Jika kini nama-nama seperti Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, I Gusti Ngurah Rai di Bali, dan beberapa nama bandara besar lainnya kerap menghiasi pemberitaan, pernahkah terpikirkan oleh Anda, kira-kira dimana ya letak bandara pertama di Indonesia? Apakah dewasa ini lokasi tersebut masih berfungsi sebagai bandara? Jika Anda pernah memiliki pemikiran seperti itu, KabarPenumpang.com akan membahas mengenai lima bandara pertama di Indonesia.
Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta
Selain menjadi bandara kelima yang dibangun di Indonesia, bandara yang sudah tidak beroperasi lagi ini juga diketahui sebagai bandara internasional pertama di Indonesia. Memulai konstruksi pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940.
Baca juga: Menara ATC Tintin – Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota
Bandara ini perlahan mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983 dan secara resmi berhenti pada tanggal 31 Maret 1985. Sementara itu, semua penerbangan menuju Bandara Internasional Kemayoran ini dipindahkan ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang kala itu baru saja diresmikan.
Lapangan Terbang Darmo, Surabaya
Bandara pertama di Surabaya ini kini tinggal kenangan, bahkan rekam jejaknya pun sudah tertimbun modenisasi. Lapangan Udara Darmo dibangun pada masa Hindia Belanda di kawasan Goenoeng Sarie Weg (Jalan Gunung Sari) dan diberi nama “Vliegveld Darmo”. Lokasi landasan pacu lapangan terbang yang dibangun pada 1920 itu kini menjadi Jalan Raden Wijaya dan bekas lokasi lapangan terbang menjadi Komplek Makodam V Brawijaya.
Walaupun tidak ditemukan adanya literature mengenai catatan penerbangan dari lapangan terbang militer ini, namun ada satu momen bersejarah yang tersisa dari bandara ini. Tanggal 10 November 1934, “Uiver”, pesawat DC-2 milik maskapai penerbangan Belanda KLM, dalam penerbangan Brisbane, Australia, ke London, Inggris, sempat singgah di Lapangan Terbang Darmo.
Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma (d/h Lapangan Terbang Tjililitan)
Pada abad ke-17, daerah Cililitan merupakan sebuah tanah partikelir bernama Tandjoeng Ost milik Pieter van der Velde. Kemudian sekitar tahun 1924, sebagian tanah tersebut dijadikan sebuah lapangan terbang pertama di kota Batavia. Pada awalnya, lapangan terbang tesebut dinamakan Vliegveld Tjililitan (Lapangan Terbang Tjililitan).
Sejarah lain tercatat di tahun yang sama, dimana lapangan terbang ini menerima kedatangan pesawat Fokker dari Amsterdam yang kemudian menjadi penerbangan internasional pertama di Indonesia. Bertepatan dengan HUT RI yang ke-7, lapangan terbang ini kemudian berganti nama menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk mengenang almarhum Abdul Halim Perdanakusuma yang gugur dalam menjalankan tugasnya.
Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara (d/h Lapangan Terbang Andir)
Bandara yang dibangun pada tahun 1920 ini pada awalnya dinamai Lucthvaart Aflending atau Vliegveld Andir. Nama Husein Sastranegara diambil dari nama seorang pilot militer AURI yang telah gugur pada saat latihan terbang di Yogyakarta tangal 26 September 1946.
Sempat terjadi perebutan antara Jepang dan pasukan pribumi, dimana Jepang pernah menguasai Lapangan Udara Andir pada 1942 hingga 1945. Lapangan udara tersebut juga sempat mengalami keadaan vakum dari tahun 1945 hingga tahun 1949. Sampai akhirnya tahun 1973 lapangan terbang tersebut boleh dipergunakan untuk penerbangan komersial.
Pangkalan Udara Kalidjati, Subang
Ini merupakan bandara pertama yang dibangun di Indonesia, tentu saja tanpa campur tangan Belanda, mungkin bandara ini tidak akan pernah ada. Dibangun pada 30 Mei tahun 1914, bandara ini juga sekaligus menjadi pangkalan udara leluhur bagi TNI AU. Selain lapangan udara, di tempat yang berusia lebih dari satu abad ini juga Belanda pernah mendirikan sekolah penerbangan.
Pembangunan bandara ini berbarengan dengan dibentuknya PVA (Proef Vlieg Afdeling), yaitu suatu Bagian Penerbangan Percobaan dari Pasukan Hindia Belanda (KNIL). Lapangan Terbang Kalidjati pada awalnya hanya berupa lapangan rumput sederhana digunakan untuk lepas landas dan pendaratan pesawat. Sementara pesawatnya ditempatkan di bangsal yang terbuat dari bambu. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan pesawat cepat rusak. Perlahan, Belanda pun mulai melengkapi Lanud Kalijati berikut fasilitas pendukungnya seperti landasan yang lebih kokoh, tower, hanggar, perkantoran, dan pemukiman personelnya.