Sebagai Kota Termacet di Dunia, DKI Jakarta Raih Posisi Ketiga!

Sumber: istimewa

Pertumbuhan angka kendaraan di jalanan yang pesat secara kasar dapat dijadikan suatu tolak ukur bahwa negara tersebut termasuk salah satu yang berkembang. Walaupun jika ditelisik lebih jauh, tolak ukur tersebut tidaklah melulu benar, melihat banyaknya anomali yang mencuat ke permukaan, seperti murahnya harga cicilan kendaraan hingga buruknya sistem transportasi umum massal. Sudah barang tentu ini merupakan sebuah ironi bagi negara-negara yang dimaksud, salah satunya adalah Indonesia.

Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan

Dari dalam negeri sendiri, sering kali kita jumpai tim marketing sebuah manufaktur kendaraan yang mengiming-imingi biaya cicilan murah terhadap suatu kendaraan yang sebenarnya akan memperparah kondisi jalanan saat ini. Jika dianalogikan seperti  air yang diisi penuh ke dalam suatu gelas, saat ini Indonesia khususnya Jakarta sudah masuk ke dalam tahap membludaknya kendaraan pribadi di jalanan. Tidak bisa dipungkiri kemacetan seakan menjadi teman setia setiap pengendara. Tidak hanya ketika peak hours, kemacetan kini bahkan sudah merata di sepanjang hari.

Ini sudah menjadi PR setiap lapisan masyarakat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Dengan beralih menggunakan sarana transportasi massal, maka itu sudah menjadi satu peran aktif untuk mengentaskan masalah kemacetan yang ada. Bayang-bayang jauh dari kata nyaman dalam menggunakan sarana transportasi massal memang akan terus membelit selama operator layanan tersebut tidak memperbaiki sistem yang sudah ada sebelumnya.

Tidak hanya di Jakarta, kemacetan yang merajalela juga banyak terjadi di luar sana. Inilah yang menjadi motor bagi perusahaan pengembang aplikasi asal Belanda, TomTom untuk membuat sebuah indeks yang menunjukkan tingginya angka kemacetan yang  terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan bermodalkan hampir 19 triliun data poin yang telah terakumulasi selama sembilan tahun, ini merupakan tahun keenam TomTom Traffic Index, sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman corporate.tomtom.com.

Sumber: tomtom.com

Dari hasil yang dirangkum TomTom mengenai 10 kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di dunia tahun 2016 silam, secara mengejutkan Jakarta muncul di posisi ketiga dari deretan tersebut dengan persentase 58 persen. Berada di bawah Mexico City di peringkat pertama dengan 66 persen dan Bangkok di posisi kedua dengan persentase 61 persen, jelas ini bukanlah suatu prestasi yang dapat dibanggakan oleh Ibu Kota. Sebagai tambahan, indeks ini dirangkum TomTom dengan menyasar kota-kota dengan populasi di atas 800.000 penduduk. Di sini, Jakarta berhasil mengalahkan beberapa kota-kota besar di dunia, seperti Chongqing di Cina dengan 52 persen, Bucharest dengan 50 persen, Istanbul dengan 49 persen, Rio de Janeiro dengan 47 persen. dan Beijing dengan 46 persen.

Persentase tersebut merupakan indikator peningkatan waktu tempuh selama perjalanan. TomTom pun menyederhanakan perhitungan tersebut, dan menghasilkan angka 48 menit waktu ekstra yang harus ditempuh para pengendara ketika macet. Itu berarti para pengendara sudah menghabiskan sekitar 184 jam bermacet-macet ria selama satu tahun. Sungguh ironis!

Total 42.073 km jalan yang membentang di Ibu Kota ternyata tidak mampu mengurai kemacetan yang semakin mengular. Inilah yang menjadi fokus pemerintah setempat untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan menahun ini. Sebelumnya, pemerintah setempat menghadirkan dua sarana transportasi berbasis massal yang diharapkan dapat mengurai kemacetan, yaitu TransJakarta dan Commuter Line Jabodetabek.

Baca Juga: Terjebak Macet? Yuk Lakukan Hal Berikut Ini Biar Tidak Stress!

Nampaknya Commuter Line mampu memberikan sedikit perubahan terhadap kondisi jalanan. Banyak orang dari daerah sub-urban beralih menggunakan kereta komuter ini ketimbang mereka harus menghadapi macet di jalanan. Namun tidak bagi TransJakarta, jalurnya yang langsung bersinggungan dengan jalan umum membuat pergerakan moda ini terhambat dengan banyaknya pelanggar yang menggunakan separator agar tidak kena macet.

Belakangan ini, warga Jakarta terpaksa harus “bersakit-sakit dahulu” karena adanya proses pengerjaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang amat diharapkan oleh banyak orang sebagai titik terang untuk masalah kemacetan di kota dengan angka populasi sebesar 10.199.700 per tahun 2016 ini. Rencananya, MRT Jakarta akan mulai beroperasi pada tahun 2019 mendatang. Kita tunggu saja nanti, apakah benar kehadiran MRT Jakarta dapat membawa perubahan terhadap tingkat kemacetan di Ibu Kota, atau bahkan warga Ibu Kota masih tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi?