Proyek MRT: Bor Mustikabumi Telah Tiba di Stasiun Setiabudi

Satu dari empat buah mesin bor jalur bawah tanah proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang bernama Mustikabumi I, telah tiba di Stasiun MRT Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (3/1/2017).Demikian disampaikan Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta, Tubagus Hikmatullah, dalam siaran pers yang diterima Warta Kota, Rabu (4/1/2017).

Hikmat menjelaskan, terdapat empat mesin bor bawah tanah yang digunakan pada paket pekerjaan konstruksi bawah tanah proyek MRT Jakarta.
Mesin bor tersebut digunakan untuk membuat terowongan jalur bawah tanah MRT sepanjang Senayan sampai dengan Bundaran HI. Dua mesin bor bawah tanah (Antareja & Antareja II) dioperasikan dari arah selatan, Patung Pemuda, menuju ke arah utara. Serta, dua mesin bor bawah tanah lainnya (Mustikabumi I & Mustikabumi II) dioperasikan dari arah utara, Bundaran HI, menuju arah selatan.

“Pekerjaan tunneling keempat bor bawah tanah tersebut nantinya akan berakhir di Stasiun Setiabudi yang ditargetkan akan selesai pada bulan Februari 2017,” jelas Hikmat. Dikatakan Hikmat, mesin bor pertama (Antareja) mulai beroperasi sejak bulan September 2015, sedangkan mesin bor kedua (Antareja II) telah dioperasikan sejak bulan November 2015.

Bor Antareja telah melakukan pekerjaan pembuatan terowongan sepanjang 2352 meter dari total panjang 2619 meter, sedangkan untuk Bor Antareja II telah melakukan pekerjaan pembuatan terowongan sepanjang 2124 meter dari total panjang 2614 meter. Saat ini, lanjutnya, mesin bor pertama (Antareja) dan kedua (Antareja II) tengah melakukan pengeboran dari Stasiun Bendungan Hilir menuju Stasiun Setiabudi.

Dua mesin bor bawah tanah lainnya, bernama Mustikabumi I dan Mustikabumi II. Untuk Mustikabumi I telah dioperasikan mulai dari titik Bundaran HI sejak Februari 2016. Sedangkan untuk Mustikabumi II, telah mulai beroperasi dari lokasi yang sama sejak April 2016. Bor Mustikabumi I telah melakukan pekerjaan pembuatan terowongan sepanjang 1396,5 meter dari total panjang 1396,5 meter, sedangkan untuk Bor Mustikabumi II telah melakukan pekerjaan pembuatan terowongan sepanjang 1057,5 meter dari total panjang 1401 meter.

Kedua mesin bor ini bergerak melakukan penggalian membuat terowongan jalur bawah tanah MRT menuju arah Selatan, menembus Stasiun Dukuh Atas hingga berakhir di Stasiun Setiabudi.
Mesin bor pertama dan kedua (Antareja dan Antareja II) dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 104 & CP 105 (Senayan-Setiabudi), yaitu SOWJ Joint Venture yang terdiri dari Shimizu-Obayashi-Wijaya Karya-Jaya Konstruksi.

Untuk mesin bor ketiga dan keempat (Mustika Bumi I dan Mustika Bumi II) dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 106 (Dukuh Atas-Bundaran HI), yaitu SMCC-HK Joint Operation yang terdiri dari Sumitomo Mitsui Construction Company-Hutama Karya.

Keempat mesin bor rata-rata memiliki diameter ± 6,7 meter, dengan total panjang ± 43 meter dan bobot mencapai ± 300 ton, mulai dari bagian kepala (cutterhead) hingga bagian akhir (backup cars).
Sebagai gambaran cara kerja Tunnel Boring Machine (TBM) ini, terang Hikmat, setiap mesin bor melakukan penggalian ke arah depan, kemudian langsung diikuti dengan pemasangan segmen terowongan berupa potongan-potongan precast dengan lebar 1,5 meter, yang akan membentuk cincin (ring) di belakangnya.

“Mesin bor ini mampu bekerja membuat terowongan sepanjang kurang lebih 8-14 meter per hari,” bilang Hikmat. Pekerjaan terowongan jalur bawah tanah MRT ini merupakan bagian dari pekerjaan konstruksi MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus-Bundaran HI) yang sejauh ini telah mencapai 62 persen (per 31 Desember 2016).

Secara umum, pekerjaan konstruksi yang terus berlangsung mencakup area depo MRT, pembuatan pondasi kolom jalur dan kolom stasiun layang, pembangunan struktur boks stasiun bawah tanah, pembuatan terowongan jalur bawah tanah, pembangunan Cooling Tower dan Ventilation Tower (CT/VT), serta pembangunan pintu masuk stasiun bawah tanah. (http://wartakota.tribunnews.com/ – 4/1/2017)