TSA Kembangkan Alat Pendeteksi Bom di Stasiun Kereta Bawah Tanah New York

Sumber: iStock

Maraknya teror bom yang terjadi pada moda transportasi membuat sebagian lapisan masyarakat enggan lagi untuk menggunakan layanan tersebut dilandaskan pada rasa trauma yang menghinggapi. Jika dikaji lebih jauh, tentu hal seperti ini akan berdampak tidak hanya sebatas pada penumpang yang ada di dalam moda transportasi tersebut, melainkan kepada keseluruhan jaringan moda bersangkutan.

Baca Juga: Antisipasi Bom Sepatu Terulang, Perusahaan Asal Inggris Kembangkan Sistem Pemindai Revolusioner

Guna mencegah hal berbau terorisme tersebut kembali terulang, Transportation Security Administration (TSA) telah mengembangkan sebuah teknologi  yang mampu mendeteksi bom di Penn Station, New York. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (28/2/2018), Senator Amerika Serikat, Charles Schumer sebelumnya menyatakan bahwa alat pendeteksi bom ini merupakan pengembangan dari teknologi yang sebelumnya sudah ada.

Charles menuturkan bahwa tahun lalu, teknologi pendeteksi bom yang dimiliki TSA berhasil mencegah serangan teror bom bunuh diri dengan metode rompi peledak. Namun, teknologi tersebut belum menjalani uji coba secara resmi di New York City. “Ketika saya ingin memboyong tekonologi ini ke New York City, kami harus menyempurnakannya terlebih  dahulu,” ungkap Charles. “Jika teknologi pendeteksi bom ini berhasil melewati masa uji cobanya, maka New York City yang diharapkan menjadi pusat transit tersibuk akan segera terlaksana,” imbuhnya.

Tidak serta merta Charles ingin memperkenalkan teknologi pendeteksi bom ini ke New York City. Hal ini dilandasi pada sebuah insiden yang terjadi pada bulan Desember lalu, dimana seorang teroris berhasil meledakkan sebuah bom tersembunyi di jaringan kereta bawah  tanah kota New York. Kejadian tersebut membuat si pelaku mengalami luka yang cukup serius. Untungnya, tidak ada korban lain yang jatuh akibat ledakan ini, baik korban luka maupun jiwa.

Teknologi TSA yang bernama ‘Stand Off Explosive Detection Technology’ ini dimaksudkan untuk membantu petugas keamanan dalam mendeteksi bahan peledak yang  biasanya  disembunyikan oleh para tersangka, baik di dalam barang bawaan atau di tubuh mereka sendiri. Nantinya, Stand Off Explosive Detection Technology ini mampu mendeteksi eksistensi dari objek yang berpotensi menimbulkan ancaman, ketika yang bersangkutan melewati perangkat ini.

Baca Juga: Tangkal Terorisme, Larangan Bawa Laptop ke Dalam Kabin Dipandang Tak Efektif

TSA sendiri telah mengembangkan teknologi ini sejak tahun 2004 silam, dengan menggaet sejumlah instansi terkait, seperti Amtrak dan New Jersey Transit. Untuk Stand Off Explosive Detection Technology sendiri sebenarnya telah diadopsi oleh sejumlah petugas keamanan untuk  melancarkan kelangsungan dari sebuah perhelatan, namun sayangnya tidak untuk dunia transportasi.