Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73

Neerja Bhanot. Sumber: rewireme.com

Berdedikasi tinggi dalam bertugas. Inilah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan seorang pramugari berkebangsaan India, Neerja Bhanot. Nama wanita kelahiran 7 September 1963 ini sontak menjadi perbincangan khalayak ramai manakala aksi heroiknya menyelamatkan penumpang maskapai Pan Am ditebus dengan nyawanya sendiri. Pada saat itu, Pan Am penerbangan 73 dibajak oleh empat pria Palestina yang dilengkapi dengan senjata api, dan mereka mengaku merupakan anggota dari Organisasi Abu Nidal.

Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Kala itu, 5 September 1986, pesawat Boeing 747-121 yang dioperasikan oleh maskapai Pan Am tengah transit di Karachi pada pukul 06.00 waktu setempat setelah melakukan penerbangan dari Mumbai. Ketika hendak melanjutkan perjalanannya ke New York, pesawat yang berisikan 360 penumpang dan 14 awak kabin tersebut disantroni oleh empat pria bersenjata yang langsung menembakkan timah panas ke udara seraya memberikan ancaman.

Salah satu pramugari yang luput dari pandangan sang pembajak, Sherene Pavan, lalu langsung memberikan kode pembajakan kepada pilot di ruang kokpit. Suasana di dalam kabin semakin mencekam ketika Neerja Bhanot dan pramugari lainnya, Sunshine Vesuwala mulai ditodongkan senjata ke arah kepalanya. Dengan mulut AK-47 yang siap memuntahkan pelurunya kapan saja, Sunshine dipaksa mengantar salah satu dari pembajak tersebut untuk bertemu sang kapten penerbangan di ruang kokpit.

Namun, sang pilot ternyata sudah terlebih dahulu meninggalkan pesawat melalui pintu darurat yang ada di bagian atas ruang kokpit. Mungkin di satu sisi kita melihat tindakan kurang terpuji yang dilakukan oleh pilot penerbangan tersebut karena meninggalkan penumpang dan awak kabin lainnya yang sedang menghadapi situasi genting.Tapi tindakan yang dilakukan oleh pilot tersebut ada benarnya juga, mengingat akan lebih banyak korban yang jatuh jika pesawat dibajak ketika tengah mengudara. “Setidaknya kita semua aman di darat daripada dibajak di udara. Setidaknya tiga pilot aman. tiga nyawa dapat diselamatkan,” kenang Sunshine, dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com.

Awalnya, sekelompok teroris ini meminta untuk diterbangkan menuju Siprus dan Israel, lokasi dimana rekanan sesama kelompok militan tersebut dipenjara atas tuduhan teror. Direktur Pam Am kawasan Karachi, Viraf Doroga yang berada di luar landasan berusaha untuk bernegosiasi dengan para teroris dengan menggunakan megaphone. Para teroris ini meminta untuk dicarikan pilot pengganti dan pihak bandara diberikan waktu satu jam, atau mereka mengancam akan membunuh salah seorang ‘sanderanya’. Benar saja, satu jam berlalu dan sang teroris membunuh salah satu warga Amerika dan membuang jenazahnya ke tarmac.

Pan Am Flight 73. Sumber: nathanmagnuson.com

Sang teroris pun mengancam akan membunuh setiap penumpang setiap 15 menit sekali, andaikan pilot pengganti tak kunjung datang. Para pramugari termasuk Neerja diminta untuk mengumpulkan paspor para penumpangnya sehingga mereka bisa mengidentifkasi setiap warga Negeri Paman Sam yang ada di dalam kabin. Singkat cerita, 17 jam sudah aksi pembajakan tersebut berlangsung, dan pasokan listrik sudah mulai habis yang mengakibatkan kondisi di dalam kabin gelap gulita serta pengap.

Aksi heroik Neerja dimulai ketika ia menyebarkan pesan yang ia selipkan di majalah, khusus untuk penumpang yang duduk di dekat pintu darurat. Entah apa yang ada di dalam pesan tersebut, namun sejurus sesaat, ia membantu para penumpang yang mencoba untuk membuka pintu darurat, mengembangkan emergency slide dan menyuruh mereka untuk keluar dan lari. Neerja bisa saja menjadi yang pertama keluar dari pesawat, tapi dedikasinya dia terhadap penumpang mengantarkan ia berdiri di paling belakang antrian.

“Neerja adalah orang pertama yang bisa saja melarikan diri dari pesawat. Ia terlatih dan tahu persis apa yang terjadi. Ia berada di pintu masuk pesawat saat para teroris masuk. Bisa saja pramugari itu lari seperti yang dilakukan pilot. Namun, ia tak melakukannya,” tutur salah satu penumpang selamat, Kishore Murthy, dikutip dari sumber berbeda.

Sumber: tribuneindia.com

Neerja kemudian tewas setelah tubuhnya diberondong timah panas oleh para pembajak yang merangkap sebagai teroris itu. Neerja seolah menjadi tameng hidup demi melindungi dua orang anak kecil yang tengah berusaha untuk kabur dari pesawat nahas tersebut. Lebih menyedihkannya lagi, Neerja meninggal tepat dua hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke 23, sungguh ironis.

Baca Juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Spekulasi mulai beredar ketika banyak orang yang melihat insiden penembakan Neerja, ada yang bilang ia dihujani peluru di tubuhnya, hingga Neerja meninggal setelah ia ditembak tepat di kepalanya. Satu yang pasti, meninggalnya Neerja tidak hanya menggenapkan jumlah korban tewas menjadi 20 orang, tapi pengorbanan yang ia lakukan terhadap penumpang inilah yang mencuri perhatian banyak orang.

Secara anumerta, dia menjadi yang termuda yang pernah menerima penghargaan tertinggi India dalam hal keberanian, yaitu Penghargaan Ashok Chakra. Bagi para saksi mata yang masih hidup hingga kini, mereka tidak akan bisa melupakan sosok Neerja yang ramah, ceria, dan murah senyum. Walaupun itu semua ia lakukan, beberapa saat sebelum ajal menjemputnya.