Masih ingatkah Anda dengan pertemuan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In dan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un pada bulan April kemarin? Ya, peristiwa bersejarah tersebut menjadi tonggak penting hubungan bilateral antara kedua negara tersebut yang diketahui tidak akur sejak gencatan senjata terakhir pada 1953. Setelah menarik kesimpulan untuk berdamai dan melanjutkan proses denuklirisasi Semenanjung Korea, kedua negara sepakat untuk saling membangun satu sama lain.
Baca Juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara
Tidak terkecuali pembangunan bersama di sektor transportasi, Moon ingin melakukan perjalanan melalui eks negara komunis tertutup tersebut untuk mendaki Gunung Baekdu. Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman citylab.com (4/5/2018), respon Kim menanggapi permintaan Moon tersebut sungguh di luar nalar.
“Jaringan transportasi kami (Kora Utara), jujur, tidaklah nyaman,” tukas Kim. Orang nomor satu di Korea Utara tersebut pun tidak canggung untuk memuji sistem kereta cepat di Korea Selatan. Jelas, pernyataan Kim tersebut bertentangan dengan propaganda rezim Korea Utara yang mahsyur dengan kealotannya. Secara tidak langsung, pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Kim ingin meningkatkan ‘derajat’ jaringan perkeretaapian di negaranya. Sebagai bentuk kerja sama, Moon pun mendukung penuh rencana Kim tersebut.
Moon sendiri memiliki rencana “Peta Ekonomi Baru Semenanjung Korea”, dimana modernisasi kereta yang lebih dari sekadar proyek infrastuktur termasuk di dalamnya. Ia menambahkan bahwa rencana tersebut dapat menghubungkan Korea Utara dengan dunia yang selama ini terisolasi.
Sebagai langkah awal, proyek kereta api yang digariskan dalam Deklarasi Panmunjom akan menghubungkan kereta api dari Seoul ke Pyongyang, melewati Kaeseong di Utara. Pada akhirnya, itu akan berakhir di Shinuiju, Korea Utara, yang menghubungkan di perbatasan dengan Dandong, Tiongkok. Namun rencana pembaruan jaringan kereta di antara dua negara tersebut versi Korea Selatan bisa dibilang jauh lebih ambisius.
Mereka mencanangkan jalur tambahan untuk kereta berkecepatan tinggi dari Seoul ke Shinuiju melalui Pyongyang, berbarengan dengan modernisasi enam rel kereta api lainnya yang melintasi Korea Utara. Saat ini, rel di Korea Utara sudah sangat tua sehingga kereta hanya bisa mencapai rata-rata 50 kilometer per jam, dan dikhawatirkan rel akan patah ketika melintas dengan beban berat.
Dengan adanya perkuatan tersebut, maka diperkirakan kereta mampu melaju hingga kecepatan 100 kilometer per jam dan mampu melintas kendati membawa beban yang berat sekalipun. Diperkirakan, keseluruhan proyek tersebut akan menelan dana sekitar US$35 miliar atau yang setara dengan Rp493 triliun.
Baca Juga: Lakukan Perjalanan ke Beijing, Beginilah Kelebihan dari Kereta yang Bawa Kim Jong-un
Dampak yang paling signifikan dengan pengaplikasian rencana pembaruan dan pengadaan jaringan kereta tersebut adalah memungkinkan Korea Utara untuk menjadi jembatan antara kawasan Asia Timur dan Eropa. Pasalnya, persimpangan Shinuiju-Dandong merupakan pusat perdagangan Korea Utara dengan Cina, dimana dengan penambahan jalur kereta berkecepatan tinggi akan sangat membantu untuk memfasilitasi lebih banyak jalur perdagangan, dimana Korea Selatan pun turut berpartisipasi di dalamnya.