Pengamat: Pilot TNI AU Butuh Waktu Transisi Untuk Menerbangkan Pesawat Garuda Indonesia

Sumber: 43airschool.com

Atas dukungan negosiasi dari Menko Maritim Luhut B Panjaitan, rencana mogok ribuan pilot dan karyawan Garuda Indonesia akhirnya dapat diurungkan. Namun seperti telah diwartakan sebelumnya, pihak manajemen Garuda Indonesia sedari awal telah menyiapkan langkah mitigasi jika aksi mogok benar-benar dijalankan. Rencana mogok kerja yang sedianya berjalan di awal Juni 2018, jika terjadi dipastikan akan mengganggu pelayanan dan jadwal penerbangan, terlebih saat jelang peak season Mudik Lebaran 2018.

Baca juga: Menko Maritim Turun Tangan, Rencana Mogok Pilot dan Karyawan Garuda Indonesia Pun Batal

Merujuk ke beberapa pemberitaan, langkah mitigasi yang bakal dijalankan Garuda Indonesia adalah dengan menggandeng pihak TNI AU untuk menyiapkan pilot pengganti sementara. “Kami sudah meminta bantuan pilot TNI untuk dipinjamkan dan sudah disetujui oleh KSAU” ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Hengki Heriandono, dikutip dari tribunnews.com (3/6/2018).

TNI AU seperti diketahui memiliki beberapa skadron angkut dengan basis tipe pesawat komersial, khususnya di platform Boeing 737 series, jenis pesawat narrow body yang ‘serupa’ dengan yang digunakan Garuda Indonesia. Untuk misi tersebut, Hengky menjelaskan jumlah pilot TNI AU yang akan membantu operasional Garuda Indonesia tidak akan mencapai 100 orang.

Langkah mitigasi Garuda Indonesia dan kesiapan TNI AU tentu layak diapresiasi, namun apakah penerbang TNI AU bisa langsung mengawaki armada pesawat Garuda Indonesia? Jawaban untuk ini bisa beragam.

Saat ini Garuda Indonesia mengoperasikan 71 unit Boeing 737-800 dan satu unit Boeing 737 MAX8, pesawat twin jet tersebut digadang Garuda Indonesia untuk melayani rute domestik dan luar negeri jarak sedang. Sementara TNI AU atas hibah dari Garuda Indonesia dan Lion Air mengoperasikan Boeing 737-400/500. Memang di kelas Boeing 737 ada kesamaan penggunaan antara TNI dan Garuda Indonesia, tapi yang jadi pertanyaan, apakah pilot Boeing 737 TNI bisa langsung mengawaki Boeing 737 Garuda Indonesia yang disebut Next Generation?

Pengamat dunia penerbangan, Gerry Soejatman menjelaskan kepada KabarPenumpang.com. “Secara teori dibutuhkan waktu transisi bagi pilot Boeing 737-400/500 untuk benar-benar menguasai instrumen Boeing 737-800/MAX8. Waktu transisi diperlukan karena adanya perbedaan generasi dan type rating terpisah. Waktu transisi biasanya digunakan untuk ground school sampai pelatihan dalam simulator selama 12 jam,” ujar Gerry. Ia menambahkan, waktu transisi yang dibutuhkan idealnya tidak kurang dari dua minggu, namun jika dipercepat bisa saja menjadi satu minggu dengan beragam konsekuensi.

Baca juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Itu semua baru mengatasi persoalan menerbangkan satu jenis pesawat, sementara Garuda Indonesia mengoperasikan beberapa jenis pesawat, termasuk jenis wide body seperti Boeing 777 dan Airbus A330. Nah, khusus untuk mitigasi pesawat wide body rasanya Garuda Indonesia tak bisa menggandeng TNI AU, jika terjadi mogok, maskapai plat merah ini kemungkinan harus menyewa pilot asing. Dan ketika keputusan menggunakan pilot asing ditempuh, maka persoalan antara manajemen dan pilot akan semakin membesar.