MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43

MD-11 Garuda Indonesia.

Sebagai maskapai nomor Wahid di Tanah Air, nampaknya sudah lumrah untuk Garuda Indonesia selalu melakukan perubahan untuk meningkatkan kepuasan para penumpangnya. Bukan hanya dari segi pelayanan secara keseluruhan, tapi Garuda juga telah banyak sekali melakukan modernisasi pada armada yang mereka gunakan. Sebut saja Convair 990, Lockheed L-118 Electra, DC-9, Fokker F28, Airbus A300, Boeing 737, dan McDonnell Douglas MD-11. Diantara semua maskapai tadi, nama MD-11 menjadi menarik karena pernah menjadi kado ulang tahun ke-43 Garuda Indonesia.

Baca Juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Kembali ke 9 Januari 1992, dimana MD-11 pertama kali menginjakkan rodanya di Bumi Pertiwi setelah menempuh perjalanan ferry langsung dari pabrik McDonnell Douglas di Long Beach, California. Ya, inilah pesawat anyar wide-body yang ditunggu-tunggu oleh pihak Garuda Indonesia sebagai kado ulang tahun ke-43 maskapai berplat merah tersebut. Sekilas, penampakan MD-11 ini hampir mirip dengan DC-10, hanya panjangnya saja yang beda 18 kaki 6 inchi, serta ada winglet pada sayapnya.

Diketahui, pesawat MD-11 tersebut merupakan satu dari enam pesanan Garuda Indonesia untuk memperkuat ke-64 pesawat badan lebar armada barunya yang konon menelan investasi senilai USD$3,6 miliar atau setara dengan Rp49 triliun kurs sekarang. Sebenarnya, Garuda memesan 10 MD-11 kala itu, namun diturunkan menjadi enam unit saja. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari majalah Angkasa edisi Januari 1992, tidak ada yang mengetahui secara persis penurunan jumlah pesanan tersebut, namun kuat dugaan performa MD-11 yang jauh dari ekspektasi.

Terbukti dengan pengalaman Swissair yang merasa bobot penerbangan semakin bertambah yang disebabkan oleh modifikasi flaps. Pihak McDonnell Douglas pun tidak memungkiri komplain tersebut, namun mereka menggaris bawahi bahwa Swissair pun turut memegang andil dari meningkatnya bobot penerbangan tersebut. Selain itu, MD-11 juga bisa dibilang gagal mencapai target jarak dan konsumsi bahan bakar seperti yang diinginkan oleh banyak maskapai.

Terlepas dari alasan pengurangan pemesanan tersebut, kehadiran MD-11 di keluarga Garuda Indonesia kala itu untuk menggantikan peran dari enam armada DC-10 yang sudah mulai termakan usia untuk melayani rute penerbangan Denpasar – Jakarta – Hong Kong PP. Pesawat bermesin GE CF6-80C2D1 F milik Garuda Indonesia ini memiliki konfigurasi kabin tiga kelas, termasuk 12 kursi first class, 53 kelas bisnis, dan 235 kelas ekonomi.

Patut diketahui, Garuda Joint Venture (GJV) merupakan sebuah perusahaan leasing melalui kerjasama antara Garuda Indonesia dengan Guinnes Peat Aviation (GPA), dimana perusahaan ini merupakan otak dibalik pemesanan MD-11. Sayangnya, umur GJV tidak cukup panjang, manakala Garuda memilih untuk memulangkan tiga unit pesawat MD-11 kepada GPA pada tahun 1996 dan 1997. Untuk menutupi kekosongan yang ada, Garuda mendatangkan tiga unit MD-11ER pada bulan Desember 1996, Mei 1997, dan November 1997.

Baca Juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Seperti tidak diijinkan untuk mengoperasikan MD-11, krisis finansial di negara-negara Asia Pasifik pada waktu itu berimbas kepada industri penerbangan. Hasilnya, rasionalisasi terhadap keenam unit MD-11 pun dilakukan dan berbuntut pada dikembalikannya semua armada MD-11 Garuda Indonesia ke sebuah perusahaan leasing bernama Boeing Capital Corporation pada bulan Juni dan Juli 1998. Dengan begitu, padam pula karir MD-11 di industri kedirgantaraan Tanah Air.