Soal Kemacetan, Manila Bersiap Ikuti Jejak Jakarta!

Ilustrasi

Terjebak di tengah kemacetan memang merupakan hal yang amat sangat membosankan dan menjengkelkan. Beragam solusi pun sudah dicoba, mulai dari berangkat lebih pagi hingga mencari jalur alternatif, namun hasilnya sama saja. Beralih menggunakan sarana transportasi umum pun bukanlah satu hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat kondisinya yang dikala peak hours selalu dijejali oleh penumpang. Alhasil, Anda sendirilah yang harus menikmati semuanya.

Baca Juga: Sebagai Kota Termacet di Dunia, DKI Jakarta Raih Posisi Ketiga!

Itu dari sudut pandang seorang pengemudi, lalu bagaimana jika Anda melihatnya menggunakan perspektif penumpang? Tentu sensasinya akan berbeda, bukan? Sebagai penumpang, Anda tidak perlu repot-repot memperhatikan jalan, menginjak pedal gas dan rem secara bergantian, hingga memperhatikan sekitar alih-alih ada kendaraan lain yang mencoba menyela di depan mobil Anda. Cukup duduk manis dan silangkan kaki Anda selama kendaraan yang ditumpangi berada di ditengah-tengah kerumuman kendaraan lain.

Namun rasa bosan tak ayal pun menghinggapi. Bolak-balik melihat jam merupakan salah satu aktifitas yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar ketika macet. Ya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman preen.inquirer.net, Manila merupakan salah satu kota yang cocok untuk menguji kesabaran Anda ketika macet, dan pernyataan ini datang dari sudut pandang seorang penumpang. Dapat Anda bayangkan seheboh apa macetnya?

Laman sumber menyebutkan, faktor pertama yang membuat Anda sebagai penumpang cepat stress ketika terjebak macet adalah waktu yang terbuang percuma. Semisal rute dari rumah menuju kantor dengan kondisi jalanan yang sepi hanya memakan waktu 15 menit saja, namun dikarenakan macet, perjalanan tersebut akhirnya memakan waktu satu jam perjalanan. Tentu saja selisih waktu 45 menit yang tercipta tidak bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Fatamorgana lain yang terbentuk manakala diserang macet adalah memesan layanan antar jemput berbasis aplikasi menjadi lebih sulit. Ini dikarenakan para pengemudi yang enggan mengantarkan penumpang (tujuan si penumpang terlalu jauh atau melewati titik macet), atau si penumpang yang sudah terlalu lama menunggu dan akhirnya membatalkan pemesanannya. Kejadian seperti ini sudah tidak aneh di kota dengan populasi mencapai angka 1,78 juta penduduk pada tahun 2016, dan beberapa diantara pelakunya seolah sudah lumrah.

Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia

Mungkin kondisi yang terjadi di Manila tidaklah berbeda jauh dengan yang ada di Indonesia, khususnya kota dengan penghuni lebih dari 10 juta penduduk, Jakarta, dimana deretan lampu rem kendaraan seolah enggan absen menghiasi malam-malam di Ibukota. Jadi, bagi warga Ibukota yang terperangkap macet, Anda tidak sendiri karena Manila merasakan hal yang sama!