Tak Mau Ambil Risiko, Uber Kembangkan Riset dan Tinjau Mekanisme Layanan Taksi Udara

Sumber: newatlas.com

Keseriusan Uber dalam menyediakan layanan taksi udara tak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih harus menunggu ketukan palu dari pihak regulator tentang keabsahan pengoperasiannya kelak, namun Uber seolah tidak ingin upayanya tersebut berjalan di tempat. Jika ditinjau lebih mendalam, hadirnya layanan semacam taksi udara memang diperkirakan dapat memecah konsentrasi kepadatan kendaraan di darat yang belakangan ini sudah semakin tidak bisa ditolerir.

Baca Juga: Inilah Layanan Antar Kirim Barang (Juga Makanan) via Jalur Udara Versi Uber!

Maka dari itu, perusahaan yang didirikan atas jasa Travis Kalanick dan Garrett Camp ini terus mengembangkan inovasinya yang diberi nama Uber Elevate. Setelah dalam pemberitaan terakhir Uber memutuskan untuk memprakarsai jasa pengiriman menggunakan drone, kini perusahaan yang didirikan pada Maret 2009 ini diketahui tengah mempersiapkan program riset taksi terbangnya tersebut yang berfokus di Perancis.

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/5/2018), ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan Uber sebelum merealisasikan salah satu impian perusahaannya ini. Sebut saja penggunaan baterai yang compatible menjadi salah satu fokus perusahaan. Dapat Anda bayangkan jika si taksi udara yang tengah menjalankan tugasnya kelak dan mengalami masalah pada baterai? Terjun bebas dari ketinggian bersama penumpang merupakan gambaran paling nyata yang terpampang.

Di luar daripada konteks baterai, penggunaan mesin pun Uber kudu pilah-pilih. Mereka enggan menerima komplain dari penumpang akibat ada kendala pada bagian mesinnya, atau mengantarkan penumpang dengan kondisi perjalanan yang tidak mulus akibat penggunaan mesin yang kurang andal. Uber sangat mencegah hal tersebut terjadi.

Di Advanced Technologies Center Paris (ATCP), pusat penelitian pertama di luar Amerika Utara, Uber mengatakan fokus pertamanya adalah membangun sistem intelijen buatan dan manajemen lalu lintas udara. Ini akan menjadi kunci, katanya, untuk penerbangan demonstrasi pertama yang direncanakan untuk 2020 mendatang.

Baca Juga: Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia

Pihak Uber juga mengungkapkan telah meneken kontrak kerja lima tahun bersama École Polytechnique Fédérale de Lausanne, sebuah lembaga asal Swiss yang memiliki catatan impresif di sektor robotika dan drone. Kemitraan ini akan mengeksplorasi pendekatan baru untuk manajemen lalu lintas udara, termasuk bagaimana mengintegrasikan taksi terbang di langit Eropa. Kucuran dana sebesar US$23 juta atau yang setara dengan Rp322 miliar telah dikeluarkan dari kas Uber guna menjalin kerja sama selama lima tahun ke depan ini.