Sering ‘Ngaret,’ Minat Warga Singapura Gunakan MRT Terus Menurun

Libursantai.com

Ketepatan waktu pemberangkatan yang dijanjikan oleh para penyedia jasa layanan transportasi memang tidak selamanya dapat dipercaya. Kondisi di lapangan yang akhirnya menjadi jawaban klise para penyedia jasa tersebut jikalau penumpang mulai menanyakan apa yang menyebabkan modanya mengalami keterlambatan pemberangkatan. Bahkan yang lebih buruknya lagi, keterlambatan pemberangkatan ini tidak menutup kemungkinan akan menurunkan kepercayaan penumpang terhadap penyedia jasa tersebut.

Baca Juga: Terowongan MRT di Singapura Kebanjiran? Ini Dia Penyebabnya!

Seperti halnya yang terjadi di Singapura, walaupun keberadaan MRT (Mass Rapid Transit) di Negeri Singa ini dijadikan benchmark oleh Indonesia dalam pembangunan moda serupa, namun pada kenyataannya para penumpang SMRT perlahan mulai meninggalkan moda yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung transportasi di sana. Hal ini terjadi lantaran semerawutnya jadwal pemberangkatan dari SMRT itu sendiri. Bagi sebagian penumpang, hal ini tentu saja dapat mempengaruhi kegiatan yang sudah mereka agendakan.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/12/2017), sebuah survei yang dilakukan antara 30 November hingga 4 Desember 2017 oleh penyedia aplikasi transportasi dan pemetaan umum, Moovit menunjukkan bahwa 64 persen dari 711 penumpang SMRT mengaku membutuhkan waktu tambahan untuk tiba di tujuan. Dengan adanya survei ini, dapat dilihat bahwa minat penumpang untuk menggunakan jasa SMRT mulai turun dari tahun ke tahun, setidaknya dari tiga tahun yang lalu, dimana para penumpang masih bisa menjadikan SMRT sebagai moda yang menyajikan ketepatan waktu.

“Jika saya ada wawancara kerja, saya akan pergi dari rumah 30 menit sebelumnya, padahal waktu tempuh dari rumah ke tempat wawancara hanya 15 menit dengan menggunakan SMRT,” tutur Alina Chua, seorang penumpang SMRT. Hasil survei lain menunjukkan bahwa sekitar 54 persen penumpang menolak menggunakan SMRT jika mereka harus menghadiri suatu acara penting yang mengharuskan mereka datang tepat waktu.

Seorang ekonom dari Singapore University of Social Sciences, Walter Theseira mengatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh Moovit tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap keandalan transportasi umum yang tepat waktu telah mengalami penurunan. Walter juga mengaitkan insiden banjir yang menggenangi terowongan SMRT pada bulan Oktober silam dan tabrakan yang terjadi bulan lalu sebagai salah satu faktor yang bisa saja mempengaruhi penurunan kepercayaan publik terhadap layanan SMRT ini, karena dua insiden di atas akan dengan sangat mudah diingat oleh masyarakat di Singapura.

Baca Juga: MRT Singapura Tabrakan (Lagi), Mengingatkan Insiden 24 Tahun Lalu

Lain cerita dengan yang terjadi di dalam negeri, dimana keterlambatan yang kerap kali menderu KRL Jabodetabek tidak lantas menurunkan minat masyarakatnya dalam menggunakan layanan ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kepadatan yang terjadi di dalam gerbong. Seolah para komuter tidak memiliki opsi lain untuk bepergian ke suatu tempat di Ibukota. Jika menggunakan kendaraan pribadi, tentu saja mereka akan kena macet dan waktu tempuh mereka akan menjadi lebih lama. Sedangkan dengan menggunakan KRL, mereka akan terbebas dari macet walaupun keterlambatan keberangkatan mengintai setiap saat.