Pembangunan (Kembali) Jalur KA Yogyakarta – Magelang, Hidupkan Nostalgia Era 70-an

Jembatan KA Krasak. (Foto: Bramantiyo Marjuki)

Akses kereta api dari Yogyakarta boleh dibilang tersedia lumayan lengkap, baik ke arah barat dan kea rah timur, namun saying akses ke arah utara (Magelang) di Jawa Tengah terputus sejak tahun 1976. Padahal jalur kereta api (KA) ke arah Magelang punya fungsi penting untuk menunjang mobilitas penduduk dan wisata. Jalur KA Yogyakarta – Magelang juga punya nilai historis tinggi, pasalnya jalur ini dibangun oleh Nederland Indiscje Spoorweg Maarscappij (NIS) mulai tahun 1898 dan selesai pada 1905.

Kini ditengah upaya untuk mendorong sektor wisata, terutama akses menuju kawasan Candi Borobudur, pemerintah tengah melakukan berbagai kajian untuk menghidupkan kembali rute yang penuh nostalgia tersebut. Karena membutuhkan investasi yang besar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memperkirakan proses pembangunan jalur KA ini baru akan selesai di tahun 2020 atau 2021. Terkait jalur yang akan digunakan, banyak kalangan meminta agar jalur KA nantinya dapat memakai jalur lama yang terputus. Namun, Budi Karya Sumadi menyebut akan sangat sulit bila jalur KA dibangun mengacu ke jalur lama.

Jalur KA di Magelang tahun 1910.
Jalur KA di Magelang tahun 1910.

“Secara teknis tidak masalah, namun ketika menggunakan jalur lama, masalah sosial dan hukumnya jauh lebih banyak. Jalur lama sudah padat penduduk dan sudah digunakan fungsi-fungsi yang lain. Masalah teknis bagus yang lama, tetapi masalah sosial dan hukumnya banyak sekali,” ujar Budi Karya Sumadi, dikutip dari Kompas.com (27/12/2016). Lebih jauh Budi menyebut anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur KA ini sangat besar, diperkirakan butuh Rp400 miliar untuk satu kilometer. Sementara jalur Yogyakarta – Magelang mencapai 40 kilometer.

Pilihan pembangunan jalur baru mengemuka dengan dua opsi, yakni melalui jalur dari Stasiun Patukan melalui Degan, Tempel, Blondo hingga Borobudur. Jalur ini beriringan dengan jalan provinsi sehingga tidak harus melakukan banyak pembebasan tanah dan membangun rel baru. Sedangkan pilihan lain melalui Sentolo melalui Kalibawang dan sampai ke Borobudur.

Sementara jalur KA lama banyak dipilih karena nilai historis yang tinggi, dan secara teknis sudah teruji. Namun karena sudah dipadati pemukiman dan rel banyak tertindih aspal jalan raya, maka sangat menyulitkan untuk menghidupkan kembali jalur KA lama. Dirunut dari sejarahnya, akhir dari masa perkeretaapian di Yogyakarta – Magelang berakhir saat banjir lahar dingin dari Gunung Merapi menghantam jembatan Krasak diperbatasan antara Jawa Tengah dan DIY pada bulan Desember 1976. Sebelumnya pada tahun 1960 dan 1967 juga pernah rusak terkena banjir lahar dingin. Maka putusnya jembatan Krasak di tahun 1976 tersebut benar-benar melumpuhkan jalur KA Magelang – Yogyakarta.

Meski jalur KA Yogyakarta – Magelang lumpuh di tahun 1976, KA Borobudur Express yang melayani sejak tahun 1973 tetap mengantar penumpang dari Magelang sampai Muntilan hingga tahun 1978. Demikian juga dengan kereta Taruna Express yang khusus mengangkut Taruna Akmil ke Yogyakarta otomatis terhenti dengan ambrolnya jembatan krasak ini. Taruna Express diresmikan oleh Gurbernur Akmil Sarwo Edhi Wibowo pada tahun 1973 untuk melayani para Taruna Akmil yang berlibur ke Yogyakarta.