Ojek Gendong, Kerap Mendapat Cibiran Meski Kadang Dibutuhkan

Sumber: beritadaerah.co.id

Tidak bisa dipungkiri bahwa di jaman yang sudah serba maju seperti saat ini, masih banyak saja orang-orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa dibilang kurang layak. Tuntuan ekonomi yang semakin melambung seolah memaksa setiap orang yang ‘kurang beruntung’ untuk melakukan apa pun yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, seperti contohnya ojek gendong yang pamornya mulai naik pada saat musim mudik Lebaran kemarin.

Baca Juga: Perahu Getek, Riwayatmu Kini

Kehadiran ojek gendong di Pelabuhan Tradisional Jangkar Situbondo ini dilatarbelakangi oleh membludaknya jumlah pemudik asal Madura yang mengadu nasib di Jawa dan Bali. Para pemudik ini nekat menantang maut menggunakan Kapal Layar Motor (KLM) untuk bisa menyeberang ke Madura dan sekitarnya, termasuk Pulau Raas, karena sulitnya sarana transportasi dan tiket yang sudah habis sejak berbulan-bulan sebelum Hari Raya tiba.

Para tukang ojek gendong ini siap membopong para pemudik beserta barang bawaannya dari tepi pantai menuju perahu kecil (tambangan) yang ada pada jarak sekitar 500 meter dari bibir pantai. Dari perahu kecil itulah, para pemudik akan diantar ke KLM yang akan membawanya ke Pulau Raas, Madura. “Setiap mau lebaran, penggunaan jasa ojek gendong memang selalu meningkat. Karena jumlah pemudik yang menggunakan kapal kayu ‘kan juga banyak,” tutur Abdurahman, seorang penyedia jasa ojek gendong, dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com.

Hal lain yang melatarbelakangi hadirnya para tukang ojek gendoong ini adalah karena keterbatasan fasilitas yang ada di Pelabuhan Tradisional Jangkar Situbondo. Bagaimana tidak, minusnya dermaga di pelabuhan ini mengakibatkan perahu kecil tidak bisa bersandar ke tepi pantai. Ya, profesi bak mata koin yang memiliki dua sisi. Sebagian kalangan menilai kehadiran mereka sebenarnya membantu melancarkan proses mudik, tapi sebagian lainnya menilai bahwa mereka hanya memanfaatkan ‘celah’ yang lalu dikonversi menjadi sebuah mata pencaharian temporer.

Terlepas dari semua kontoversi yang menyelimuti pekerjaan ini, para aktor dibalik ojek gendong ini sudah menyiapkan segala sesuatunya yang akan menunjang perjalanan para pemudik. Mereka menjamin baju dan kaki para pemudik tidak basah terkena air laut. Tarif yang ditawarkan pun beragam, mulai dari lima ribu hingga 10 ribu per orang, tergantung ojek gendong mana yang mengambil ‘orderan’ dari penumpang tersebut.

Jika diperhatikan lebih detail, kehadiran ojek gendong tidak hanya populer ketika musim mudik kemarin saja. Di Bandung, beberapa kali penampakan ojek gendong tertangkap pantauan KabarPenumpang.com tengah membantu para pengendara sepeda motor yang terjebak banjir di daerah Gede Bage, Bandung.

Baca Juga: Anyer – Panarukan, Sengsara Dulu Membawa Nikmat Sekarang

Tugas yang diemban oleh ojek gendong di Bandung tidaklah seberat di Situbondo. Mereka hanya membantu mengangkut motor yang tergenang banjir di lajur arah Cileunyi, melewati trotoar yang ukurannya lumayan besar, sehingga mereka bisa berkendara di lajur sebaliknya yang tidak tergenang banjir.

Untuk tarif, biasanya ojek gendong di Bandung ini tidak mematok harga, mengingat kondisi tersebut tidak memungkinkan para penyedia dan pengguna jasa saling melempar tawaran harga. Pekerjaan seperti ojek gendong ini memang kerap kali terlupakan, namun mereka tetap ada untuk melancarkan perjalanan Anda.