jangan Kecewa Dulu!

“Progress Konstruksi untuk Depo dan Stasiun Lebak Bulus per tanggal 15 Desember adalah 82,59 persen, sedangkan untuk Stasiun Senayan sudah mencapai 94,59 persen. Total progressnya sudah 88,56 persen,” ungkap William P Sabandar selaku Direktur Utama PT MRTJ pada acara itu. “Overall, target kami pada 31 Desember adalah 90,14 persen, dengan rincian 85,20 persen untuk Depo dan Stasiun Lebak Bulus dan 95,13 persen untuk Stasiun Senayan,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan KabarPenumpang.com, Corporate Secretary PT MRTJ Tubagus Hikmatullah menargetkan seluruh pengerjaan sipil Fase 1 ini rampung 100 persen pada pertengahan tahun 2018 mendatang. “Direncanakan pada Juli 2018,” sambung Hikmat. Pekerjaan sipil tersebut meliputi pembangunan jalur layang, bawah tanah, Depo Lebak Bulus, dan 13 stasiun MRT lainnya yang berada di sepanjang jalur Lebak Bulus – Bunderan HI. Namun seperti yang sudah dijabarkan di atas, masih terdapat selisih antara pencapaian yang sudah diraih hingga saat ini dan proyeksi yang PT MRTJ targetkan. Dimana letak masalahnya?

“Proses pembebasan lahan di daerah Fatmawati kemarin sempat menghambat proses pembangunan,” tutur Hikmat seraya menjawab pertanyaan apa yang membuat progress PT MRTJ mengalami keterlambatan. “Namun masalah itu kini sudah selesai, yang lain tidak ada masalah,” tukasnya. Meski ada keterlambatan, Hikmat menilai pembangunan tersebut masih bisa diakselerasi, sehingga selisihnya pun tidak terlalu besar dari target awal. Selain soal pembebasan lahan di daerah Fatmawati beberapa waktu yang lalu, cuaca menjadi salah satu faktor penghambat pengerjaan MRT.

Baca Juga: PT MRT Jakarta Gaet Tower Bersama Group Untuk Gelar Coverage Seluler dan WiFi

“Musim penghujan kerap kali menyebabkan stasiun MRT Dukuh Atas tergenang, tapi sejauh ini asih bisa diatasi,” tutur Hikmat santai. Menurut agenda, warga Ibukota sudah bisa menjajal layanan kereta Metro pertama di Indonesia ini pada Maret 2019 mendatang, dengan perkiraan daya angkut hingga 200 ribu penumpang setiap harinya. Perkembangan terakhir, beberapa utusan PT MRTJ telah menyelesaikan kunjungan ke Jepang pada pertengahan Desember kemarin untuk menguji coba armada yang nantinya akan menjadi primadona di dunia transportasi ini.