‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan

(KSPR.com)

On time performance (OTP) atau ketepatan waktu dalam keberhasilan layanan merupakan salah satu hal penting yang harus diperlihatkan dalam kualitas transportasi. Mungkin bagi Anda lebih sering mendengar OTP ini pada industri penerbangan, padahal OTP tak khusus di dunia penerbangan saja, moda transportasi darat dan laut juga punya parameter OTP tersendiri.

Baca juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, setiap moda transportasi memiliki waktu OTP masing-masing dan bila dilanggar, maka OTP tak lagi berlaku. Sebab, bila terjadi keterlambatan, penumpang yang menggunakan moda transportasi tersebut harus menyesuaikan kembali jadwal mereka untuk sampai ke tujuan.

Pada transportasi darat seperti bus, keterlambatan secara internasional sebenarnya ‘hanya’ diperbolehkan lima menit. Tetapi, karena rata-rata bus menggunakan jalur yang sama dengan kendaraan lain alias berbaur di lalu lintas jalan maka bus kerap terlambat dan memiliki OTP yang buruk dimata masyarakat.

Namun, Bus Rapid Transit (BRT) memiliki ketepatan waktu dimana memiliki infrastruktur jalan yang dibangun secara khusus untuk kinerja waktu lebih baik, layanan kecepatan tinggi dan ini membedakan dengan bus biasa. Tak berbeda jauh dengan BRT, sistem perkeretaapian baik itu MRT, LRT maupun kereta commuter biasanya tidak akan terganggu masalah OTP. Kasus yang berbeda dengan BRT TransJakarta, karena tak semua lintasannya eksklusif, maka TransJakarta belum bisa menerapkan OTP.

OTP pada moda kereta api dipandang lebih baik dari bus, dengan basis rel maka molosnya OTP lebih bisa diminimalisir, hanya saja faktor-faktor teknis masih kerap menjadi batu sandungan, seperti anjloknya kereta dan masalah gangguan persinyalan.

Sedangkan untuk kapal laut dan kapal ferry, OTP juga sangat dibutuhkan, meski tak bisa berlaku secepat pesawat dan kereta, nyatanya OTP menjadi faktor yang amat diperhitungkan, maklum yang dibawa seperti kapal ferry tak hanya manusia, tapi juga berupa kendaraan berukuran besar dengan muatan bahan-bahan penting dan diutuhkan. Di musim Lebaran 2017, PT ASDP Indonesia Ferry memberikan batas waktu satu jam bagi kapal yang baru tiba untuk bongkar muat sebelum berlayar kembali.

Di lingkup maskapai penerbangan internasional, keterlambatan yang masih bisa ditolerir sekitar 15 menit dari waktu keberangkatan yang di jadwalkan. Waktu 15 menit ini biasanya sudah mempertimbangkan faktor-faktor di bandara seperti lepas landas di landasan pacu hingga kendali kontrol lalu lintas udara pada bandara tersebut. Bagi dunia penerbangan yang mengutip tarif lebih tinggi, keterlambatan atas OTP sudah menjadi perhatian serius, dibuktikan dengan peraturan ganti rugi kepada pengguna jasa atas keterlabatan penerbangan.

Baca juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

Seperti baru-baru ini, Garuda Indonesia, mengatakan OTP pada pemberangkatan dan pemulangan jemaah Haji dari dan ke Tanah Air memiliki OTP yang baik. Dimana jika dibandingkan dengan tahun 2016 meningkat 2,34 dan dibandingkan dengan rata-rata capaian OTP layanan haji tahun 2016 sebesar 93 persen.

Hub transportasi yang menjadi tujuan transit juga menjadi satu hal yang bisa membuat moda transportasi memiliki ketepatan dalam kinerja atau OTP nya. Sebab, di dalam sebuah hub pastinya banyak moda transportasi yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke berbagai destinasi, apalagi sebagai hub besar transit penerbangan seluruh dunia. Biasanya OTP menjadi layanan yang paling utama dilakukan hub tersebut.