Hadapi Musim Mudik Lebaran 2018, Garuda Indonesia Keluarkan Jurus ‘Tandur’

Musim mudik 2018 sudah mulai bergulir sejak beberapa hari yang lalu, tidak heran jika banyak perusahaan penyedia jasa layanan transportasi telah dibuat “kalang kabut” oleh tradisi turun menurun yang menjadi salah satu ciri khas dari perayaan Hari Raya Idul Fitri ini, tidak terkecuali Flag Carrier Garuda Indonesia. Kendati sempat diterpa oleh sejumlah isu yang beredar seperti ancaman aksi mogok yang dilakukan oleh sejumlah pilot, namun secara keseluruhan, maskapai plat merah ini menyatakan siap untuk melayani perjalanan penumpang yang hendak pulang ke kampung halaman masing-masing.

Baca Juga: Pengamat: Pilot TNI AU Butuh Waktu Transisi Untuk Menerbangkan Pesawat Garuda Indonesia

Berdasarkan liputan langsung KabarPenumpang.com di Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (11/6/2018), Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury mengatakan bahwa jumlah penerbangan yang dijabani oleh Garuda Indonesia sendiri mencapai 612 penerbangan per hari. “Bahkan pada beberapa saat yang lalu mencapai lebih dari 630 penerbangan,” ujarnya di hadapan awak media.

Merujuk pada arahan dari Kementerian Perhubungan, Pahala mengatakan periode peak season ini berlangsung sejak tanggal 8 hingga 24 Juni. “Untuk puncak peak season ini kita lihat jatuh pada tanggal 9 kemarin, namun kita masih harus siaga untuk kemungkinan puncak peak season kedua yang jatuh pada tanggal 13 mendatang,” jelasnya.

Lebih dari itu, demi tercapainya kelancaran arus mudik 2018 via jalur udara, pihak Garuda Indonesia sendiri menambah kapasitas kursi penerbangan. “Kami menambah sekitar 150.000 kursi,” paparnya. Adapun penambahan kapasitas penerbangan tambahan tersebut terdiri dari 768 frekuensi penerbangan tambahan yaitu 480 penerbangan Citilink dan 288 penerbangan Garuda Indonesia, dimana angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 45 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 107.750 kursi.

Pun dengan kehadian self check-in counter yang sedikit banyaknya berperan untuk mengurai konsentrasi kepadatan penumpang. “Hal tersebut terbukti cukup efektif mengurai antrian check in penumpang. Adapun mulai periode peak season ini prosentase pengggunaan self check-in ini meningkat sebesar 10 persen dibandingkan dengan periode reguler”, paparnya.

Soal On-Time Performance, Pahala sendiri menyampaikan bahwa hingga saat ini semuanya masih berada di zona aman, yaitu di angka 90 persen. “Kami juga berhasil me-maintain capaian OTP sebesar 86 persen pada periode 8-10 Juni 2018. Khusus ditanggal 10 Juni lalu OTP Garuda Indonesia bahkan menyentuh angka 90 persen,” jelas Pahala. “Kami pun terus berharap agar situasi kondusif seperti ini dapat berlangsung sampai peak season berakhir,” imbuhnya.

Di sisi lain, Saehu Nurdin selaku VP Production & Operation Control Garuda Indonesia mengatakan bahwa fenomena keterlambatan pemberangkatan semacam ini memang lumrah adanya, “karena ada banyak sekali aspek yang mempengaruhi terjadinya delay, semisal cuaca, kepadatan di bandara, dan lain-lain.” Lebih lanjut, fenomena delay musim mudik 2018, ujar Saehu, pun turut disebabkan oleh frekuensi penerbangan yang bertambah. “Semua maskapai menambah kapasitas, menambah frekuensi (penerbangan), otomatis pergerakan makin banyak. Pergerakan yang banyak tersebut akan berdampak pada penyesuaian traffic, dimana itu akan berpengaruh juga (terhadap delay),” terangnya. Kendati begitu, Saehu menambahkan bahwa keterlambatan Garuda Indonesia tersebut masih acceptable.

Baca Juga: Sekilas Mirip Layanan LCC, Garuda Indonesia Rilis Subclass Eco-Basic

Ada hal unik terjadi dalam kunjungannya ke Terminal 3 Ultimate hari ini, sebagai bentuk apresiasi Pahala kepada para penumpang, dirinya membagi-bagikan cokelat kepada para penumpang yang hendak mengudara bersama maskapai nomor wahid di Tanah Air ini.