Hadir dengan Aplikasi Pemesanan, Akankah Bisnis Taksi Helikopter Naik Daun?

Ilustrasi taksi helikopter (usamatech.com)

Taksi helikopter memang bukan isapan jempol, namun karena tarifnya yang terbilang tinggi membuat penetrasi bisnis angkutan berbasis charter ini belum bisa mengena pada pasar yang luas. Sejak dua dekade silam, di Indonesia sudah ada beberapa operator yang menjajakan helikopter sebagai sebagai wahana taksi terbang. Dengan kehadiran helikopter charter ini, seperti menawarakan bagi pengguna jasa untum melarikan diri dari kota besar yang sesak dengan lalu lintas yang padat.

Belum lama ini, sebuah layanan terbaru digadang jauh lebih murah dibandingkan dengan helikopter sistem charter, bahkan lebih mudah diakses publik hanya dengan ponsel pintar dan kartu kredit untuk memesan perjalanan mereka.

Baca juga: Lion Bizjet Tawarkan Taksi Udara Bertarif Rp47 Juta Per Jam

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman thestar.com (11/5/2018), Sameer Rehman, direktur pengelola Bell Helicopter Asia Pasifik mengatakan produsen helikopter memprediksi lebih banyak layanan seperti ini dibagian lalu lintas pada Asia Tenggara.

“Itu dapat direplikasi di seluruh kota dan negara lain di Asia-Pasifik,” ujar Rehman.

Layanan lainnya juga yang belum lama hadir di Indonesia tepatnya di Jakarta, bernama Helicity yang dioperasikan oleh Whitesky Aviation dan memiliki 60 pelanggan setiap bulannya. Pelanggannya adalah sebagian besar dari dunia bisnis.

Helicity (Google Play)

Pengguna Helicity dari bandara menuju Jakarta selama 20 menit, akan dikenakan tarif Rp6 juta untuk empat orang dan penerbangan 45 menit dari Jakarta ke Bandung akan dikenakan tarif Rp14 juta. Harga ini lebih terjangkau dibandingkan dengan masa lalu yang mengenakan jika di charter secara pribadi dengan pembayaran minimum sekitar US$250 perbulannya atau sekitar Rp3,5 juta.

Ini pun tak mudah bagi Whitsky karena bulan lalu armada mereka jatuh di pulau Sulawasi saat terbang di atas area pertambangan yang menewaskan satu orang dan empat lainnya luka. Chief executive Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja mengatakan, saat ini mereka memiliki lima armada helikopter yang melayani masyarakat dan terbang dari jam enam pagi hingga enam sore.

“Kami sedang dalam proses mendapatkan lebih banyak jam operasi, sehingga bisa menjadi operasi 24/7. Kami berharap peraturan baru semacam ini akan memungkinkan kami mengembangkan bisnis,” ujar Denon.

Di Bangalore, salah satu kota terpadat di India, HeliTaxii baru saja diluncurkan pada Maret kemarin yang menawarkan perjalanan dari bandara ke taman industri IT Electronic City dengan biaya US$65 atau sekitar Rp612 ribu perorangya.

HeliTaxii di Bangalore diizinkan terbang dari pukul 06.30 hingga 10.00 pagi waktu setempat, kemudian pukul 15.00 hingga 18.00 waktu setempat. Sedangkan popularitas layanan ini sendiri semakin meningkat.

Baca juga: Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara

Namun, para pengamat mengatakan, tidak akan mungkin dengan jumlah yang besar taksi helikopter melaju di langit meski harga lebih rendah dari sebelumnya. Meskipun pertumbuhan aplikasi seperti itu, pemain industri memperingatkan masih ada rintangan besar selain waktu terbang.

Salah satunya adalah menemukan lokasi take off dan landing yang cocok, terutama di kota-kota Asia. Helipad telah bermunculan dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir tetapi sejumlah besar bersifat pribadi dan para pengamat memperingatkan banyak yang belum disertifikasi sebagai aman oleh otoritas penerbangan.