Rencana Rilis Layanan Bus, Uber Ogah Bentrok Dengan Transportasi Umum (Lagi)

Sebagai salah satu penyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi paling sukses di dunia, Uber lantas tidak cepat puas dengan pencapaiannya hari ini. Diketahui, perusahaan yang menjamur di lebih dari 600 kota di dunia tersebut ingin melebarkan sayap di bidang kendaraan darat berukuran besar, bus dengan target yang dituju adalah Mesir. Adaun alasan paliing vokal yang diutarakan oleh pihak Uber adalah padatnya penduduk dan lalu lintas di Mesir, sehingga dibutuhkan satu moda transpotasi yang dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di negara yang terkenal dengan Piramidanya tersebut.

Baca Juga: Di Kanada Uber Jadi Transportasi Umum Dengan Trayek Khusus

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman qz.com (22/9/2017), Uber optimis dalam menghadirkan layanan bus antar daerah di Mesir, karena menurut data yang mereka miliki, Ibu Kota Mesir, Kairo merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan pengemudi tercepat di dunia. Tecatat, lebih dari 30.000 driver yang bergabung dengan Uber di sepanjang tahun 2016. Hingga saat ini, Uber hanya beroperasi di seputaran kota Kairo saja.

Tidak hanya Uber, layanan ride sharing lainnya, Careem juga menunjukkan angka perkembangan yang cukup signifikan. Baik Uber dan Careem saat ini tengah menyusun strategi agar pengemudi taksi lokal tidak berinvestasi pada startup baru yang menyediakan layanan perjalanan menggunakan bus AC berpenampilan modern, SWVL. Tentu tindakan preventif ini bertujuan agar Uber tidak kehilangan pasar mereka yang bisa dibilang sangat banyak di Kairo. Mengingat potensi pertumbuhan perusahaan tersebut terbuka sangat lebar di sana.

Diperkirakan layanan Uber akan meningkat ke angka 5,2 juta penumpang setiap harinya dalam waktu dekat. Ini merupakan imbas dari harga tiket Metro yang naik dua kali lipat dan bercokol di harga 2 pound Mesir. Jika Uber membuka layanan bus mereka dalam waktu dekat, maka dalam pengoperasian perdananya, mereka dapat meraup untung besar, karena masyarakat masih lebih memilih untuk menggunakan sarana transportasi lain selain Metro Kairo.

Layaknya di dalam negeri, pada awal 2016 kemarin, operator taksi Mombasa di Kenya mengklaim bahwa peluncuran Uber berdampak negatif terhadap perkembangan bisnis mereka. Namun respon berbanding terbalik ditunjukkan oleh para penumpang yang menganggap kehadiran Uber dapat memudahkan mereka berkendara dengan tarif yang lebih murah.

Baca Juga: Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone

Menurut juru bicara Uber, mereka belum mau memberikan bocoran tentang peraturan mengenai bus tersebut, baik dari segi biaya, moda yang digunakan, hingga jadwal pengoperasian. “Kami masih melakukan diskusi lebih lanjut dengan pihak berwenang,” tukas juru bicara Uber tersebut.

Lebih lanjut, pihak Uber juga berharap agar pemerintah mengeluarkan peraturan progresif tentang penggunaan aplikasi di ruang lingkup transportasi, sehingga kejadian menentang layanan berbasis aplikasi seperti yang terjadi di banyak negara tidak terulang kembali.