“Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Stasiun Warungbandrek

Siapa tak kenal Bandrek, minuman berbahan dasar jahe dan gula merah ini merupakan minuman khas orang Sunda. Agar lebin sedap, minuman ini biasanya ditambahkan rempah-rempah seperti serai, merica, pandan, telur ayam kampung dan lainnya. Bandrek identik diminum kala cuaca dingin atau pada malam hari untuk menghangatkan tubuh. Bandrek sendiri dipercaya orang Indonesia bisa menyembuhkan berbagai penyakit ringan seperti sakit tenggorokan, batuk, masuk angin dan lainnya.

Baca juga: Menipu! Terdengar Sangat “Eropa,” Padahal Stasiun ini Terletak di Jawa Timur

Tapi tahukah Anda, bahwa identitas Bandrek ternyata juga diangkat sebagai nama stasiun kereta api. KabarPenumpang.com menemukan fakta, bandrek tak hanya digunakan untuk nama minuman tetapi sebuah stasiun yakni stasiun Warungbandrek (WB).

Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil yang terletak di Sukalilah, Cibatu, Garut, Jawa Barat. Seringkali nama stasiun di Indonesia menggunakan nama makanan atau lainnya dan biasanya filosofinya bukanlah dari hal tersebut, melainkan dari nama kota dimana stasiun itu berada seperti “Baso” yang ternyata berada di daerah bernama Baso.

Berbeda dengan nama stasiun lainnya di Indoneisa, stasiun Warungbandrek dinamakan begitu karena dulunya ada warung disekitaran stasiun yang menjual bandrek atau minuman khas Jawa Barat ini. Stasiun Warungbandrek berada di ketinggian +612 meter dan memiliki dua jalur kereta api dengan jalur duanya sebagai sepur lurus.

Stasiun Warungbandrek saat ini masih beroperasi atau aktif, hanya saja tidak ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini kecuali jika terjadi persilangan dan persusulan antar kereta api. Tahun 2017 tepatnya pada Desember kemarin, terjadi rel amblas di dekat stasiun Warungbandrek ini tepatnya di km 227 +3/4.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Ini membuat kereta yang melalui jalur tesebut tak bisa melalui rel dan membuat kereta memutar dan menggunakan feeder bus ke stasiun berikutnya untuk melanjutkan dengan kereta api. Kereta tersebut kemudian berhenti di stasiun Tasikmalaya untuk KA Turangga dan Lodaya yang menuju Bandung. Pemberhentian di stasiun Ciawi untuk KA Kahuripan menuju Bandung, sedangkan KA Serayu baik dari dan tujuan Senen penumpang berhenti di Cibatu. Setelah di buka pun, kereta yang melalui saat itu hanya dibatasi lima kilometer per jamnya.