Sulitnya Menghadirkan Free WiFi di Atas Kereta, Inilah Alasan PT KAI

Setelah kabin pesawat penumpang dan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) menghadirkan layanan free WiFi lewat mobile broadband, lantas bagaimana dengan layanan sejenis di gerbong kereta? Ketimbang di pesawat dan bus, sepertinya menghadirkan free WiFi bagi penumpang masih terasa sulit dilakukan oleh penyedia layanan, dalam hal ini PT KAI (Persero), padahal harga tiket KA eksekutif sudah setara dengan tarif pesawat udara, bahkan tiket KA kebanyakan lebih mahal jika dibanding tarif bus eksekutif.

Baca juga: Mobile Broadband di Atas Rel Kereta

Lewat perbicancangan KabarPenumpang.com dengan Direktur Komersial PT KAI M. Kuncoro Wibowo di Kantor Pusat PT KAI di Bandung (23/3/2017), disebutkan bahwa serangkaian uji coba jaringan free WiFi sudah dilangsungkan sejak beberapa waktu lalu oleh PT KAI. “Tapi harus diakui implementasi free WiFi masih menyisakan beberapa kendala, namun pelan tapi pasti layanan free WiFi pasti akan kami hadirkan di rangkaian KA,” kata Kuncoro. Ia menyebut rangkaian set kereta (train set) masih putus sambung, artinya antar gerbong kerap dipindah atau ditukar-tukar. Semisal saat perbaikan, hanya satu gerbong yang dilepas. Pola ini menjadi menyulitkan dalam implementasi free WiFi.

Lebih detail, Pria yang matang di industri telekomunikasi seluler ini menjelaskan, bahwa penempatan modul antena biasa disematkan di satu gerbong (kereta restorasi), dan saat antar gerbong dilepas atau diganti maka pengaturan kabel antar gerbong biasanya jadi bermasalah. Sebagai langkah perbaikan, beberapa KA kini sudah digelar dalam train set, artinya jika ada perbaikan (maintenance) maka ya harus dibawa satu train set tersebut, tidak lagi dilepas-lepas. Model train set sudah lumrah diadopsi di beberapa negara maju, seperti di kawasan Eropa.

Dari aspek teknologi yang diusung, rasanya sulit pula untuk mengadopsi akses data via satelit, mengingat antena satelit yang menonjol akan bermasalah saat kereta memasuki terowongan. Sebagai gantinya, Kuncoro menyebut bahwa ada satu aplikasi yang dikatakan cukup menarik, bahwa bisa ditaruh dalam sebuah modul di tiap gerbong. “Dengan sinyal yang rendah, teknologi ini kami rasa cukup memungkinkan dipasang pada rangkaian kereta yang ada,” tambah Kuncoro. Seperti saat ini hotspot WiFi suda tersedia di KA Gajayana, namun internetnya masih belum jalan.

Sebagian penumpang KA yang harus terus akfif di laptop, kini masih mengandalkan akses jaringan seluler operator, yanh kadang saat masuk wilayah pedusunan sinyal hanya hadir di level 2G (GPRS). Benchmark PT KAI sendiri untuk urusan hospitality mengacu ke Perancis dan Tiongkok, sementara dari aspek teknologi (IT) tidak ada acuan khusus, tapi umumnya condong ke operator KA di kawasan Eropa.