Husein Sastranegara – Perintis TNI AU Yang Gugur Karena Kecintaannya Pada Dunia Dirgantara

Husein Sastranegara. Sumber: istimewa

Siapa yang tak kenal Bandara Husein Sastranegara? Bandara terbesar di wilayah Bandung ini terletak di tengah kota dan menyuguhkan pemandangan apik ketika hendak mendarat. Sebagai salah satu destinasi wisata yang memiliki banyak akses masuknya, tidak jarang juga wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Kota Kembang melalui jalur udara. Tapi tahukah Anda siapa itu Husein Sastranegara? Apa yang membuat namanya diabadikan sebagai salah satu nama bandar udara?

Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Lansiran KabarPenumpang.com dari berbagai sumber menyebutkan bahwa, Husein Sastranegara merupakan salah satu perintis TNI AU, selain Agustinus Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh dan Iswahyudi. Pria kelahiran Cilaku, Cianjur pada 20 Januari 1919 ini merupakan anak ke 8 dari 14 bersaudara. Anak dari pasangan Raden Demang Ishak Sastranegara dan Raden Katjih Lasminingrum ini menghabiskan bangku pendidikannya di HBS KW III Jakarta pada tahun 1938.

Saat bersekolah di sana, Ia bertemu dengan Koriyati Mangkuatmaja, seorang wanita kelahiran Bandung, 5 Mei 1923, yang kemudian diperistri oleh Husein Sastranegara. Pecahnya perang Dunia II pada tahun 1939 sedikit banyaknya berdampak langsung pada nasib, pendidikan, dan perjalanan hidup Husein. Kala itu Jerman sukses menduduki sebagian besar wilayah Eropa, termasuk Belanda. Tak hanya di Eropa, wilayah jajahan Belanda di Asia juga banyak direbut Jepang, dan saat itu Belanda membutuhkan banyak “amunisi hidup”, oleh karenanya pemerintah Hindia Belanda yang tengah berjaya di Indonesia membuka peluang bagi anak bangsa untuk mencoba karir di dunia penerbangan militer.

Tanpa pikir panjang, Husein langsung mencoba kesempatan itu. Ia rela meninggalkan bangku kuliahnya dan mendaftarkan diri ke Militare Luchvaart School atau yang akrab disebut Luchtvaart di Kalijati, Subang pada tahun 1939. Keseriusan Husein membuahkan hasil mana kala ia menjadi salah satu dari lima murid yang mendapatkan lisensi menerbangkan pesawat. Bersama dua rekannya, Sujono dan Sulstiyo, Husein berhasil meraih Kleine Militaire Brevet atau lisensi menerbangkan pesawat-pesawat bermesin tunggal, sedangkan dua lainnnya, yaitu Agustnus Adisucipto dan Sambudjo Hurip mendapatkan lisensi menerbangkan pesawat yang lebih bergengsi.

Ternyata lisensi yang Husein dapatkan tidak melulu melancarkan pendidikan Husein, terbukti ia gagal meneruskan pendidikan lanjutannya di Sekolah Pengintai yang terletak di Lapangan Andir, Bandung. Kegagalan ini lantas menjadi batu sandungan Husein untuk masuk ke Sekolah Penerbang Darurat di Bandung. Tidak hilang semangat, ia lalu banting stir dan masuk Sekolah Inspektur Polisi di Sukabumi pada tahun 1941.

Kondisi tanah air yang mulai tidak kondusif akibat menyerahnya pasukan Jepang kepada Belanda yang disusul oleh serangkaian revolusi fisik, memaksa Husein yang diketahui pula sebagai mantan anggota Pembela Tanah Air (PETA) mempelopori pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bogor. Bersama Ibrahim Adjie, Husein membangun BKR pada bulan Oktober 1945.

Monumen Husein Sastranegara di Bandung. Sumber: istimewa

Kembali, nasib belum menjodohkan Husein dengan BKR, mana kala ia kembali dipanggil ke dunia penerbangan oleh Suryadi Suryadarma, yang waktu itu menjabat sebagai ketua BKR sektor udara. Pemanggilan tersebut sehubungan dengan kurang staf ahli untuk mengurus Lapangan Udara Andir, yang kini dikenal sebagai Bandara Husein Sastranegara. Pada saat itu, para pejuang berhasil merebut kembali lapangan udara tersebut dari tangan penjajah, dan Husein dipercaya untuk menjaganya.

Sayangnya, belum sempat Husein mengurus lapangan udara tersebut, laporan menyebutkan bahwa lokasi tersebut kembali diambil alih oleh penjajah, bahkan dengan skala yang lebih besar. Akibatnya, para pejuang harus meninggalkan kota Bandung dan mengungsi ke daerah lain yang lebih aman. Husein pun turut mengungsi ke daerah Yogyakarta.

Baca Juga: Gottlieb Wilhelm Daimler – Serap Ribuan Ilmu Jadi Kunci Kesuksesan Bapak Otomotif Asal Jerman Ini

Hijrahnya Husein ternyata mendekatkannya kepada Sang Khalik. Opsir Udara I Husein Sastranegara gugur bersama ahli tehnik pesawat, Sersan Mayor Udara Rukidi saat latihan dengan menggunakan pesawat Cukiu yang jatuh di kampung Gowongan Lor, Yogyakarta pada 26 September 1946. Pesawat tersebut sedianya disiapkan sebagai pesawat cadangan untuk menjemput Perdana Menteri kala itu, Sutan Sjahrir. Sejatinya, pesawat tersebut jatuh karena kerusakan pada bagian mesin yang mengakibatkan pesawat terbakar dan terjun bebas.

Kepergian Husein menuju Sang Pencipta meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, mengingat Ia masih memiliki tiga anak balita dan seorang istri. Ia lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Berdasarkan Keputusan Kasau No. 76 Tahun 1952, namanya kini diabadikan di Bandara Internasional Husein Sastranegara & Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung, untuk menggantikan nama Pangkalan Udara Andir.

Selain itu, atas jasanya terhadap negara, Husein Sastranegara juga dinaikkan pangkatnya menjadi (Anumerta) Komodor Udara atau yang kini setara dengan Kolonel Udara. Tidak berhenti sampai di situ, Husein pun mendapat sejumlah anugrah tanda jasa dari pemerintah, seperti Bintang Garuda, Bintang Satyalencana Perang Kemerdekaan RI, Piagam Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Tahun 1957.