Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan keuangan maskapai di seluruh dunia. Hal itu disebabkan turunnya jumlah perjalanan penumpang, sebagai dampak adanya lockdown serempak di hampir seluruh negara.
Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu
Sejalan dengan itu, jutaan lapangan pekerjaan di sektor aviasi pun hilang. Akhir April lalu, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) memperkirakan, ada sekitar 25 juta pekerja di sektor aviasi yang terancam PHK.
Sejauh ini, sudah ada lima maskapai di dunia yang bangkrut akibat corona. Lima itu, mulai dari maksapai terbesar di Amerika Selatan LATAM Airlines Group, Avianca, Virgin Australia, FlyBe, hingga Trans State Airlines. Mengingat pandemi virus corona masih terus berlanjut di seluruh dunia, di samping belum tersedianya vaksin serta terbatasnya dana talangan, diperkirakan akan lebih banyak maskapai bangkrut di akhir tahun. Setidaknya, begitulah pengamatan dari presiden Emirates, Sir Tim Clark.
Akan tetapi, di balik semua itu, setidaknya ada empat maskapai di dunia yang diprediksi bakal tetap bertahan apapun kondisinya. Menariknya, dari empat maskapai itu, satu pun tak ada maskapai dari Eropa dan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Penasaran? Dikutip dari rateacabincrew.com, berikut empat maskapai anti bangkrut di seluruh dunia.
1. Maskapai nasional Cina
Tiga maskapai nasional Cina, Air China, Chinese Eastern, dan Chinese Southern dinilai tidak akan bisa bangkrut, tak peduli apa dan bagaimanapun kondisi industri penerbangan global. Pemerintah Cina dinilai punya modal yang kuat untuk membuat tiga maskapai yang mengangkut lebih dari 300 juta dalam setahun ini terus terbang, sekalipun dalam kondisi merugi selama beberapa dekade. Langkah pemerintah dalam membantu keuangan maskapai selama pandemi Covid-19 mungkin bisa jadi contoh nyata untuk membuktikan penilaian tersebut.
2. Qatar Airways
Maskapai terbaik dunia 2019 versi Skytrax tersebut merupakan maskapai nasional Qatar, negara kaya di Timur Tengah. Salah satu dari the three mega carrier Timur Tengah ini, bersama kompetitor abadi dari negeri tetangga, Emirates dan Etihad, dinilai memiliki asset lebih dari US$350 miliar di seluruh dunia, lebih dari cukup untuk membuatnya terus bertahan di tengah pandemi Covid-19 selama beberapa tahun mendatang.
Tak hanya itu, kondisi geo politik di Timur Tengah yang terus memanas, ditandai dengan blokade ekonomi oleh sejumlah negara, praktis, membuat maskapai yang dipimpin oleh Akbar Al Baker ini memegang peran vital dalam menyokong pasokan pangan nasional Qatar dari Turki. Refund tiket senilai US$1,2 miliar kepada hampir 600.000 calon penumpang sejak Maret 2020 lalu mungkin jadi salah satu bukti kekuatan finansial maskapai.
3. Etihad Airways
Maskapai nasional Uni Emirat Arab (UEA) ini dimiliki oleh keluarga kerajaan Abu Dhabi, dimana sang raja kerajaan tersebut didapuk menjadi presiden UEA. Layaknya maskapai lain di dunia, Etihad Airways mengalami kerugian besar.
Namun, pemilik maskapai yang juga mempunyai perusahaan investasi Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dengan kekayaan mencapai US$1 triliun, mustahil rasanya bakal membiarkan maskapai tersebut bangkrut, terlebih bila berbicara reputasi dihadapan maskapai satu negara, Emirates, serta maskapai dari negeri tetangga, Qatar Airways.
Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya
4. Singapore Airlines
Maskapai nasional Singapura ini jadi maskapai terakhir di dunia yang dinilai anti bangkrut. Dalam menghadapi pandemi virus corona, misalnya, pemerintah bersama sejumlah investor setidaknya telah menyuntikkan dana sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp 11.292). Dana talangan tersebut juga menjadi dana talangan terbesar ke maskapai di dunia sebagai upaya penyalamatan.
Dengan berbagai penjelasan di atas, dimana keempat maskapai Asia tersebut dinilai anti bangkrut, layakkah mereka menyandang gelar sebagai maskapai terbesar di dunia dari segi kekuatan finansial?