Monday, April 7, 2025
HomeBandaraTanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sebelum badai Covid-19 menerpa industri penerbangan, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun lalu menyebutkan, ada sekitar 4,5 miliar perjalanan penumpang di seluruh dunia. Menurut data dari Airport Council Internasional, lebih dahsyat lagi, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun sebelumnya dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen.

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Terlepas dari kedua perbedaan data tersebut, tingginya lalu lintas penerbangan komersial membuat di beberapa bandara tampak luar biasa sibuk. Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (Georgia, AS), misalnya, tercatat melayani sekitar 107,4 juta penumpang sepanjang tahun 2019.

Dalam satu hari, bandara tersebut disinyalir mampu menampung 275.000 orang dengan rata-rata 2.700 kedatangan dan keberangkatan pesawat. Artinya, bila dalam satu hari terdapat 24 jam atau 1.440 menit, maka, hampir setiap satu-lima menit Bandara Atalanta memberangkatkan pesawat. Tak ayal, dalam kondisi itu, beberapa pesawat tampak antre di taxiway, menunggu giliran terbang, mirip seperti deretan pesawat militer saat tengah melakukan elephant walk sebelum show.

Dikutip dari laman Indomiliter.com, Elephant Walk adalah sebuah istilah yang dipopolerkan Angkatan Udara AS (USAF) untuk menyebutkan iringan pesawat yang berbaris panjang secara rapat menuju landasan pacu sesaat sebelum lepas landas. Aktivitas ini seringkali dilaksanakan sebelum minimum interval take-off (MITO). Jadi sama sekali tak berlaku dalam kasus deretan pesawat serupa elephant walk pada pesawat sipil.

MITO atau lepas landas interval minimum, adalah teknik yang dipakai USAF untuk scrambling seluruh armada pembom dan tanker yang ada di suatu pangkalan udara. Interval yang digunakan adalah 12 detik untuk bomber dan 15 detik untuk tanker. Sebelum lepas landas, pesawat melakukan Elephant Walk menuju landasan pacu. Dilihat sudut definitif, hakikatnya, kepadatan atau antrean pesawat komersial di Bandara Atalanta memang tak jauh berbeda dengan Elephant Walk pada militer. Mungkin, perbedaan mencolok ada pada interval. Bila militer dalam hitungan detik, maka di pesawat komersial masih berkisar pada hitungan menit.

Istilah ini muncul pertama kali semasa Perang Dunia II ketika armada besar pembom Sekutu akan melakukan serangan besar-besaran terhadap instalasi milik Nazi Jerman. Kala itu melibatkan 1.000 pesawat yang diberangkatkan dari beberapa pangkalan milik Sekutu.

Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik?

Teknik ini dikembangkan semasa Perang Dingin antara AS dengan Uni Soviet. Dirancang untuk memaksimalkan jumlah pesawat yang diluncurkan dalam waktu sesingkatnya (persiapan kurang dari 15 menit) sebelum pangkalan itu musnah akibat serangan nuklir lawan.

Bukan sebagai gaya-gayaan, Elephant Walk juga memperlihatkan kemampuan kerja sama unit dan tim. Kegiatan ini sering dilakukan untuk mempersiapkan skadron yang sedang terlibat operasi perang serta mempersiapkan pilot untuk meluncur dengan pesawat bersenjata lengkap dalam satu misi yang melibatkan banyak pesawat.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru