MRT Jakarta Adopsi Teknologi CBTC, MRT di Jepang Justru Belum

Dua rangkaian kereta MRT Jakarta telah tiba di Jakarta dan kini berada di Depo Lebak Bulus untuk melanjutkan tahapan integrated and commissioning. MRT dengan tenaga listrik produksi Nippon Sharyo ini dilengkapi beragam fitur canggih di kelas moda komuter, bahkan ada satu teknologi di MRT Jakarta yang justru belum diterapkan pada rangkaian MRT di Jepang. Tentu ini menarik perhatian, justru MRT Jakarta lebih unggul daripada MRT yang dioperasikan di Jepang.

Baca juga: Anies: Bukan Sekedar Alat Transportasi, MRT Juga Pembentuk “Budaya” Baru di Jakarta

Teknologi yang dimaksud adalah Communication Based Train Control (CBTC). Persisnya ini merupakan teknologi persinyalan kereta generasi terbaru yang dirancang untuk jaringan kereta bawah tanah dan moda transportasi modern lain. Dengan basis sistem nirkabel, CBTC dapat mengumpulkan informasi tentang kereta secara realtime, seperti informasi posisi kepada pusat kendali lewat send back control signals.

Manfaat lain dari adopsi CBTC yakni dapat mengurangi penempatan peralatan pendukung di sepanjang lintasan rel. Dengan adanya CBTC, maka pusat kendali kereta atau Operation Control Center (OCC) yang berada di Depo Lebak Bulus dapat melakukan pengendalian trafik kereta secara lebih presisi, efektif dalam mengendalikan kecepatan, serta efisiensi dapat ditingkatkan berkat pemantauan kereta secara terpadu.

Sementara pada kabin masinis, terdapat Driver Machine Interface (DMI) yang berfungsi untuk memunculkan indikasi terkait sinyal yang ditampilkan oleh sistem CBTC. Dengan menggunakan moving block dimungkinkan blok kereta yang fleksibel, berubah-ubah, dan bergerak sesuai dengan pergerakan kereta dan parameternya sehingga operator dapat mengetahui lokasi kereta dengan lebih akurat dan mengatur jumlah kereta yang beroperasi.

Dibanding teknologi selama ini yang mengandalkan sistem sinyal konvensional, CBTC dipandang lebih aman dan akurat dalam mengeloka lalu lintas kereta.

Sebagai teknologi yang berbasis nirkabel, CBTC mengadopsi frekuensi 2,4 Ghz yang tidak memerlukan lisensi. Frekuensi yang biasa digunakan pada WiFi (wireless fidelity) ini juga memudahkan implementasi oleh banyak operator kereta di dunia. Walau ada di frekuensi 2,4 Ghz, namun CBTC dirancang cukup kuat untuk mencegah interferensi dari sinyal yang dipancarkan perangkat lain. Dan CBTC sudah dipersiapan untuk diterapkan dalam kondisi kritis.

Baca juga: Samsung Electronics Luncurkan LTE Railway Perdana di Korea Selatan

Lebih dari 30 jaringan kereta di dunia telah mengadopsi CBTC, sebagai contoh MRT di Singapura sejak 2009 sudah menggunakan CBTC. Sementara pemasok teknologi CBTC yang terkenal adalah Alstom, Thales, Siemens, Bombardier, Invensys dan Nippon Signal.