Pelayanan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Bakal Ditingkatkan dengan Automatic Ticketing System

Toll gate di Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

Belum hilang dalam ingatan bencana erupsi Gunung Agung pada November 2017. Saat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar harus ditutup sementara akibat arah hembusan abu vulkanik, maka akses alternatif yang paling banyak dituju warga dan wisatawan adalah Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Walau boleh dikata dari segi kapasitas dan trafik tidak sebesar Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni, namun lintasan Ketapang-Gilimanuk termasuk golongan pelabuhan kelas utama di Indonesia. “Memang yang dikenal kebanyakan orang adalah lintasan Merak-Bakauheni, namun yang paling banyak disorot justru lintasan Ketapang-Gilimanuk, karena lintasan ini menyangkut akses wisata yang strategis dari dan menuju Pulau Dewata. Jika ada ‘apa-apa,’ orang umumnya langsung memilih jalur Ketapang-Gilimanuk untuk evakuasi,” ujar Elvi Yoza, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang kepada KabarPenumpang.com.

Menyadari peran strategis lintasan Ketapang-Gilimanuk, beragam pembenahan dan peningkatan pelayanan terus dilakukan. Salah satu yang paling mudah dilihat adalah persiapan pengoperasian layanan Automatic Ticketing System (ATS). Seperti pada toll gate di Pelabuhan Gilimanuk yang sudah dipasangi tiang entry sensor pengukur panjang kendaraan.

Penulis dengan Elvi Yoza (kanan).

Dari pantauan kami di Pelabuhan Gilimanuk, empat tiang sensor untuk kendaraan dengan tinggi maksimal 4,2 meter telah terpasang pada empat toll gate. Namun apakah sensor-sensor tersebut telah beroperasi?

Heru Wahyono, Manager Usaha Pelabuhan Ketapang menyebutkan, bahwa sampai saat ini sensor-sensor tersebut masih belum dioperasikan. “PT ASDP bersama mitra vendor kini masih dalam tahap pengujian sistem di lapangan. Dibutuhkan proses penyesuaian terus menerus agar sensor ATS ini nantinya dapat dioperasikan dengan baik,” kata Heru. Ia menambahkan, banyaknya tarif golongan pada kapal juga menjadi tantangan tersendiri dalam penyiapan sistem sensor ini, mengingat sensor bekerja dengan mengukur panjang kendaraan.

Berbeda dengan di Gilimanuk, di Pelabuhan Ketapang justru belum terlihat pemasangan tiang sensor ATS. Lokasi Pelabuhan Ketapang yang berseberangan dengan jalan lintas negara (Jalan Gatot Subroto) menjadi alasan belum dipasangnya tiang sensor. “Kami masih mempertimbangkan pengerjaan instalasi perangkat sensor yang dikhawatirkan bisa menimbulkan kemacetan di jalan raya. Berbeda dengan kondisi di Gilimanuk yang akses jalannya memang hanya mengarah ke area pelabuhan,” papar Elvi.

Mengenai target pengoperasian ATS, Elvi sebagai orang nomer satu di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk berharap semuanya dapat dioperasikan pada musim Lebaran 2018. Namun Ia menambahkan semuanya bergantung pada kesiapan pihak vendor dan keputusan kantor pusat di Jakarta.

Baca juga: Mengenal Bakauheni, Pelabuhan Utama Penghubung Transportasi ke Sumatera

Dengan hadirnya ATS, selain proses transaksi kepada pengguna jasa bisa lebih cepat, akurasi pada penentuan golongan dapat ditingkatkan. Sementara bagi pengelola pelabuhan dan mitra pelayaran, sistem ini ditaksir dapat meningkatkan kinerja pendapatan serta transparansi data keuangan.