Yang Serba Unik dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang

Berbeda dengan bandar udara (bandara) yang ada di kota-kota besar di Tanah Air, Bandara Abdulrachman Saleh di Kota Malang dari aspek pengelolaan bukan ditangani oleh BUMN PT Angkasa Pura, melainkan dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, setelah sebelumnya dikelola TNI AU. Ditangan militer, bandara yang dikenal juga dengan sebutan Pangkalan Udara punya aspek yang strategis bagi TNI AU, pasalnya di Abdulrachman Saleh terdapat tiga Skadron Udara, satu Skadron Teknik, dan Batalyon Paskhas.

Karena sifatnyanya yang khas dan terkait dengan aktivitas strategis dan taktis militer, nuansa dan aturan militer tetap lekat di bandara yang juga berstatus sebagai lanud. Bila ingin dibandingkan, rasanya bisa disebut bandara ini sebagai versi mini dari Bandara (Lanud) Halim Perdanakusuma di Jakarta. Sebagai informasi, sisi strategis Abdulrachman Saleh dan Halim Perdanakusuma setara bagi TNI AU, kedua obyek vital ini masuk klasifikasi sebagai lanud kelas A, dan dipimpin oleh seorang perwira tinggi bintang satu (Marsekal Pertama).

122834_620

Terkait dengan penerbangan komersial, Bandara Abdulrachman Saleh punya catatan yang unik. Didorong untuk meningkatkan laju transportasi dan wisata ke Malang, akhirnya status Abdulrachman Saleh yang tadinya eksklusif untuk kepentingan TNI AU, mulai dibuka pada tahun 1994. Resminya penerbangan sipil di bandara ini mulai dibuka sejak 1 April 1994 oleh Merpati Nusantara Airlines dengan menggunakan pesawat Fokker F28. Namun akibat sering mengalami keterlambatan (tidak sesuai jadwal) mulai kurun waktu tahun 1996-1997 mengalami penurunan load factor sampai 14,54 persen. Pada tanggal 16 Juni 1997, PT Merpati Nusantara Airlines secara resmi menghentikan kegiatan penerbangannya.

Agak lama vakum dilayani penerbangan komersial, sejak 2005 denyut bandara ini kembali menggeliat dengan masuk maskapai swasta untuk melayani destinasi ke Malang. Pelopor penerbangan adalah Sriwijaya Air, kemudian diikuti maskapai nasional Garuda Indonesia. Dan kini selain kedua maskapai tersebut, Batik Air, Citilink, dan Wings Air sudah mempunyai jadwal penerbangan regular dari dan ke Malang. Pada 30 Desember 2011 penerbangan sipil di Abdulrahman Saleh menggunakan bandar udara yang terpisah dari base ops Lanud Abdulrahman Saleh, maklum sejak 2005 menggunakan fasilitas di dalam Base ops Lanud.

Bangunan terminal lama, kini menjadi terminal khusus kedatangan.
Bangunan terminal lama, kini menjadi terminal khusus kedatangan.

Jika ingin terbang ke Malang, maka jangan harap mendapatkan penerbangan malam. Ini bukan karena alasan bisnis, melainkan di Bandra Abdulrachman Saleh belum dipersiapkan fasilitas ILS (Instrumen Landing System), menjadikan penerbangan paling sore dari bandara ini hanya sampai pukul 17.00.

Landasan
Bandara Abdulrahman Saleh memiliki dua landasan pacu yang pertama untuk pesawat-pesawat kecil seperti Hercules C-130 dengan panjang 1.500 meter, dan yang kedua untuk jenis pesawat besar seperti Boeing 737 dengan panjang 2.300 meter. Ada pemandangan yang berbeda di sekitaran jalur landasan dan apron, selain sarat dengan fasilitas militer, jalur di pinggir landasan terlihat di budidayakan sebagai area tanam sayuran. Bahkan jika berjalan ke arah pintu keluar bandara, dominasi lahan tebu terlihat cukup banyak.

Tidak ada baggage conveyor
Jika Anda tiba di Bandara Abdulrachman Saleh dan menunggu antrian koper dari bagasi (kargo), maka jangan mencari baggage conveyor seperti yang biasa ada di bandara-bandara besar. Di bandara ini semua dilakukan serba sederhana, hanya ada satu lintasan belt pengambilan bagasi. Mungkin mengingat frekuensi penerbangan yang masih rendah, menjadikan penerapan baggage conveyor belum dirasa perlu.

IMG_20170313_205002

Koneksi Angkutas Terbatas
Boleh jadi karena dikelola oleh Pemprov dan berada di kawasan TNI AU, maka untuk urusan transportasi dirasa serba terbatas, alias tidak ada pilihan. Untuk keluar dari bandara, tidak ada angkutan bus bandara seperti halnya bus DAMRI di Jakarta, begitu pun angkot dan ojek dilarang masuk ke area boulevard bandara. Sebagai pilihan satu-satunya adalah menggunakan taksi.

Taksi resmi yang boleh mengantar penumpang dari Bandara Abdulrachman Saleh adalah Taksi Garuda yang dikelola Pusat Koperasi Angkatan Udara (Puskopau). Soal tarif, taksi ini tidak menggunakan argometer namun sudah ada standar tari merujuk ke suatu destinasi. Semisal dari bandara ke kawasan wisata Batu, tarif sudah ditentukan Rp155.000. Sayangnya sebagian besar armada Taksi Garuda masih menggunakan jenis sedan Hyundai keluaran lama yang tak lagi nyaman. Sebenarnya jauh lebih hemat menggunakan jasa Uber, namun saat penulis melakukan kunjungan ke Malang, sayangnya armada Uber tengah menghilang akibat aksi razia Dishub dan tekanan demo dari pengemudi angkot dan taksi konvensional