Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam

Sumber: railway-technology.com

Layanan kereta malam telah mengalami penurunan drastis dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, dan banyak yang khawatir bahwa kurangnya investasi akan berpengaruh terhadap berkurang jumlah penumpang dan para pesaing mereka dari sektor transportasi lainnya sudah bisa menebak akhir dari layanan ini.

Parlemen Eropa baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan yang meninjau apakah layanan kereta malam masih layak untuk diselamatkan, dan apa yang dapat dilakukan oleh Negara Anggota Uni Eropa untuk memastikan kelangsungan hidup mereka.

Baca Juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia

Kereta malam penumpang telah beroperasi sejak pertengahan 1800-an. Layanan pertamanya dijadikan sebagai tulang punggung untuk perjalanan jarak jauh yang praktis, namun lama kelamaan dijadikan sebagai salah satu simbol kereta retro yang distimulasi oleh budaya populer dan daya tarik nostalgianya. Di seluruh Eropa, jumlah layanan ini makin merosot terhitung sejak 50 tahun lalu. Pecahnya Perang Dunia II menjadi titik anjloknya layanan ini, ditambah dengan kehadiran layanan perjalanan udara, layanan kereta cepat, hingga meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi. Hal-hal tersebut sontak membuat pamor layanan kereta malam semakin menurun.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (1/8/2017), hingga tahun 2016 kemarin, tercatat hanya ada 11 negara di Uni Eropa yang masih menggunakan layanan kereta malam ini. Baru-baru ini, European Parliament’s Committee on Transport & Tourism merilis sebuah laporan mengenai kereta malam dimana laporan tersebut merinci tentang kelayakan finansial, ekonomi, sosial, dan pasar dari kereta malam tersebut. Secara mengejutkan, laporan tersebut menunjukkan bahwa layanan kereta malam tersebut masih berkontribusi terhadap kebutuhan mobilitas warga Eropa.

Adapun alasan mengapa layanan kereta ini diusulkan untuk dihapuskan salah satunya adalah keterbatasan kapasitas infrastuktur. Diantara sekian banyak alasan, keterbatasan infrastruktur inilah yang paling vokal.

Tantangan yang dihadapi oleh mode transportasi kuno semacam ini beragam. Pertama, keterbatasan kapasitas infrastruktur disebut-sebut sebagai alasan utama banyak penutupan. “Layanan kereta malam mungkin tidak bisa berjalan secara praktis, entah bagaimana cara mereka (operator) mengenakan biaya tambahan pada manajer infrastruktur, atau bagaimana cara mereka untuk bersaing dengan layanan lain,” ungkap laporan tersebut.

Baca Juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

Sama halnya dengan investasi di koridor rel kecepatan tinggi juga sangat berkontribusi terhadap fase progresif layanan kereta malam. Ini juga sedikit banyaknya berpengaruh terhadap eksistensi layanan tersebut. Bahkan bagi mereka yang lebih memilih perjalanan kereta api konvensional, beberapa perjalanan yang sebelumnya dilayani oleh kereta malam kini bisa dilakukan dengan kereta api tersebut dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam saja.

Selain itu, faktor ekonomi seperti biaya produksi unit tinggi, tempat tidur dan fasilitas toilet, jam kerja staf yang lebih lama serta penggunaan bahan bakar yang lebih banyak, semuanya berkontribusi terhadap melonjaknya biaya operasional kereta malam yang lebih tinggi daripada layanan kereta pada siang hari.

Untuk mencegah punahnya layanan ini, banyak pihak yang mengajukan beragam ide agar layanan kereta malam ini bisa tetap menyambung nyawa. Seperti mengalihfungsikan layanan kereta malam menjadi kereta tur, hingga menawarkan layanan perjalanan dengan harga yang lebih murah ketimbang layanan kereta pada siang hari. Namun laporan tersebut menampik bahwa cara ini memerlukan perombakan dari segi modanya sendiri. Seperti yang diketahui dewasa ini, gerbong kereta malam bisa dibilang cukup sederhana dengan tempat duduknya yang standar, sama seperti layanan kereta pada siang hari.

Dalam level Internasional, eksistensi layanan kereta malam bergantung pada kemauan negara-negara Uni Eropa untuk bekerja sama dan menyetujui serangkaian tindakan, seperti menetapkan biaya infrastuktur kereta malam yang lebih rendah di bawah Public Service Obligation (PSO), sehingga mengikat para operator kereta malam berdasarkan hukum yang berlaku, termasuk dalam hal penyediaan layanan berdasarkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Baca Juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?

Sementara itu, para penggemar berat dari layanan kereta malam nampaknya harus siap-siap gigit jari, karena masa depannya yang terlihat tidak terlalu terang. Kecuali jika lebih banyak lagi pemerintah Uni Eropa yang secara tak terduga memutuskan untuk menjauhi investasi di kereta berkecepatan tinggi dan mendanai kebangkitan kereta malam sebagai gantinya.