Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?

Ilustrasi bus London (wired.co.uk)

Perusahaan bus di Inggris kini sedang berada di titik terendahnya selama 28 tahun meski perusahaan teknologi sudah melakukan langkah baru dalam sistem angkutan masalnya. Namun, pihak perusahaan teknologi ini juga memiliki risiko kerugian lebih besar.

Baca juga: Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia

Hal ini membuat Uber ingin menjalankan sistemnya pada bus kota London. Tetapi izin Ubers sebagai angkutan berbasis aplikasi kini tengah dalam banding setelah sempat dicabut untuk tidak beroperasi lagi di London, Inggris oleh Transportation for London (TfL).

KabarPenumpang.com merangkum dari laman wired.co.uk (19/2/2018), bahwa jika pemerintah pusat dan daerah tidak menginvestasikan lebih banyak pada angkutan umum hal ini bisa disampaikan kepada pihak Uber untuk membantu. CEO Uber, Dara Khosrowshahi mengatakan, dirinya ingin Uber menjadi pilihan pasar transportasi.

Sebab kini Uber tidak hanya hadir dengan mobil biasa saja melainkan sepeda, pengiriman makanan dan berkendara secara bersama atau sharing dengan penumpang lainnya.

“Saya ingin menjalankan sistem bus untuk sebuah kota. Ingin membawa Uber ke dekat jaringan bawah tanah untuk memudahkan penumpang mendapatkan kendaraan lainnya untuk berpindah,” ujarnya.

Saat ini yang sudah berjalan selain mobil adalah UberEats yang merupakan layanan pesan antar makanan. Kemudian uji coba sepeda di San Francisco dan layanan bus melalui UberHOP yang sudah tak lagi berfungsi saat ini.

Sebenarnya Uber juga bekerja sama dengan kota-kota di Amerika serikat dan memberikan diskon pada penumpang yang tinggal di daerah dengan transportasi buruk. Tak hanya itu, di Kanada pihaknya sudah menjadi transportasi alternatif yang lebih murah dan berada di jaringan bus.

Menurunnya penggunaan bus dalam 28 tahun belakangan ini sebanyak delapan persen. Hal ini juga dikarenakan London sebagai ibu kota Inggris yang macet sehingga jalan bus pun menjadi lamban dan membuat penurunan pendapatan sebesar £25 juta atau sekitar Rp477 miliar.

Ternyata, adanya masalah penurunan penumpang ini, Uber dan berbagai transportasi basis aplikasi sudah dilirik untuk menjadi solusi dalam perbaikan layanan publik tersebut. Menteri Transportasi Chris Grayling, mengatakan, tahun lalu Uber Style bisa menggantikan layanan bus tradisional.

Dalam membantu peningkatan pelayanan, Uber dan Lyft yang disediakan untuk membantu menyelesaikan masalah ini pada tahun 2017 lalu, terlihat cukup sukses dan tidak mengherankan ketika biaya sebelum uji coba $45 per perjalanan dikurangi sekitar 18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa cara baik menggunakan aplikasi untuk menopang transportasi umum sehingga pengguna hanya perlu memastikan menggunakannya dengan benar.

Selain Uber dan Lyft, Chariot serta Ford juga menjalankan bus komuter di lima kota AS dan melakukan uji coba empat jalurnya di London. Sedangkan Citymapper juga menguji coba busnya di London Timur setelah data menunjukkan rute yang di layaninya.

Uber, Chariot, Citymapper dan angkutan basis aplikasi lainnya harus digunakan untuk menopang angkutan umum hanya jika memang masuk akal dalam jalurnya. Sama seperti Boston menemukan penggunaan aplikasi yang mengendarai sepeda untuk membantu penumpang yang cacat serta bus yang sesuai permintaan bisa berguna untuk menawarkan layanan kereta api pada malam hari bahkan bagi penumpang yang pulang setelah konser atau pertandingan sepak bola, kata Dr Junfeng Jiao, asisten profesor dalam perencanaan masyarakat di University of Texas.

Tapi Uber tidak perlu memasok kendaraan karena otoritas publik dapat meminjam berdasarkan permintaan dan menjalankannya sendiri. Memang, pemerintah tidak perlu bergantung pada Uber untuk mengatasi tantangan ini sebab ada pilihan lain.

Bridget Fox, juru kampanye transportasi yang lestari di Campaign for Better Transport, mengatakan, “mungkin ada daerah dimana pembagian perjalanan dapat berperan dalam melengkapi layanan bus, namun ini mungkin tidak layak secara finansial di wilayah yang sangat kekurangan dan masyarakat membutuhkan layanan bus. Kebanyakan komunitas berpenghasilan minim atau rendah.”

Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini!

Bus yang dikelola masyarakat mengangkut sekitar penumpang di West Dales di Inggris dan Jerman bahkan ada kereta independen yang memiliki jalan bebas hambatan yang berada di samping Deutsche Bahn. Tapi terlepas dari siapa yang menyediakan bus yang lebih baik maka dibutuhkan dana yang cukup menunjang.

“Jika kita tidak menjaga infrastruktur kita dengan baik itu akan menyakiti hidup kita. Kita seharusnya tidak menganggap bus akan selalu ada di sana,” kata Jiao.