Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?

sumber: istimewa

Walaupun menawarkan kemudahan kepada para penumpang, namun pada kenyataannya kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi bukanlah menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah kemacetan. Ambil contoh di Jakarta, dimana hampir setiap hari ratusan pengemudi ojek online ‘mangkal’ di dekat stasiun demi lebih mendekatkan diri kepada para calon penumpangnya. Kehadirannya yang mungkin dinilai lebih mudah dijangkau oleh calon penumpang berimbas pada kemacetan di daerah sekitarnya.

Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia

Padahal, kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini pada awalnya ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi di jalanan. Sebagaimana yang tertera di laman resmi Uber, menyebutkan bahwa lebih sedikit kendaraan menandakan bahwa lebih sedikit pula bahan bakar dan polusi udara yang dikeluarkan. Namun pada kenyataannya,kehadiran moda tranportasi berbasis aplikasi ini tidaklah membawa pengaruh positif pada volume kendaraan di Ibukota, malah sebaliknya.

Di sisi lain, kondisi transportasi berbasis massal pun bisa dibilang kurang memadai. Dapat dibayangkan Commuter Line Jabodetabek dan Bus TransJakarta yang selalu dijejali oleh penumpang dikala peak hours? Khusus untuk Bus TransJakarta, kondisi tersebut semakin diperparah dengan kemacetan yang dewasa ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka tidak heran jika kebanyakan masyarakat Jakarta dan sekitarnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan moda transportasi berbasis massal.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (12/3/2018), sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute of Transportation of California menemukan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi ride-sharing seperti Gojek, Uber, dan Grab berpengaruh pada pengurangan jumlah penumpang angkutan berbasis massal seperti Commuter Line dan Bus TransJakarta. Dengan begitu, tingkat polusi udara di kota terkait pun secara otomatis akan meningkat.

Untuk kasus pengadaan Electric Vehicles (EV) yang hingga saat ini masih digalakkan di beberapa negara di dunia nampaknya bisa menjadi solusi untuk masalah polusi udara yang sudah disebutkan di atas, namun tidak untuk masalah kemacetan. Banyak pengamat transportasi yang menilai bahwa hanya dengan beralih menggunakan transportasi umum sajalah yang mampu mengentaskan masalah kemacetan saat ini

Menurut Dirut Perum Damri yang juga merangkap sebagai pengamat transportasi, Setia N. Milatia Moemin, penggunaan sarana transportasi umum mampu menampung lebih banyak penumpnag dalam sekali perjalanan. “Semisal ada 100 orang, mungkin butuh 20 kendaraan pribadi (mobil) untuk menampung semuanya. Namun 100 orang tersebut bisa langsung berangkat dengan menggunakan satu buah LRT atau MRT,” tuturnya kepada KabarPenumpang.com, Kamis (1/3/2018) kemarin.

Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Masalah ini benar-benar bergantung pada kesadaran seseorang untuk beralih menggunakan transportasi umum, dan bagaimana pemerintah dapat menarik minat masyarakat Ibukota untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadinya.