Tuai Kontroversi Hadirkan Kereta Cepat, Akankah California Rasakan Nasib Seperti Indonesia?

Sumber: global.handelsblatt.com

Sebagai salah satu operator kereta terkemuka di dunia, Deutsche Bahn dari Jerman diketahui mendapat tawaran kontrak kerja sama dalam merencanakan dan merancang proyek kereta cepat di California. Saat ini, dibutuhkan waktu satu setengah jam untuk menempuh perjalanan sejauh 77 km dari San Francisco menuju San Jose yang letaknya saling berjauhan. Dengan diikutsertakannya pihak Deutsche Bahn dalam proyek pengerjaan kereta cepat ini, diharapkan jarak antar dua kota tersebut dapat dipersingkat menjadi 30 menit saja.

Baca Juga: Thailand Setujui Mega Proyek Kereta Peluru dengan Cina

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman global.handelsblatt.com (21/11/2017), Senat negara bagian California mengatakan proyek ini dijadwalkan rampung pada tahun 2029 mendatang. Lebih lanjut, kehadiran kereta berkecepatan 250 km per jam ini akan menggiring para pelancong yang hendak bertolak dari California menuju Los Angeles Union Station yang terpisah jarak sekitar 530 km dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam saja.

Tidak hanya Deutsche Bahn yang mendapat tawaran kerja sama, DB Engineering & Consulting selaku anak perusahaan dari operator kereta Jerman tersebut juga diketahui memenangkan tender untuk membangun proyek kereta yang membentang dari San Jose ke Bakersfield senilai USD$30 juta atau senilai dengan Rp405 miliar.

Megaproyek pengadaan kereta cepat di California diperkirakan akan menelan dana senilai USD$68 miliar atau setara dengan Rp919 triliun. Diharapkan hadirnya kereta cepat ini dapat membantu meredam masalah kemacetan di Negeri Paman Sam tersebut.

Walaupun masih dalam ranah perencanaan, ada banyak oknum yang menyangsikan proyek ini karena mereka mengklaim California tidak memiliki dana yang segitu besar untuk menyelesaikan megaproyek ini. Para penentang proyek ini juga mengharamkan pembiayaan proyek ini dilakukan dengan cara obligasi. Jika hal tersebut terus berkecamuk, maka bukan tidak mungkin akan mengganggu  kelancaran dari proyek pengadaan kereta cepat ini.

Jika proyek ini rampung, ditargetkan sebanyak 19 juta penumpang setiap tahunnya akan menggunakan layanan ini. Tidak hanya itu, pengadaan kereta cepat ini juga akan memberikan dampak positif kepada lingkungan, seperti penghematan 897 juta liter bensin mobil dan 132 juta liter minyak tanah saat kebanyakan orang meninggalkan kendaraan pribadinya dan mulai beralih menggunakan kereta yang menggunakan energi terbarukan ini.

Untuk modanya sendiri, beberapa manufaktur sudah mengajukan penawaran kepada pihak yang bersangkutan guna menyanggupi pengoperasiannya kelak. Sebut saja Siemens, Alstom, Bombardier, Hitachi, hingga China CRRC diketahui siap untuk mengemban tugas sebagai penyedia kereta cepat di proyek ini.

Jika ditelaah lebih dalam, kasus yang dialami oleh Amerika ini bisa dibilang hampir mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia, yaitu sama-sama masih terbelakang dalam urusan kereta cepat. Tidak seperti negara-negara lain di belahan dunia lainnya, seperti Jerman, Cina, Jepang, hingga Perancis yang disinyalir sudah sangat berpengalaman di bidang kereta cepat.

Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Indonesia menjalin kerja sama dengan Cina dalam proyek pengadaan kereta cepat Jakarta – Bandung. Namun dalam pengaplikasiannya, PT Kereta Cepat Indonesia Cina (PT KCIC) selaku ‘masinis’ dari proyek ini terkesan berjalan di tempat dan masih terbelit soal pembebasan lahan yang nantinya akan digunakan sebagai lintasan dari kereta cepat ini.

Akankah proyek kereta cepat di California ini sama-sama mangkrak seperti yang terjadi di Indonesia?