Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Bagian dalam terowongan Seikan (www.railway-technology.com)

Bila Channel Tunnel atau Euro Tunnel dikenal sebagai terowongan kereta terpanjang kedua di dunia, maka yang menjadi nomer satu terpanjang di dunia adalah terowongan Seikan di Jepang. Dengan panjang 53,85 km terowongan Seikan menghubungkan antara Pulau Honsu dan Pulau Hokkaido. Terowongan ini melalui Selat Tsugaru dan menjadi terowongan kereta api terdalam dan terpanjang dunia.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

KabarPenumpang.com melansir dari laman railway-technology.com, bahwa sekitar 2,3 km dari terowongan ini berada di dasar laut dan menjadikannya terowongan bawah laut terpanjang di dunia. Pembangunan terowongan ini setidaknya menghabiskan dana senilai US$3,6 miliar atau sekitar Rp49 triliun.

Pembangunan terowonngan Seikan dimulai dari konsepnya yang dibuat dari tahun 1939-1940 dan pembangunannya dimulai 1971 serta selesai tahun 1988. Proyek ini dikembangkan oleh Japan Railway Construction, Transport and Technology Agency dan dioperasikan oleh JR Hokkaido.

Terowongan Seikan (www.railway-technology.com)

Saat ini sekitar 50 kereta melakukan perjalanan melalui terowongan setiap harinya. Lokomotif yang digunakan untuk melalui terowongan ini adalah ED79 dan EH500 yang digunakan untuk mengangkut barang serta penumpang sejak Maret 1988.

Terowongan Seikan memiliki jalur tiga lempeng yang mampu menjalankan kereta peluru Shinkansen. Terowongan ini sendiri memiliki dua stasiun kereta api yakni Tappi Kaitei di Pulau Honsu dan Yoshioka Kaitei di Pulau Hokkaido.

Stasiun-stasiun ini merupakan stasiun kereta api pertama yang dibangun dibawah laut dan juga sebagai tempat mengungsi jika terjadi bencana. Stasiun ini dilengkapi kipas angin untuk menghilangkan asap, sistem alarm kebakaran infra merah dan semprotan air untuk meningkatkan keselamatan penumpang.

Diketahui, konstruksi terowongan dimulai pada September 1971 yang meliputi pengeboran dan peledakan melalui zona rawan gempa. Bahan peledak yang dihabiskan sekitar 2.900 ton dan 168 ribu ton baja untuk konstruksi terowongan.

Pembangunan pintu masuknya dilakukan Agustus 1982 dan penggalian bagian bawah air dimulai tahun 1983. Terowongan ini awalanya hanya terdiri dari satu jalur pengukur tunggal, namun kemudian diubah menjadi alat pengukur ganda dan terhubung ke sistem Shinkansen sebagai bagian dari proyek Hokkaido Shinkansen tahun 2005 lalu.

Saat ini lokomotif listrik EH800 Bo-Bo+Bo-Bo dari Toshiba sudah melintas di terowongan ini sejak tahun 2014 kemarin untuk menggantikan ED79 dan EH500. Lokomotif baru ini memiliki panjang 25 meter dengan kekuatan daya 4MW dan berjalan dikecepatan 110 km per jam.

Baca juga: 10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya?

Terowongan tersebut juga memfasilitasi perjalanan kereta peluru Shinkansen dari tahun 2016. Sistem listrik di terowongan akan ditingkatkan dari 20kV menjadi 25kV untuk memudahkan kereta Shinkansen. Kecepatan kereta api dibatasi sampai 140 km per jam selama dua tahun pertama beroperasi untuk menghindari risiko menggelincirkan kereta pengangkut barang di area yang sempit.