Grab Bermitra dengan Cargo, Hadirkan ‘Kotak Penjual’ Kebutuhan Penumpang

Grab & Go (CNN)

Setalah mengakuisis Uber pada Maret 2018 kemarin, kini Grab melengkapi pengemudinya dengan berbagai barang untuk di jual selama perjalanannya dengan penumpang. Dimana dengan adanya barang-barang ini penumpang tidak lagi perlu ribet untuk membeli cemilan di mini market ataupun membeli obat di apotek.

Baca juga: Pengemudi Grab Antar Penumpang Serangan Jantung ke Rumah Sakit, Keluarga Berterimakasih

Sebab, baru-baru ini, layanan ride sharing tersebut bekerja sama dengan Cargo, perusahaan yang berbasis di New York untuk melengkapi pengemudi dengan kotak berisikan makanan ringan, minuman, produk kecantikan dan lainnya untuk di tawarkan kepada penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari laman wsls.com (5/6/2018), pengadaan kotak-kotak ini akan dibagikan pada sekitar seribu pengemudi Grab di Singapura mulai minggu ini dan untuk kawasan lainnya menyusul.

“Kami semua menghabiskan begitu banyak waktu di kendaraan-kendaraan angkutan umum sehingga rasanya harus ada cara untuk berinovasi dalam pengalaman itu,” kata CEO Cargo Jeff Cripe.

Penggunaan layanan ini sendiri sangat mudah bagi penumpang, dimana mereka bisa memesan produk yag diinginkan melalui aplikasi Grab di ponsel dan menambahkan biaya untuk tarif mereka. Sedangkan bagi pengemudi, layanan ini adalah kesempatan untuk mendapatkan uang lebih banyak dalam perjalanan mereka.

Cripe mengatakan, pegemudi yang menawarkan layanan Grab & Go bisa meningkatkan peringkat kepuasan penumpang mereka dan mendapat tambahan sebanyak US$190 atau Rp2,3 juta setiap bulannya. Pengemudi akan menghasilkan uang setiap kali penumpang membeli barang atau mengambil sampel gratis dari kotak tersebut.

“Mereka tidak akan mengambil risiko keuangan dimuka. Karena semua inventaris itu secara gratis,” ujar Cripe.

Dengan adanya kerja sama tersebut, Grab mencari cara baru untuk menghasilkan uang dari puluhan juta pelanggannya. Tak hanya bermitra dengan Cargo, Grab sendiri baru-baru ini memperluas jaringannya dengan pengiriman makanan dan pembayaran digital serta mendorong masyrakat menggunakan platformmnya untuk mentransfer uang ke teman dan melakukan pembelian di restoran atau toko.

Selain dengan Grab, Cargo juga bekerja sama dengan Uber dan Lyft di Amerika Serikat. Diketahui, di Amerika Serikat, Cargo bekerja sama untuk minuman dengan ritel Coca-Cola dan Kellogg.

Seorang analis e-commerce dan ritel di firma riset Forrester, Sucharita Kodali mengatakan, pendekatan Cargo menawarkan saluran distribusi baru untuk merek ritel.

“Idenya adalah bahwa jika orang tidak pergi ke toko, bawalah toko itu kepada mereka,” ujar Kodali.

Sayangnya, sulit bagi startup seperti Cargo untuk membangun bisnis dengan skala signifikan. Sebab, ini sangat membutuhkan banyak mobil untuk mendapatkan distribusi yang layak.

“Satu pengemudi Uber atau Lyft tidak akan menyentuh banyak orang dalam sehari. Setiap mobil akan menghasilkan kurang dari satu mesin penjual otomatis,” tambah Kodali.

Cargo mengatakan itu bertujuan untuk mencapai 25 juta penumpang di 20 ribu kendaraan pada akhir tahun. Pengemudi sudah menggunakan platform Cargo di tujuh kota Amerika Serikat, termasuk New York dan Chicago.

Baca juga: Atasi Pengemudi ‘Nakal,’ Grab Filipina Terapkan Kebijakan Baru

Dia mengatakan itu memiliki banyak minat dari daerah di mana Cargo belum beroperasi. Bagian terbesar dari tantangan hanya memperluas dan benar-benar mengaktifkan pengemudi.

Tapi sementara uang ekstra bisa membuat perbedaan untuk driver, pendapatan dari bisnis tidak mungkin mengubah permainan untuk perusahaan-perusahaan besar yang menumpang. Jika ternyata menjadi lebih menguntungkan dari yang diharapkan, Uber dan yang lain hanya bisa menyiapkan platform mereka sendiri dan memotong Cargo.