Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

Richard Brenson dan Awak Virgin. Sumber: sbs.com.au

Sebagai salah satu perusahaan multinasional tersukses asal Inggris, sudah barang tentu keberadaan Virgin Ltd. tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak hanya menaungi bisnis layanan jasa penerbangan, Virgin juga diketahui menggeluti bidang spaceflight, industri seluler, radio, industri musik dan film, hingga perbankan. Dengan banyaknya usaha yang perusahaan ini geluti, tidaklah heran jika sang founder, Richard Branson dianugerahi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris.

Baca Juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial

Lahir di Blackheath, London, pada 18 Juli 1950, Richard merupakan anak sulung dari pasangan seorang Barista bernama James Branson dan pramugari bernama Eve Branson. Walaupun Richard merupakan seorang pengidap disleksia, yakni gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Richard sempat mengalami fase jatuh bangun di bangku sekolah, namun kekurangan yang ia miliki sama sekali tidak mematahkan semangatnya untuk melampaui kedua orang tuanya.

Diketahui, Ia pernah hampir dikeluarkan dari sekolah khusus laki-laki, Scaitcliffe. Kemudian Richard pindah ke Stowe School, ketika menginjak umur 16 tahun, ia dikeluarkan dari sekolah. Hal tersebut lantas menjadi pemicu Richard untuk terus bangkit dan berusaha. Diketahui, ia membangun jaringan bisnis pertamanya berupa majalah remaja bernama “Student”. Produk yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1966 ini mampu meraup keuntungan dari iklan sebesar US$8.000. Keuntungan tersebut lalu ia gunakan untuk membagikan 50.000 eksemplar majalah secara gratis. Dari sinilah bibit-bibit kedermawanan Richard mulai terbentuk.

Layaknya kebanyakan anak remaja, lingkungan hidup Richard pada era 60-an akhir dikelilingi oleh komunitas musik dan obat-obatan terlarang. Dari sinilah ide Richard untuk mendukung bisnis majalahnya muncul, dan mulai mendirikan Virgin, sebuah bisnis audio record mail-order. Keuletan Richard membuahkan hasil yang cukup manis, terbukti dengan terbentuknya toko ritel kaset dan perusahaan rekaman ada tahun 1972.

Sumber: wikipedia

Selain berhasil menggaet Mike Oldfield dengan single berjudul “Tubular Bells” pada tahun 1973, Virgin Records juga diketahui menggawangi beberapa musisi Biritsh terkenal lainnya, seperti Sex Pistols, The Rolling Stones, Culture Club, hingga Paula Abdul. Kesuksesan Richard di dunia rekaman tidaklah membuat dirinya cepat puas, diketahui KabarPenumpang.com dari laman Wikipedia, kali ini, Richard mencoba mengembangkan bisnis dengan membangun agen perjalanan bernama Voyager Group pada tahun 1980. Selanjutnya, ia mengekspansi usaha dengan membuka perusahaan penerbangan bernama Virgin Atlantik di tahun 1984.

Sayangnya, Dewi Fortnuna belum berpihak pada Richard di dunia aviasi. Richard Branson pernah hampir mengalami kebangkrutan di tahun 1992 yang menyebabkan bisnis tersebut di jual ke THORN EMI dengan nilai transaksi sebesar US$1 milyar. Alih-alih menyesali langkahnya, Richard malah kembali ke industri hiburan dan mendirikan the Station Virgin Radio yang diikuti dengan terbentuknya perusahaan rekaman keduanya bernama V2.

Kesuksesan  Richard Branson di industri penerbangan dimulai ketika ia melakukan perjalanan ke Puerto Riko. Penerbangannya dibatalkan, jadi ia memutuskan untuk menyewa pesawat sendiri dan menawarkan tumpangan kepada para penumpang yang terdampar dan menarifkan penerbangan tersebut dengan biaya rendah menutupi biaya penyewaan pesawat tersebut. Sembari mempelajari kembali tentang bisnis di dunia aviasi, Richard kembali mempertaruhkan keuntungan yang selama ini ia raih dengan memasuki bisnis perkeretaapian pada tahun 1993. Tidak disangka-sangka, Virgin Trains memenangkan waralaba untuk sektor Intercity West Coast dan Cross-Country Rail Inggris.

Baca Juga: Elon Musk – Sosok Dibalik Transportasi Ultra Modern

Pada tahun 1996, Virgin mengakuisisi maskapai penerbangan jarak pendek Eropa Euro Belgian Airlines dan merubah identitasnya menjadi Virgin Express. Pada tahun 2006, Virgin Express bergabung dengan SN Brussels Airlines yang akhirnya membentuk Brussels Airlines. Maskapai lainnya, Virgin America, mulai mengudara dari Bandara Internasional San Francisco pada bulan Agustus 2007.

Merupakan suatu hal yang wajar jika nama Richard Branson masuk ke jajaran 10 besar orang terkaya di tanah Britania Raya dan salah satu orang terkaya di dunia versi Forbes. Membawahi lebih dari 200 perusahaan di lebih dari 30 negara tidak ditempuh Richard dengan cara yang instan. Ia harus mengorbankan masa muda dan waktu istirahatnya untuk bisa sesukses sekarang. Salah satu kata mutiara yang dilontarkan langsung oleh The Old Beardie adalah, “Do not be embarrassed by your failures, learn from them and start again.