Menjajal Sensasi KA Gajayana “Next Generation” dari Malang ke Jakarta

Sejatinya tidak ada label “Next Generation” yang disematkan pada pada rangkaian KA Gajayana terbaru. Namun karena baru pada 21 Januari 2017 KA Gajayana mendapat rangkaian keluaran baru, maka atas inisiatif penulis KA Gajayana yang saat ini melaju di rute Jakarta – Malang disebut sebagai Next Generation. KA Gajayana terbaru menggunakan rangkaian K1 2016 dan K1 2017 yang diproduksi PT INKA. Jika rangkaian KA Gajayana sebelumnya (K1 2009) mengadopsi kaca model pesawat, maka di rangkaian K1 2016/2017 kaca sudah mengacu pada desain khas gerbong kereta cepat, jenis yang sama juga diterapkan pada KA Bima.

Baca juga: Stasiun Malang, Pertahankan Gaya Nieuwe Bouwen Bersiap Direnovasi

Karena didapuk sebagai kereta eksekutif dengan rute terjauh di Indonesia (907 km) dan punya durasi 14,5 jam, mennjajal fasilitas KA Gajayana menjadi menarik untuk jadi perhatian. Dengan sentuhan Next Generation, KA Gajayana di rangkaian terbaru lebih enak, nyaman, minim goncangan dan tentunya kursi yang bagus dengan interior yang boleh dibilang clean cerah. Rangkaian kereta Gajayana terdiri dari 6 sampai 8 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan, 1 kereta pembangkit listrik, dan 1 kereta bagasi.

P_20170316_132158

Kereta pembangkit.
Kereta pembangkit.

KabarPenumpang.com pada Kamis (16/3/2017) lalu mencoba naik KA Gajayana dari Stasiun Malang dengan tujuan akhir Stasiun Gambir. Suatu pelajaran yang berharga, jangan anggap bahwa keberangkatan KA akan terlambat (delay) seperti tahun-tahun lalu. Tiga puluh menit sebelum jadwal keberangkatan, rangkaian KA Gajayana masuk ke peron satu. Tak ada aktvitas loading dan penumpang masuk yang berjalan lamban, hingga akhirnya tepat pukul 13.30 kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun.

Melewati jalur single rail yang berusia tua, rangkaian KA Gajayana berjalan pelan keluar dari pusat kota Malang. Dengan kecepatan yang ditaksir tak mencapai 100 km per jam, lepas dari Malang kereta berhtenti singkat untuk mengambil penumpang di Stasiun Kepanjen, Stasiun Wlingi, Stasiun Blitar, Stasiun Tulungagung, Stasiun Kediri, Stasiun Kertosono, Stasiun Madiun, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Kutoarjo, Stasiun Purwokerto, Stasiun Cirebon, Stasiun Jatinegara, dan tiba di Stasiun Gambir pada pukul 04.03 WIB. Arus penumpang yang naik dari stasiun antara lumayan masif, baru setelah Stasiun Yogyakarta relatif jarang ada penumpang yang naik kereta ini.

P_20170316_132439

Bicara soal fasilitas, tentunya ada toilet, 2 TV (depan-belakang), 1 TV di tengah, AC central, reclining seat, sandaran kaki, lampu baca, meja makan lipat per kursi, stop kontak per kursi, dan rak bagasi. Mengenai toilet, KA Gajayana sudah mengadopsi toilet dengan septic tank, sehingga lebih bersih dan mengurangi suara bising ketimbang toilet bolong. Tiap gerbong terdiri dari dua toilet, satu berupa toilet dengan kloset duduk, dan satunya lagi masih berupa kloset jongkok. Ketersediaan air bersih pada wastafel, dan flush pada kloset berjalan baik. Sayangnya di KA Gajayana terbaru tidak dilengkapi dengan pintu otomatis, namun pintu gesernya relatif mudah digerakan.

P_20170316_132353

Baca juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank

P_20170316_132346

Meski tetap mengenakan subclass, namun mengerjakan tugas dengan laptop di kereta ini sangat nyaman. Dudukan meja lipat punya bidang yang pas dengan ukuran laptop 11 inchi. Berlama-lama membuka laptop juga tak jadi soal, mengingat ada stop kontak disamping kursi. Kenyamanan lain yang ditawarkan, mulai pukul 21.00, lampu utama di kabin akan diredupkan, alhasil mata lebih nyaman untuk dibawa keperaduan. Meski begitu ada fasilitas lampu baca di setiap kursi yang mampu menerangi secara baik.

Agak meleset dari harapan, KA ekskutif ini sayangnya belum menyediakan fasilitas free WiFi, padahal dua hotspot telah ditanamkan dan terdeteksi dari smartphone pengguna. Ketika hal ini ditanyakan ke petugas kereta, disebutkan bahwa free WiFi memang akan digelar tapi saat ini masih dalam pengujian. Alhasil menikmati internet di kereta hanya mengandalkan akses seluler operator, yang di beberapa daerah mewah (mepet sawah) dan pedusunan sinyal operator masih sebatas 2G.

Dapur Kering dan Mushola
Tidak seperti gerbong restorasi kereta jaman dulu, gerbong restorasi KA Gajayana dirancang lumayan nyaman. Setiap meja dan kursi makan juga dilengkapi stop kontak listrik, dan dapur disini mengadopsi jenis dapur kering. Ini artinya tidak ada proses masak memasak makanan di gerbong. Setiap paket makanan dan minuman yang ditawarkan untuk penumpang sudah berupa santapan siap saji. Disimpan di dalam freezer, dan jika dihindangkan tinggal dipanaskan lewat microwave.

P_20170316_201959

“Model penyajian seperti diatas memang dipilih untuk menjamin kualitas makanan di kereta higienis,”ujar M. Kuncoro Wibowo, Direktur Komersial PT KAI kepada KabarPenumpang.com. Dari segi penyajian memang masih ada kekurangan, dan kedepan kabarnya PT KAI akan menerapkan penyajian makanan di pesawat udara.

Dapur restorasi KA Gajayana.
Dapur restorasi KA Gajayana.

P_20170316_203053

Bagi umat muslim, menjalankan sholat di KA Gajayana bisa dengan mendatangi ruang mushola yang juga terletak di gerbong restorasi. Faktanya belum besemua KA dilengkapi mushola, meski dibuat dalam bilik kecil untuk satu orang, namun semangat pelayanan PT KAI untuk penumpang harus mendapat apresiasi.

Dari sejarahnya, KA Gajayana resmi beroperasi sejak 28 September 1999. Sempat dirangkaikan dengan kelas bisnis pada awal pengoperasiannya. Nama Gajayana berasal dari seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang bernama Sang Liswa (anak dari Dewa Shima) dan terkenal dengan gelar Gajayana yang sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketenteraman di seluruh negeri. Kerajaan Kanjuruhan ini berpusat di wilayah Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.